Selalu Bertengkar

1228 Kata
Rani keluar dari ruangan dokter kandungan. Dia mendatangi Arya yang terlihat langsung bangkit ketika melihat kehadirannya. “Gimana hasilnya?” tanya Arya. Dengan wajah masam, Rani melemparkan secarik kertas ke hadapan Arya. Pria itu menangkapnya dengan gesit. Lalu membaca dengan seksama isi kertas tersebut. “Tidak hamil.” Arya bergumam ketika membaca hasil yang tertera pada secarik kertas itu. “Puas?” sungut Rani. Arya mendongak, menatap adik sepupunya itu dengan senyum sumringah. “Syukurlah kamu enggak hamil,” ujar Arya, raut wajahnya terlihat sangat lega. Rani mendengus kesal. Kemudian berlalu pergi dari hadapan Arya. Arya lekas mengekorinya. “Tadi bundaku telepon, kita disuruh pulang sekarang,” cakap Arya sembari mengiringi langkah Rani yang terkesan cepat. “Lo pulang duluan aja. Gue masih ada urusan di luar,” kata Rani. Arya sontak mencekal lengan Rani. “Emangnya lo mau ke mana? Urusan apa?” tanyanya. “Ya suka-suka gue mau ke mana. Dan apa pun urusan gue, lo enggak perlu tahu,” sungut Rani, dia menyentak tangan Arya, membuat pria itu melepas cekalannya. Arya mencebik. “Oke, fine. Terserah lo mau pergi ke mana. Gue juga enggak peduli,” ujar Arya, menatap Rani dengan raut sengitnya. Arya kemudian berbalik, dia melangkah menuju basemen rumah sakit, hendak mengambil mobilnya yang dia parkir di sana. Tapi kemudian, langkah Arya terhenti. Dia teringat pesan ibunya. “Jaga Rani baik-baik. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, jangan salahin bunda kalau bunda enggak anggep kamu sebagai anak lagi.” Perkataan Bunda Eni beberapa jam lalu seketika terngiang-ngiang di benak Arya. “Sial,” gumam Arya. Sontak dia memutar langkahnya. Dia berlari menuju tempat terakhir kali Rani berada. Tapi Arya sudah terlambat. Rani sudah lenyap, perempuan itu sudah tidak ada lagi di sana. “Argh, mampus gue,” ujar Arya, dia mendesah pelan, jika dirinya tidak bisa menemukan Rani, Bunda Eni pasti akan mengomel panjang lebar padanya. Di sisi lain. Rani berjalan kaki dengan hati yang dongkol. Bermodalkan google maps, Rani menyusuri jalanan agar sampai di rumah sang nenek. Padahal, tertera di ponselnya, jika dirinya berjalan kaki, maka butuh sekitar dua jam lebih untuk sampai di rumah neneknya. Namun, Rani seolah tidak peduli. Dia lebih memilih berjalan kaki untuk meredam emosinya daripada berada satu mobil dengan sosok Arya yang menyebalkan. Terik matahari siang itu membuat Rani tak sanggup melangkah, dia berhenti dengan napas terengah, rasa haus menyerang tenggorokannya. Pandangan Rani kemudian beredar. Dia menatap sekitar, mencari minimarket yang bisa dia singgahi sejenak. Saat Rani berhasil menemukan minimarket di sekitarnya, sebuah klakson dari mobil yang melaju di tepian jalan membuatnya menoleh. Mobil Arya. Rani mendengus melihat mobil itu mengekorinya. “Masuk,” seru Arya dari balik jendela mobil yang dia buka sedikit. Rani melengos, tak memedulikan seruan Arya yang cukup lantang. “Woi, bocah. Buruan masuk.” Arya kembali berseru. Namun, Rani semakin melebarkan langkahnya, menjauh dari mobil tersebut. Arya yang sudah terlanjur dongkol, akhirnya memarkirkan mobilnya di tepian jalan. Lalu dia bergerak cepat mengejar Rani yang mendekati sebuah minimarket. “Lo punya kuping enggak sih?” kesal Arya, wajahnya mengeras, diselimuti emosi. Dia memegang lengan Rani kuat, bahkan Rani sampai meringis kesakitan. “Lepasin tangan gue, sakit,” ujar Rani, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Arya. “Pulang,” tegas Arya. “Gue mau beli minum dulu,” cakap Rani. Mendengar hal itu, Arya langsung melepaskan tangan Rani, membebaskan perempuan itu dari cengkeramannya. Rani menatap Arya kesal, sesaat dia mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah akibat cengkeraman Arya. Setelah itu Rani berlalu masuk ke dalam minimarket. Beberapa saat kemudian, Rani keluar dari minimarket itu. Dia berjalan melewati Arya yang sejak tadi menunggunya di luar. “Lo mau ke mana lagi?” tanya Arya, menghadang jalan yang hendak Rani lewati. “Ya pulang lah, tadi lo nyuruh gue pulang kan,” jawab Rani, menatap Arya sengit. “Mobil gue ada di sana,” cakap Arya, menunjuk mobilnya yang terparkir di sisi kanan dari tempatnya berdiri. “Gue enggak mau pulang bareng lo,” ujar Rani. “Lo jangan kayak anak kecil deh, gue enggak ada waktu buat ladenin sifat manja lo ini,” tutur Arya. Rani tersinggung mendengar perkataan Arya barusan. “Gue bukan—” “Arya?” Suara seseorang terdengar dari tepi jalan raya. Sebuah mobil Tesla model X Long Range berhenti di dekat Arya dan Rani, tak lama kemudian kaca mobil itu terbuka lebar. “Bagas?” Arya mengernyit melihat kemunculan temannya. “Oh, hai. Siapa gadis manis yang cemberut di depanmu ini, Arya?” tanya pria itu, Bagas. Dia menurunkan kacamatanya, menatap Rani dengan senyum simpul. “Ngapain lo ada di sini,” sungut Arya, wajahnya terlihat suram. Bagas terkekeh melihat kekesalan yang tercetak jelas di wajah teman dekatnya itu. “Wow, santai, Bro. Gue tadi enggak sengaja lihat lo. Dan pas gue tahu ada gadis manis di deket lo, akhirnya gue tertarik buat nepi di sini,” terang Bagas. Si playboy kelas kakap itu mengumbar senyumnya pada Rani. Faktanya, setiap wanita yang dilirik Bagas pasti akan langsung jatuh hati pada pesona dan kekayaan yang dimilikinya. Bagas kemudian keluar dari mobil mewahnya itu. Dia melangkah mendekati Rani yang berdiri tak jauh dari Arya. “Kenalin, Gue Bagas,” ujar Bagas, dia mengulurkan tangannya. Namun, sayang sekali. Tangan itu menggantung sia-sia di udara. Rani sama sekali tidak menyambut uluran tangan itu. Bahkan dia memandang Bagas tanpa minat. Arya yang melihatnya tertawa, baru kali ini dia melihat Bagas ditolak mentah-mentah oleh seorang perempuan. Apalagi yang menolaknya adalah bocah kampungan seperti Rani. “Oh, sepertinya aku salah target, ya,” cakap Bagas. Kemudian pandangannya tertuju pada Arya yang tampak mengejeknya. “Udah lo klaim?” tanyanya sambil melirik ke arah Rani sekilas. “Gila lo, ngapain gue klaim cewek kayak dia. Dia adik sepupu gue,” ujar Arya. “Ah, I see. Adik sepupu yang lo ceritain waktu itu ya? Yang lo perkaos kan?” terka Bagas. Dia berbicara seperti itu tanpa menurunkan intonasi suaranya. Beberapa orang di sekitar mereka bahkan sampai menoleh penasaran karena tak sengaja mendengar omongannya barusan. “Suara lo bisa dikecilan dikit enggak?” sungut Arya, menatap Bagas kesal. Cengiran Bagas terukir sempurna. Dia terkekeh melihat Arya yang tampak panik saat orang-orang terlihat penasaran menatap ke arah mereka. Untung saja, tak lama kemudian tatapan itu hayut begitu saja. “Gadis manis. Kamu kalau enggak mau nikah sama dia. Sama aku aja gimana?” ujar Bagas, dia mengerling, kembali menggoda Rani yang sejak tadi hanya diam saja. Rani menghela napas berat. “Kalian berdua emang pantes disebut sahabat sehati. Sama-sama kocak kelakuannya. Minus akhlak semua,” cibir Rani, kemudian berlalu pergi dari hadapan Bagas dan Arya. “Lo mau ke mana lagi. Buruan masuk mobil gue.” Arya kembali mencegah saat Rani berjalan menjauh darinya. Namu, lagi-lagi Rani tak menanggapi perkataan pria itu. Dia diam seribu bahasa, kemudian dengan gesit menyetop sebuah taksi dan lekas masuk ke dalam taksi tersebut. “Ran, keluar. Buruan keluar.” Arya mengetuk-ngetuk pintu taksi itu dengan kasar. “Pak, buruan pergi, Pak. Dia mau jahatin saya,” ujar Rani pada si sopir sambil menahan pintu taksi agar tidak dibuka oleh Arya. “Baik, Mbak,” ucap si sopir taksi yang untungnya dapat diajak kompromi. Setelah itu, taksi yang Rani tumpangi melaju pergi tanpa bisa Arya cegah. “Ah, sial,” umpat Arya. “Adik sepupu lo menarik juga ya,” komentar Bagas, dia berdiri sambil melipat kedua tangannya, menatap kepergian Rani dengan senyum menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN