Kamu Bahagia?

1662 Kata
Kamila terjaga kala matahari hampir di seperempat kaki langit. Sebelum membuka matanya, ia memutuskan akan menerima perannya sebagai isteri yang baik selama Arzan berstatus sebagai suaminya walau tidak memiliki perasaan kepadanya. Akan dijalaninya, sambil menyusun rencana untuk masa depannya kelak. Naura mungkin sudah terbangun sejak tadi. Begitu juga Arzan. Kamila bisa mendengar suara keduanya sedang berbincang di teras belakang. Ia segera mandi sebelum menemui mereka. Di meja makan, tersedia semangkuk bubur ayam. Pasti Arzan yang menyiapkan. Entah ia membelinya di mana. Kamila membuka lemari es. Masih tak ada apa-apa di dalamnya. Ia menghela nafasnya. Tak mungkin juga ia membiarkan Arzan membelikan mereka makanan saji yang ia tak tahu campuran kandungan dan proses pembuatannya. Kamila menghampiri Arzan yang sedang menyirami tanamannya bersama Naura. “Kak! Aku mau belanja bahan makanan,” kata Kamila. Arzan menatapnya. Dia terpana sesaat karena Kamila bisa tetap bersikap biasa meskipun semalam dia telah melukainya. “Kamu baik-baik aja?” “Iya.” Kanaya tersenyum. Sejak bangun tidur tadi dia sudah memutuskan untuk tidak hanyut dalam kekecewaan. “Mama mau belanja? Aku mau ikut!” seru Naura. “Mau ku antar?” tanya Arzan. Kamila mengangguk. Arzan lega sebab Kamila seakan bisa menerima keadaan aneh yang diciptakannya, meski tetap saja dia merasa bersalah. Setengah jam kemudian mereka sudah berada di basement mal terdekat, di mana area supermarket berada. Tak jauh dari pintu masuknya, terdapat playground. Melihatnya, spontan Naura menolak ikut berbelanja dan memaksa Arzan menemaninya bermain. “Sebentar!” Arzan menoleh pada Kamila yang sedang menarik trolly. “Kamu nggak apa-apa belanja sendiri?” “Nggak apa-apa.” “Oke! Berapa nomor rekeningmu? Bawa kartu debit kan buat bayar nanti?” Arzan membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Kamila menyebutkan sederet angka. Beberapa detik kemudian pesan pendek masuk memberitahukan ada sejumlah dana masuk ke rekeningnya. Ia terkejut membaca angkanya. “Banyak amat, Kak?” Arzan tersenyum. “Boleh langsung kuhabiskan?” tanya Kamila bercanda. “Silahkan.” Arzan tertawa mengizinkan, tetapi ia tahu Kamila tak akan melakukannya. Dia bukan tipe perempuan yang boros dan senang membeli barang yang tak perlu. Ardian dulu selalu memuji sifatnya itu. Dengan tangan mendorong trolly, perlahan Kamila menelusuri lorong-lorong rak barang. Tengah ia memilih s**u Naura, seseorang menegurnya. “Kamila?” Kamila menoleh. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berkaca mata, berambut ikal. Lelaki itu adalah Raditya. “Hai!” sapa Kamila. Ia merasa canggung. “Apa kabar?” “Pengennya sih baik-baik saja. Tapi, aku ternyata sedang nggak baik-baik saja.” “Kenapa?” Kamila heran dengan pernyataan yang berbelit Raditya. “Karena mendengar kamu tiba-tiba sudah menikah lagi. Padahal aku lagi coba dekatin,” jawab Raditya tanpa ragu mengungkapkan isi hatinya. Kamila tertawa kikuk. Ia menyadari, sejak dua minggu sebelum pernikahannya ia tidak menjawab semua pesan dan telefon Raditya. Dan kini dengan hubungan tanpa hasratnya bersama Arzan, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Terus mengabaikan lelaki ini, atau membuka celah hati untuknya. “Kamu sendirian?” Raditya mendekat. “Nggak… Sama anakku dan…” Kamila tidak meneruskan jawabannya. “Sama suamimu?” Mata Raditya bergerak mencari sosok yang dimaksud di sekeliling Kamila. “Mereka lagi main di playground,” kata Kamila cepat, menyadari Raditya mencari sosok anak dan suaminya. “Oh!” Raditya mengangguk. “Kamu tahu dari siapa aku sudah menikah lagi?” tanya Kamila. “Iffa… Dan asli aku kaget banget dengarnya. Dia ngajak aku hadir, tapi aku ‘kan nggak diundang. Lagipula, manalah aku sanggup.” Raditya meringis. Kamila merasa jengah. Ia memikirkan balasan yang tepat. Namun, tak ada sepatah kata pun yang terasa benar untuk diucapkan saat ini. “Kamu bahagia, Kam?” Kepala Kamila terangkat. Ditatapnya wajah Raditya dalam, mencari maksud yang tersirat dari pertanyaannya. Kamila dapat melihat kekhawatiran di sana. Tapi, benarkah? Atau hanya perasaannya saja? “Permisi!” Seseorang menegur dan meminta jalan. Kamila tersadar dan segera mendorong keranjangnya yang bersebelahan dengan trolly Raditya dan telah memblokir jalan yang membelah rak-rak s**u. Posisi ia kini membelakangi Raditya. Kamila menoleh. Ia melihat seorang gadis muda sedang memasukkan sejumlah barang kedalam keranjang Raditya. Keduanya tampak sangat akrab. Sejenak Kamila berdiam, ia ragu akan melanjutkan perbincangannya dengan lelaki itu, atau berlalu meneruskan belanjanya.Tapi, kemudian dilihatnya Raditya mendekatinya bersama gadis itu. “Ini adikku Ajeng. Mungkin kamu lupa.” Gadis itu mengulurkan tangannya. Kamila menyambutnya. Saat ia dan Raditya SMA dulu, Ajeng masih SD. Dan sekarang sudah berubah menjadi gadis muda yang cantik, dengan rambut ikal persis kakaknya. Kamila memang tidak mengenalinya lagi. “Hai! Kita pernah ketemu dulu, waktu kamu masih kecil. Aku Kamila.” Kamila membalas salam tangan Ajeng. Seketika Ajeng memekik dan menangkupkan kedua tangan menutupi mulutnya. “Auww!... Ini Kamila yang sering Kakak ceritakan? Yang ma…” Ajeng tak bisa menyelesaikan ucapannya. Tangan kekar Raditya membungkam mulut Ajeng yang terus berbicara walaupun yang terdengar cuma suara gumaman tak jelas. “Maaf, Kam! Anak ini terlalu cerewet dan sok tahu!” Raditya melotot pada Ajeng. Gadis itu akhirnya diam. Barulah, kakaknya melepaskan bekapannya. Ajeng menatapnya. Bibirnya tersenyum lebar. “Hai, Kak!” “Hai!” sahut Kamila. Ajeng seperti ingin mengatakan hal lainnya, tetapi Raditya segera menghalaunya. “Oke, Kam!... Lanjut belanjanya!... Kami mau cari roti dulu!” Raditya tersenyum melambaikan tangannya. “Daahhh, Kak Kamila! Sampai ketemu lagi!” seru Ajeng. Kamila tersenyum. Lantas melanjutkan langkahnya menelusuri lorong rak. Otaknya seakan memuai akibat pertemuan dengan Raditya, sehingga ia lupa dengan daftar barang-barang yang harus dibelinya. Kamila menekan jidatnya. Berusaha berkonsentrasi dan mengingat kembali apa saja yang harus dimasukkan ke keranjang. Meski begitu, sambil mencari dan memilih, pandangan Kamila tak bisa dicegah menebar kemana-mana mencoba mendapati sosok Raditya lagi. Jadinya, ia malah berputar-putar tak tentu arah hingga akhirnya lelah sendiri. Raditya dan adiknya sepertinya sudah pergi meninggalkan supermarket ini. Ketika ia tiba di depan kasir, ia baru teringat tidak mengambil sejumlah benda yang sebenarnya ia butuhkan dan dilewati tadi. Namun, Kamila enggan kembali. Supermarket di hari Minggu begini cukup ramai. Ia malas mengantri lagi di kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia kemudian beranjak ke area permainan anak, untuk menemui Naura dan Arzan. Kedatangan Kamila bertepatan dengan saat Naura merasa bosan. Anak kecil itu selanjutnya berseru lapar serta memaksa Arzan dan Kamila membawanya ke foodcourt yang berseberangan dengan playground. Mulut ceriwis Naura tak henti mengoceh tentang permainan yang menurutnya menyenangkan di awal, tapi lama-lama membosankan. Kamila mendengarkan sambil lalu. Ia masih penasaran dengan keberadaan Raditya. Sambil makan dan menyesap minumannya, mata Kamila Tak tenang berputar mengitari sekelilingnya. Ia sungguh ingin melihat lelaki itu sekali lagi. Kala pandangannya tak juga tertambat pada sosok yang dicarinya, Kamila kecewa. Diam-diam Arzan memperhatikan Kamila. Kegelisahan yang tampak pada gerak-geriknya menimbulkan pertanyaan di dirinya, “Kamu kenapa? Seperti ada yang kamu cari?” Arzan menegurnya. “Eehh… Iya, tadi aku melihat ada teman SMAku di sini.” Kamila tergugup. Ia tak terbiasa berbohong. Tapi, apa yang dikatakannya memang benar juga. Arzan tidak berkomentar lagi. Ia melanjutkan menyuapi potongan chicken katsu ke mulut Naura. Anak kecil ini sedang kumat manjanya, hingga makan saja tak mau dilakukan sendiri. “Sudah dapat semua belanjaannya?” Arzan menatap kantung-kantung kain dalam trolly di sisi lain meja mereka. “Ada yang kelupaan sih, tapi nggak apa-apa. Masih bisa nanti.” Ponsel Arzan di atas meja bergetar. Kamila melirik sedikit. Layarnya tampak jelas menampilkan panggilan dengan nama Nadine. Arzan cepat mengambilnya, dan beranjak pergi meninggalkan Kamila dan Naura untuk menerimanya. Kamila menggigit bibirnya dan berusaha tidak mempedulikannya. Ia mengambil alih menyuapi Naura. "Ayah kemana, Ma?” tanya Naura yang memperhatikan Arzan menjauhi mereka menepi dari keramaian. “Mau terima telefon.” Kamila menjawab tenang walau hatinya bergejolak. “Oh! Dari siapa?” Naura mulai ceriwis. “Mama nggak tahu, dan kita nggak boleh bertanya, ya. Nggak sopan. Kita nggak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain.” “Tapi, dia itu sekarang ayah kita, bukan orang lain!” Naura menyanggah. Kamila menyesap minumannya, menciptakan jeda sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat bagi pertanyaan kritis Naura. “Hmm… Tapi, kita harus tetap menghargai urusan pribadinya. Mungkin saja dia sedang ada pekerjaan rahasia yang kita nggak boleh tahu.” Naura diam berpikir. “Pokoknya, kamu nggak boleh nanya-nanya, oke!” Kamila memberi ultimatum. “Oke!” jawab Naura meski ia tak puas. Kamila mengusap kepala Naura. Ia melihat Arzan berdiri di sudut foodcourt yang sepi dengan sebelah tangan menempelkan ponsel di telinganya. Kamila tidak bisa melihat ekspresi wajah Arzan, karena lelaki itu berdiri membelakanginya. Kenapa Nadine menelefon Arzan? Bukannya Nadine sudah menolak ajakannya menikah. Apa mungkin Nadine berubah pikiran? Lalu, mereka akan kembali lagi? Jadi, sebenarnya mereka sudah putus atau belum? Apakah mereka sedang bertengkar? Apa yang mereka bicarakan sekarang? Puluhan pertanyaan berkecamuk di benak Kamila dan meresahkannya. Ia memalingkan pandangannya agar dirinya berhenti memedulikan urusan Arzan dengan Nadine. Lima menit berlalu, Arzan kembali kepada mereka. Wajahnya sedikit keruh. “Sudah selesai makannya?” tanya Arzan pada Naura. “Sudah.” Naura turun dari kursinya. Kamila menggandengnya, sementara Arzan mendorong trolly belanjaan Kamila. Tanpa bertanya, Kamila mengikuti langkah Arzan menuju area parkir. Sepanjang perjalanan, Arzan diam, sama sekali tak berminat menanggapi keceriwisan Naura. Kamila mengalihkan perhatian Naura agar tidak mengganggu Arzan. Kamila sendiri tak berani melirik apalagi menatap Arzan yang serius mengemudi. Setiba di rumah, Arzan membantu menurunkan tas-tas belanjaan dan membawanya ke dapur, lalu menepi ke teras untuk menelefon seseorang. Dibantu Naura, Kamila mengeluarkan dan merapikan isinya. Sedang mereka sibuk berdua, Arzan mendekati. “Kam! Aku pergi dulu, ada urusan.” Kamila mengangguk. Ingin ia bertanya, tapi takut dianggap mencampuri urusan. Padahal ia curiga Arzan akan menemui Nadine. Diperhatikannya Arzan mencium pipi Naura, kemudian pergi. Seperti ada sembilu tajam yang menggores hatinya melihat langkah lelaki itu keluar rumah. Begitu suara mobil menjauh, Kamila tidak tahan lagi. Cepat dikuncinya pintu dan ia berlari ke kamarnya. “Naura! Mama mau pee sebentar!” serunya. “Oke!” sahut Naura. Di kamar mandi, Kamila membiarkan air mata mengalir bebas membasahi pipinya. Ia menatap wajahnya yang muram di cermin. Pertanyaan Raditya kala di supermarket tadi kembali terngiang. “Kamu bahagia, Kam?” Kamila menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku nggak bahagia,” Isakan Kamila semakin keras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN