Sisi Gelapku Yang Tidak Kamu Ketahui

1289 Kata
Arya mengembuskan napas berat. Rasa bosan sudah mencabik-cabik kesabarannya. Dia tak tahan lagi menunggu Rani yang sedang memilih gaun untuk pernikahan mereka yang sialnya dipercepat dari rencana sebelumnya. Semua ini gara-gara ayahnya Rani yang memiliki koneksi sehingga berkas-berkas pernikahan yang dibutuhkan untuk mendaftarkan pernikahan mereka di KUA sudah siap semua. Padahal baru lima hari yang lalu mereka mengurus segalanya. “Tidak ada resepsi, tidak ada undangan, tidak mengundang banyak orang,” ucap Arya pagi tadi saat sedang berdiskusi tentang pernikahannya dengan Rani. Permintaanya itu sempat ditolak mentah-mentah oleh Rendy—kakaknya Rani. Akan tetapi, setelah perdebatan alot antara dua pria itu, akhirnya Pak Radit—ayahnya Rani menengahi, beliau setuju dengan permintaan yang Arya ajukan. Lagi pula, Pak Radit juga tidak mau banyak orang tahu bahwa putrinya menikah karena suatu insiden yang baginya sangat tabu. “Kak Arya.” Suara Rani memecah lamunan. Dia berdiri di depan Arya. Arya mendongak, menatap sosok Rani dengan raut malasnya. “Udah selesai?” tanya Arya. “Udah,” jawab Rani. “Baguslah,” ucap Arya, kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan keluar secepat mungkin, dia sudah merasa pengap berada di butik itu selama kurang lebih dua jam lamanya. Setelah masuk ke dalam mobil, Arya langsung menancap gasnya. Rani sempat tersentak karena dia belum selesai memasang sabuk pengamannya dengan benar. “Kak Arya, pelan-pelan,” ujar Rani. Dia tidak begitu bisa menyesuaikan diri di mobil yang melaju sangat cepat, hal itu akan membuatnya merasa mual. Namun, Arya yang melihat Rani tampak pucat, dia justru menyeringai senang. Sebuah ide jahil pun seketika terlintas. Arya semakin menaikkan kecepatan mobilnya. Untung saja jalan tol saat ini sedang sepi, tak begitu banyak kendaraan berlalu lalang. Rani mengeratkan pegangannya pada hand grip mobil, tubuhnya sudah berselimut keringat dingin. Rasa pusing menyerang kepalanya, perutnya juga mulai dilanda mual. “Kak Arya, please, jangan ngebut-ngebut,” pinta Rani. Tapi, Arya kembali tak menghiraukan permintaan calon istrinya itu. Rani yang sadar kalau Arya tengah mengerjai dirinya sontak berkata, “Kalau lo enggak pelanin kecepatan mobilnya, jangan salahin gue kalau gue muntah di mobil lo.” Ancaman Rani berhasil membuat Arya langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Dia memang paling takut jika mobil mahal kesayangannya itu kotor. Setelah mobil Arya berhenti di tepi jalan tol. Rani langsung keluar dari mobil tersebut dan memuntahkan semua makanan yang ada di lambungnya. “Menjijikkan,” komentar Arya, menatap Rani penuh ketidaksukaan. Rani pura-pura tak mendengarkan perkataan calon suaminya itu. Dia memilih abai daripada hatinya semakin tersayat perih dengan kata-kata sadis Arya. "Lo ngapain sih tiba-tiba muntah? Lo salah makan?" tanya Arya, masih menatap Rani dengan raut jijik. "Lo enggak sadar diri banget ya jadi orang," sungut Rani. "Gara-gara lo bawa mobil ngebut, gue jadi mual," tukasnya. Arya mencebik. "Lebay," gumamnya. Rani menghela napas berat mendengar komentar Arya barusan. “Jangan-jangan ...." Wajah Arya tampak memucat saat dia terpikirkan suatu hal. “Lo muntah-muntah bukan berarti lo hamil kan?” tanyanya kemudian. Mata Rani mendelik saat Arya tiba-tiba mengutarakan asumsinya itu. “Kita baru sekali ngelakuinnya, gimana bisa lo langsung hamil secepat ini,” lanjut Arya. Wajahnya seketika berubah panik. Dia merasa belum siap menjadi seorang ayah. "Lo enggak mungkin hamil anak gue kan?" timpalnya. “Gue baru tahu imajinasi lo setinggi ini. Siapa yang hamil anak lo,” cibir Rani. “Lagian ogah banget gue mengandung benih lo. Menggelikan,” imbuhnya. Setelah itu, Rani berlalu dari hadapan Arya, dia masuk ke dalam mobil dan lekas memasang sabuk pengamannya sebelum Arya melajukan mobilnya secara mendadak seperti sebelumnya. "Gue belum selesai bicara, Ran," ujar Arya, dia menyusul Rani yang sudah duduk dengan tenang di samping kursi kemudi. “Lo beneran enggak hamil kan?” Arya kembali bertanya saat baru masuk ke dalam mobilnya. Rani yang geram pun menjawab dengan penuh emosi. “Gue enggak hamil sialan. Lo bisa enggak sih jangan tanya-tanya terus, sakit telinga gue dengernya.” “Gue cuma mau pastiin kalau lo enggak hamil,” kata Arya. “Gue belum siap jadi ayah, Ran,” lirihnya. Rani mendengus. “Jadi kalau gue beneran hamil. Lo mau suruh gue gugurin darah daging lo sendiri?” sungut Rani. “Jadi lo beneran hamil?” Arya terbelalak mendengar perkataan Rani barusan. Padahal Rani berkata seperti itu hanya untuk membuat sebuah perumpamaan. “Astaga, Gue enggak hamil! Harus berapa kali gue bilang ke lo. Gue enggak hamil.” “Gue enggak bisa percaya gitu aja. Gue harus pastiin secara akurat kalau lo enggak hamil. Kita pergi ke dokter kandungan sekarang, biar gue yakin kalau lo beneran hamil atau enggak,” cakap Arya, kemudian melajukan mobilnya dengan pikiran yang campur aduk. *** Jean Arsila, wanita berkulit putih bersih itu keluar dari kamar mandi. Rambutnya terlihat basah usai mandi. “Besok aku akan pergi ke Inggris selama dua bulan,” kata seorang laki-laki, dia adalah Reymond Herculas. Kakak tirinya Jean. “Dua bulan?” Jean menoleh pada pria itu. “Kamu akan meninggalkanku selama itu?” tukasnya. Rey tersenyum miring. “Kenapa? Kamu takut kesepian?” tanyanya. “Bukankah kamu punya pacar yang cukup tampan? Kamu bisa memintanya memuaskanmu jika kamu tidak sabar menanti kepulanganku,” tutur Rey. Jean menghela napas pelan, dia lantas merebahkan tubuhnya ke atas sofa. “Sialnya Arya bukan pria buruk sepertimu. Dia tidak pernah mau menyentuhku sebelum dia menikahiku,” terang Jean. “Jadi maksudmu, dia masih perjaka?” tanya Rey. “Bisa dibilang begitu. Karena selama lima tahun pacaran dengannya, aku sudah berulang kali menggodanya, tapi sayangnya aku selalu gagal meruntuhkan pertahanannya,” papar Jean, senyumnya terukir miris. Rey tertawa renyah, menertawakan kemirisan adik tirinya yang selama ini selalu menjadi partner pemuas hasratnya. “Aku jadi penasaran, bagaimana jika kalian menikah, lalu dia sadar kalau ternyata kamu bukan seorang wanita perawan?” tutur Rey. “Dia mungkin hanya akan kecewa sesaat. Lagi pula, baginya pernikahan itu sangat sakral. Jadi, dia tidak mungkin akan menceraikanku walaupun tahu kalau aku bukan perempuan suci yang seperti dia pikirkan,” cakap Jean. “Tck, kamu sangat licik, little girl,” kata Rey. “Kamu yang mengajariku,” ujar Jean. Rey terkekeh. Pria itu kemudian melangkah maju, dia berdiri di depan Jean. Kemudian mensejajarkan wajahnya di depan muka adik tirinya itu. “Mau melakukan permainan lagi sebelum aku pergi selama dua bulan?” tawar Rey. Jean menyeringai, dengan gesit dia langsung menyambar bibir kakak tirinya itu, memimpin pergulatan panas yang kembali terjadi. “Apa tidak masalah jika kita melakukannya sesering ini?” tanya Rey. “Kenapa? Apa yang kamu takutkan hm? Bukankah kamu senang?” Jean masih bergerak lihai di atas tubuh sang kakak tiri. “Aku senang, tapi juga khawatir jika kamu hamil dan mengandung anakku,” tutur Rey. Jean tertawa. “Kita sudah bertahun-tahun melakukannya. Dan see, aku tidak pernah mengandung anakmu,” cakapnya. Rey tersenyum. “Kalau begitu aku tidak akan menolak, lakukan apa pun yang kamu mau, little girl. Aku tak akan melawan. Aku pasrah di bawah kuasamu,” tuturnya. Senyum Jean terukir. Dengan sangat senang hati dia memimpin pergulatan panas itu. Tentang Jean dan Rey. Mereka adalah saudara tiri beda ibu. Dulu saat Rey berusia tiga tahun, ayahnya menikah lagi usai bercerai. Pria berkebangsaan Italia itu menikahi seorang wanita Asia. Kemudian lahirlah Jean, seorang gadis kecil yang lambat laun tumbuh menjadi gadis cantik. Hubungan terlarang Jean dan Rey terjadi saat kedua orang tua mereka pindah ke Inggris sembilan tahun silam. Rey yang memang memiliki kelainan seksualitas tanpa sadar menggiring Jean pada jalan yang salah. Jean yang dulunya adalah gadis cantik yang polos dan lugu, kini menjadi wanita dengan pikiran yang terlalu terbuka. Dia memandang dunia hanya sebatas kesenangan saja. Apalagi selama ini hidupnya sangatlah mudah, tak ada rintangan berat yang mengusiknya. Terlebih dia memiliki paras yang cantik, hal itulah yang membuatnya mendapatkan keistemewaan sendiri di kalangan masyarakat tanpa susah payah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN