Kamila kecil hati. Bukan berarti ia sangat berhasrat menginginkan Arzan. Tapi lebih karena perasaan serupa anak angsa buruk rupa yang tak diajak bergabung dengan kawanan bebek untuk berenang di danau. Tak nyaman rasanya jika diri kita tidak diinginkan.
Arzan sudah berstatus sebagai suaminya. Lelaki itu berhak atas dirinya. Tetapi, mengapa ia seolah tak membutuhkannya. Sementara, tanpa bermaksud sombong, Kamila percaya diri dengan fisiknya. Ia memiliki wajah yang menarik mata dengan kulit halus mulus. Tubuhnya juga ramping terawat baik biarpun pernah hamil dan melahirkan.
Kamila resah sendiri. Alih-alih pergi ke kamar, ia malah duduk di seberang Arzan.
“Salah aku apa, Kak?” tanya Kamila lirih.
Arzan mendongak. Ia menatap Kamila yang gelisah di hadapannya.
“Kamu nggak salah apa-apa.”
“Tapi, Kakak kok nggak mau …” Kamila tidak menutaskan kalimatnya. Mendadak ia malu setengah mati.
Arzan paham maksud Kamila. Hatinya merasa tak enak. Tapi, ia tak mampu menipu dirinya dan memperlakukan perempuan baik di depannya semena-mena.
“Kamila, aku minta maaf sebelumnya kalau sudah membuatmu bingung. Jadi begini …” Arzan menahan nafasnya sesaat.
“Status kita memang suami isteri sekarang. Tapi jujur, pernikahan ini bukanlah yang aku rencanakan, dan aku yakin pasti bukan juga yang kamu harapkan. Tapi, mau tak mau kita harus menjalaninya.Aku tahu ada hak dan kewajiban yang harus kita taati. Tapi, aku nggak bisa sepenuhnya, Kam. Aku telanjur menganggapmu sebagai adik. Sejak awal kamu masuk ke keluargaku, perasaanku ke kamu sama seperti ke Divya. Aku nggak siap mendadak merubah pandangan pikiran dan hatiku ke kamu. Aku butuh waktu meresetnya.” Arzan memegang keningnya.
Kamila menunduk. Sebenarnya ia pun mengalami kegamangan yang sama. Namun, jika dibandingkan, sepertinya dirinya lebih siap menerima perubahan situasi. Bisa jadi karena Kamila cepat pulih dari duka kehilangan Ardian, dan sudah memutuskan melanjutkan hidupnya. Sehingga, banyak tersedia ruang di hatinya untuk kehadiran orang lain.
Ia tak tahu bagaimana dengan Arzan. Sebelum bersedia menikah, tak ada kesempatan baginya menanyakan apakah dia sedang menyukai perempuan lain atau tidak. Namun, apakah sekarang sudah terlambat untuk mengetahuinya?
“Ada alasan lainkah?” pancing Kamila.
“Maksudmu?” Arzan mengetuk permukaan meja kayu dengan kuku-kuku jarinya. Menutupi kegugupannya.
“Aku nggak tahu, sewaktu mama menyuruh kita menikah, Kakak sedang punya pacar atau tidak. Kalau iya, mungkin itu juga jadi alasan kenapa Kakak…” Lagi-lagi Kamila tidak meneruskan perkatannya.
Arzan mendengus.
“Maaf kalau aku lancang, Kak.” Kamila menggigit bibirnya.
Arzan menyandarkan punggungnya di kursi. “Kamu ingat Nadine?”
Kamila mengangguk. Ia masih ingat jelas sosok Nadine. Pacar serius Arzan yang tidak disetujui Mama Dian.
“Hubungan aku dan Nadine memang putus sambung nggak jelas. Jujur, aku juga jenuh kadang. Mama juga sudah nggak menyukainya. Terakhir, dia menolak lagi kuajak kawin. Makanya, mama kemudian memaksa aku menikah denganmu saja.”
“Kakak masih mencintai Nadine?” Kamila mendatarkan suranya, meski hatinya resah.
Arzan memandangi Kamila dalam. Perlahan, kepalanya terangguk. Dia harus jujur.
Seperti ada sebuah batu besar menghimpit d**a Kamila. Menekan sehingga irama jantungnya jadi memendek tidak teratur.
“Maafkan aku. Seharusnya aku berani menolak keinginan mama yang membuat kita terpaksa menikah.”
Kamila memaki dalam hati. Kenapa baru diungkapkan sekarang?
“Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Kamila berusaha tenang.
“Menurutku, kita jalani saja dulu pernikahan ini untuk menyenangkan mama dan keluarga kita. Biarkan mereka menganggap kita suami isteri beneran. Hubungan kita di dalam ya seperti sebelumnya saja. Kakak dan adik. Aku tidak akan menuntut apa-apa dari kamu, tapi aku tetap bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhanmu dan Naura. ”
“Kita jadi suami isteri platonis gitu? Tanpa ada….” Kamila tidak sanggup meneruskan ucapannya walaupun kata ‘hasrat’ sudah di ujung lidahnya.
Arzan mengangguk.
“Kalau kamu tidak tahan, ya sudah kita akhiri saja. Tapi, tunggulah sampai paling lama setahun. Biar nggak bikin heboh.”
“Apa yang membuat Kakak yakin mama tidak akan menentangnya, sedangkan waktu disuruh menikahiku saja Kakak nggak bisa nolak?” Kamila tidak percaya.
“Nanti kucari alasan kenapa kita harus bercerai yang nggak bisa dicegahnya.” Arzan tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti.
Seketika, batu besar di d**a Kamila pecah berkeping-keping, Ujung-ujungnya yang tajam mencabik-cabik hati, jiwa dan dirinya. Dadanya sesak oleh serpihan dan debunya. Sekuat tenaga ditahannya air mata yang mendesak keluar.
Ia marah, kecewa, sekaligus sedih. Tega sekali Arzan menjebaknya begini. Jika ia memang harus bercerai dan menjanda untuk kedua kalinya, lebih baik ia menolak mentah-mentah kemauan Mama Dian. Ia akan mencari cara kabur membawa Naura dan menghilang.
Sesaat, Kamila ingin berteriak menghujat Arzan, sebab ia berharap lelaki itu mau berjuang bersamanya. Namun, suara kecil di batinnya melarang melakukan hal itu. Egonya juga mencegah, jangan sampai Arzan pikir ia sangat membutuhkannya.
“Terserah Kakak saja kalau begitu. Aku ikut saja.” Kamila tersenyum seraya berdiri. “Aku mau tidur ya, Kak!”
Kamila berjalan cepat menahan tangis, menuju kamar Naura. Ia duduk menyandarkan diri di pintu yang baru ditutupnya dan menangis tanpa suara. Sungguh Kamila merasa sendiri dan kesepian saat ini.
Ia jadi teringat ibunya. Kamila memejamkan matanya mencoba menghadirkan sosok wanita, yang saat ia kecil dulu akan memeluknya jika ia sedang sedih. Bayangan ibunya tercetak di benaknya. Serupa dengan siluet dalam kabut yang perlahan semakin jelas. Kamila mengerutkan mata dan wajahnya, berusaha mempertegas gambaran ibunya.
Bibir Kamila bergetar, isakannya bertambah keras. Betapa ia merindukan wanita yang telah melahirkannya itu. Ia terus menutup rapat matanya. Meresapi kehangatan dan kedamaian yang mulai menyelimutinya. Bayangan samar ibunya kian jelas. Kamila dapat melihat senyumnya, begitu dekat dengan mukanya sendiri. Lalu, tiba-tiba terdengar suara di telinganya.
“Bangun Kamila! Life goes on!”
Kamila tersentak. Matanya terbuka, dan tangisnya seketika terhenti. Ia memandang berkeliling. Hanya ada dirinya dan Naura di kamar ini. Tapi, suara tadi begitu nyata dan tak asing. Terdengar seperti ibunya. Ia masih hapal suara wanita lembut itu.
”Mama!”
Naura terbangun, dan memperhatikan Kamila dengan wajah dan rambut kusutnya.
“Mama ngapain di situ?”
Bergegas Kamila bangkit, menghampiri Naura, dan berbaring di sampingnya.
“Nggak apa-apa. Bobo lagi ya, sayang. Masih malam.”
“Mama nangis?” tanya Naura. “Mama kangen papa?”
“Iya.” Kamila memeluknya.
“Kan kita sudah punya pengganti papa. Jangan sedih, Ma!” Naura membelai pipi Kamila.
Kamila kagum dengan cepatnya Naura dan beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungan barunya. Bukankah selayaknya ia pun begitu?
Suara tadi terngiang kembali. Bangun, hidup terus berlanjut. Naura adalah hidupnya. Ia harus bangkit dan tidak meratapi hidupnya yang terjebak bersama Arzan. Bersyukur lelaki itu sudah menentukan waktu kebebasannya. Ia hanya harus menguatkan dirinya untuk bertahan.
***