Bingung

1295 Kata
“Bagaimana, Kamila?” Mama Dian meminta pendapat Kamila. Meskipun tak mungkin juga apa yang diutarakan Kamila akan menjadi pertimbangannya. Kamila balik memandang Arzan. Tetapi, lelaki itu hanya terdiam. Kamila ingin berteriak, menyuruhnya menolak permintaan mamanya. Tak mungkin Kamila yang menolak, sebab nasib Naura menjadi taruhannya. “Kamila?” Kepala Kamila tertunduk. Ia sendiri tampaknya yang harus memutuskan. Arzan sama sekali tidak membantunya. “Saya, menurut saja apa yang Mama anggap terbaik.” Kamila pasrah. “Kamu, Zan?” Mama Dian beralih menuntut jawab anak pertamanya. “Terserah Mama,” jawab Arzan pendek. Ia menyerah pada kehendak mamanya, sebab Nadine tetap menolak meresmikan hubungannya. Kamila menangkap nada apatis di suaranya. Sebaliknya, Mama Dian menepuk tangannya sekali dengan bibir tersenyum lebar. Puas rupanya ia dengan kepasrahan Kamila dan Arzan. Wanita paruh baya yang gesit itu, segera sibuk mengatur persiapan pernikahan, meskipun Kamila sudah meminta acara sederhana dan cukup di rumah saja, tetap saja Mama Dian menyewa jasa Wedding Organizer untuk membantunya menyiapkan semuanya. Ketika dimintai daftar tamu yang akan diundangnya, Kamila hanya memberikan beberapa nama keluarganya serta Iffa, sahabatnya. Dua minggu kemudian, Arzan dan Kamila pun mengikatkan diri dalam janji perkawinan. Kamila menjalani semua prosesnya dengan perasaan gamang. Semua tampak samar di benaknya. Tak ada sedikit kesan pun yang tertinggal di dalam benak pikirannya. Sepanjang acara, ia memusatkan mata dan perhatiannya pada Naura. Akan tetapi, gadis kecil itu malah mengingatkannya pada sosok Ardian. Ia tidak merasa bersalah, namun hatinya pedih juga sebab harus menggantikan tempat Ardian di hidupnya dengan lelaki lain. Selepas semua tamu pulang, Kamila menyendiri di kamarnya. Ia sengaja membiarkan Naura yang kelelahan, tidur sejak sore di ranjangnya. Dirinya terlampau sungkan menghabiskan malam pertama sebagai isteri Arzan di rumah mertuanya ini. Lelaki itu pun sepertinya tidak mempermasalahkan. Ia malah menyuruh Kamila beristirahat, dan memanfaatkan malam itu dengan berbaring di sofa kamar, menonton TV yang menyajikan siaran langsung pertandingan sepak bola. Kamila tidak peduli. Ia memilih memejamkan mata, di samping Naura. Arzan pun tahu diri. Ia menonton dengan menggunakan headset agar tidak berisik dan mengganggu tidur Kamila dan Naura. Esok paginya, Arzan mengajak Kamila dan Naura pindahan ke rumahnya. “Kenapa nggak ke rumahku aja, Kak?” tanya Kamila. Sungguh ia merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri. “Rumahmu terlalu jauh dari kantorku. Harus melewati daerah macet pula.” Arzan berusaha mencari jawaban yang paling logis. Meski alasan utamanya adalah ia tak mau berada di tempat yang dipenuhi bayangan Ardian. Kamila mengalah. Ia pun mengemasi barang-barangnya dan Naura. Rumah Arzan terletak komplek cluster yang hanya terdiri dari sepuluh hunian. Kamila dulu sering berkunjung bersama Ardian. Kediaman Arzan merupakan bangunan berdesain modern dua lantai. Ada dua kamar tidur di lantai bawah, ruang keluarga, dapur, serta ruang makan di teras belakang. Arzan sengaja menjadikan teras depan sekaligus sebagai ruang menerima tamu, dengan meletakkan kursi-kursi yang nyaman. Sedangkan di lantai dua, ada dua kamar tidur juga, ruang cuci, serta taman rooftop. Tak banyak furnitur yang mengisi ruang-ruang yang didominasi warna putih tulang tersebut. Sebenarnya lebih praktis bagi Arzan jika ia tinggal di apartemen. Namun, ia yang suka berada di ruang terbuka, tak nyaman berada dalam kungkungan tembok, dan di ketinggian pula. Makanya ia lebih memilih membeli rumah tapak, yang memiliki halaman cukup untuk mengoleksi tanaman hias dan memelihara ikan koi di kolam kecil di teras belakang. Di antara mereka bertiga, Nauralah yang paling gembira dengan kehidupan barunya. “Boleh aku kasih makan ikannya?” Ia memohon pada Arzan. “Bolehlah! Tapi, kalau sudah selesai, jangan lupa cuci tangan.” Arzan memberikan toples plastik berisi makanan ikan. Kamila duduk di sofa ruang tengah. Ia bingung harus berbuat apa. Koper dan tas-tas nya masih tergeletak di dekat pintu. Ia tak tahu harus ditempatkan di mana. Proses pernikahannya yang tak biasa, dan sikap Arzan yang datar, membuatnya tak merasa menjadi ratu di rumah ini. Ia takut dianggap lancang, sehingga ditunggunya saja arahan Arzan. Untunglah lelaki itu peka juga. Dibawakannya barang-barang Kamila ke kamar utama, dan milik Naura ke kamar di sebelahnya. “Tiga pintu lemari itu kosong!” tunjuk Arzan. “Ya.” Kamila menyeret kopernya mendekati lemari pakaian yang dibuat tinggi menempel sepanjang dinding kamar. “Ada barang-barang di rumahmu yang mau di bawa kesini?” tanya Arzan. Kamila teringat dokumen-dokumen pribadi dan perhiasannya. “Ada, sih.” “Mau diambil sekarang?” “Nanti saja, Kak!” Kamila menolak halus. Ia ingin kenangannya bersama Ardian tetap ditinggal di sana. Kamila membenahi barang-barang Naura terlebih dahulu, baru barangnya. Arzan menemani Naura bermain. Entah mereka sedang main apa hingga suara tawa Naura begitu nyaring terdengar. Sejenak Kamila teringat masa-masa Ardian bersenda gurau yang sama dengan Naura. Mendadak hidungnya memanas, dan matanya berkabut. Kamila duduk di tepi tempat tidur Arzan. Ia mencoba meyakini bahwa Ardian adalah kisah lalu yang tak mungkin kembali, sedangkan Arzan adalah dunianya kini dan masa depannya. Namun, tetap saja ia belum teryakinkan. Ditariknya nafasnya panjang-panjang untuk meluangkan dadanya yang sesak. Beberapa saat kemudian, ia mulai bisa menguasai dirinya lagi. “Mama!” seru Naura. Kamila buru-buru menyeka genangan air di ujung matanya. “Iya?” Naura mendekatinya. “Aku lapar, Ma!” Kamila mengajak Naura ke dapur, memeriksa bahan makanan yang mungkin bisa ia masak. Tetapi, lemari es besar itu kosong. Hanya ada sisa makanan tak jelas, dan sayuran yang telah menguning layu. Lemari yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan kering juga tak ada isinya. Bahkan beras pun tak nampak. Sejenak Kamila bingung. Ia mencari Arzan di dalam rumah. Tapi, tak ada. “Om Jan kemana, Na?” tanya Kamila pada Naura. “Ayah! Sekarang manggilnya ayah! Bukan Om Jan lagi!” Naura protes. “Ayah?” Kamila tertegun. Agak canggung ia mendengar Naura memanggil Arzan dengan sebutan ayah. “Iya. Om Jan kan jadi sudah jadi ayahku.” Naura tersenyum sambil mengerjapkan matanya. Kamila jadi gemas dibuatnya. “Oke! Kemana ayahmu itu?” “Nggak tahu.” Kamila mencari ke lantai dua dan terakhir di teras depan. Lelaki itu tak terlihat juga. Dulu, Ardian tak pernah meninggalkannya seperti ini. Ia selalu bilang jika hendak pergi keluar rumah, walau hanya ke warung terdekat. Tak lama, terdengar suara motor memasuki carport. Arzan pun muncul menenteng kantung plastik berisi kotak-kotak karton yang lalu diletakkan di atas meja makan. Kamila lupa Arzan memiliki sepeda motor yang tersimpan di garasi. “Dari mana, Kak?” Kamila bertanya dan mendekat. “Cari makanan.” Kamila menggigit bibirnya. Ada rasa heran dan juga kecewa. Ia tak habis pikir kenapa Arzan tidak meminta isterinya untuk mengurus makanan. “Kenapa nggak suruh aku aja, Kak?” tanya Kamila tak enak hati. “Nggak apa-apa. Kamu kan tadi lagi sibuk beres-beres.” Jawaban Arzan masuk akal dan cukup menenangkan hati Kamila. Ia pun menyiapkan piring-piring untuk wadah makanan yang dibeli Arzan. Sembari membuka kemasannya, Kamila berharap Arzan membeli makanan yang disukai Naura dan dirinya. Dan, harapannya terwujud. Mama Dian sering mengajak anak, menantunya dan cucunya makan bersama. Mereka jadi hapal makanan favorit satu sama lain. Dan, Arzan rupanya ingat untuk menu masakan oriental, Naura menyukai mie goreng wortel dengan telur serta pangsit goreng, sedangkan Kamila senang sapo tahu dan juga dimsum. Kamila tersenyum sendiri menyaksikan semuanya. Ia lega, di balik sikap datarnya, Arzan diam-diam ternyata memahami dirinya dan Naura. Malam pun akhirnya tiba. Seusai menemani Naura yang tertidur cepat di kamar barunya, Kamila bingung harus bagaimana. Ini adalah malam kedua pernikahannya. Tetapi, sehabis makan, Arzan malah sibuk sendiri di meja makan dengan laptopnya. Tidakkah ia memiliki hasrat senormalnya pengantin baru? Kamila nekat menghampiri Arzan. Sebagai isteri ia merasa berhak mendekati suaminya. “Kak, sudah malam. Nggak tidur?” “Hmm… Kamu tidur aja. Nanti aku tidur di kamar atas.” Jawaban Arzan mengejutkan Kamila. Kamar atas? Maksudnya apa? “Eeeeh… Kita nggak tidur sekamar, Kak?” tanya Kamila heran. Arzan menggeleng. Kamila bertambah bingung. Apa yang salah dengan dirinya sehingga suaminya tidak mau tidur bersamanya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN