Semu

1101 Kata
Sebenarnya, prasangka Kamila ada benarnya, tapi juga salah. Arzan memang menerima telefon dari Nadine saat mereka di mall tadi. Tapi, dia tidak pergi untuk menemui wanita itu. Alasannya keluar rumah hanya karena ingin menyendiri. Menjauh sejenak dari Kamila dan Naura, menepi dari babak baru kehidupan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Juga merenungi hubungannya dengan Nadine. Dia mengemudi tanpa arah tujuan. Hanya mengikuti instingnya saja melaju lurus, belok ke kiri atau ke kanan. Hingga dia menemukan rumah makan yang pernah didatanginya, dan diketahuinya memiliki area terbuka menghadap danau. Di sanalah dia kini berada. Duduk menghadap danau dengan sepiring nasi goreng yang tidak disentuh, serta segelas kopi dan rokok yang sesekali dihisapnya. Benaknya mengurai kembali percakapannya dengan Nadine yang penuh emosi melalui telefon. “Kok kamu tega?!” Nadine langsung menyampaikan protesnya tanpa basa-basi. “Tega apa?” “Kenapa kamu tiba-tiba nikah sama Kamila?” “Ya habis, kamu nolak terus diajak nikah.” “Aku belum siap tahu!” Nadine menyangkal. “Kamu nggak pernah siap. Sudah berapa kali aku menawarimu kesempatan?” Arzan mengingatkan. Di seberang sana, Nadine terisak. “Tapi, aku cinta sama kamu!” Biasanya, emosi Arzan kemudian akan luluh bila air mata Nadine sudah berurai dan kata cinta sudah terucap. Tapi, saat ini hatinya yang sudah setengah membeku karena penolakan sebelumnya. Apalagi dengan adanya kesadaran bahwa dia sudah terikat dengan Kamila. “Kamu cinta nggak sama Kamila? Dia juga cinta nggak sama kamu?” Arzan tidak bisa menjawab. Pembicaraannya dengan Kamila kemarin menunjukkan dia sebenarnya siap menerima takdir dan belajar mencintainya. Tapi, dia tidak yakin dengan dirinya. Meski separuh hatinya membeku, seluruh ruangnya masih dihuni dan dikuasai Nadine. Jika hanya menuruti hasrat kelaki-lakiannya, dia bisa memperlakukan Kamila selayaknya seorang isteri. Tapi, dia merasa berlaku tidak adil kepada perempuan itu bila melakukannya tanpa ada perasaan cinta sedikit pun. Dia tidak berniat memenjarakan mantan adik iparnya dalam kesemuan. Makanya dia membebaskan Kamila jika ingin bebas darinya. “Jawab aku!” “Nggak usah bawa-bawa Kamila!” Arzan mengelak. “Aku tahu kamu masih mencintaiku, Zan. Kamu nggak akan pernah bisa melupakan aku! Kamu pasti akan kembali padaku lagi nanti!” Nadine begitu yakin dengan ucapannya. Arzan tidak berani berkata sepatah katapun. Dia jadi ragu untuk mempertahankan kebekuan hatinya.. *** “Mama! Ada Oma datang!” Teriakan Naura mengejutkan Kamila. Cepat dia mencuci wajahnya. Tapi, bengkak di matanya tidak bisa ditutupi. Ingin dia bersembunyi saja, tapi mana mungkin di saat mertuanya sudah ada di dalam rumahnya kini. Jangan pernah berharap wanita itu merasa perlu memberitahukan kedatangannya. Dia terbiasa melakukan dan mendapatkan apapun yang diinginkannya. Dengan senyum dan mimik muka yang diceriakan, dia pun keluar dari kamar demi menyambut Mama mertuanya itu. “Kamu Habis nangis?” Mama Dian langsung menemukan sisa duka di wajah Kamila kala mencium pipi menantunya. “Iya.” “Kenapa?” “Hmm… tadi nggak sengaja lihat foto Ardian di hape. Jadi ingat.” Kamila cepat menemukan alasan. Mama Dian menuntunnya duduk di sofa. Rasa keibuannya tersentuh. “Jangan diingat terus. Bukan maksud mama menyuruhmu melupakan. Cuma, memintamu melanjutkan hidupmu. Masih panjang perjalananmu dan Naura ke depan. Lagipula, Arzan yang jadi suamimu sekarang.” Kamila mengangguk meski hatinya perih. “Arzan kemana?” “Lagi pergi.” “Pergi kemana? Dia masih cuti ‘kan?” tanya Mama Dian heran. “Ada urusan dengan temannya.” Kamila mengarang jawaban yang aman. “Baru nikah, sudah sibuk saja dia.” “Mama sendirian kesini?” tanya Kamila, enggan dia mengomentari perkataan tersebut. “Sama Divya. Sedang di kamar Naura dia sekarang. Anak itu lagi pamer kamar barunya.” “Saya buatkan minum dulu, ya.” Kamila beranjak ke dapur. Mama Dian mengikuti. Dia memeriksa isi lemari es dan penyimpanan bahan makanan. “Nah, akhirnya kulkas ini ada isinya. Kasih Arzan makanan yang benar ya, Kam. Dia terlalu banyak konsumsi makanan yang nggak sehat.” “Iya, Ma.” “Suruh juga dia berhenti merokok dan minum kopi terlalu banyak!” Perintah yang diucapkan Mama Dian menambah pedih hati Kamila. Tak mungkin dia memberikan larangan pada lelaki itu meskipun berstatus suaminya. Apa haknya mengatur perilaku Arzan bila dia tidak diperkenankan berperan sebagai pasangan hidupnya. “Kam! Air itu sudah mendidih!” tegur Mama Dian. Kamila tersadar dari keterpakuannya. Cepat dia mematikan kompor dan menyeduhkan teh untuk Mama Dian dan Divya. “Arzan pulang jam berapa?” tanya Mama Dian. Dia meminta Kamila membawakan minumannya ke teras belakang. “Nggak tahu, Ma.” Kamila menjawab jujur. “Coba kamu telfon!” Kamila mengambil ponselnya yang diletakkan di meja dapur. Dia tidak menelefon langsung, hanya mengirimkan pesan tentang keberadaan mamanya di rumah. Lalu, dia kembali menemani Mama Dian berbincang. “Makin rimbun saja tanaman di sini.” Pandangan Mama Dian mengitari aneka aglonema, pakis, dan anggrek yang tumbuh subur dan tertata baik. “Kalau soal tanaman, Arzan memang jagonya. Mama aja kalah. Telaten dia mengurusnya.” Kanaya mengangguk mengakui. Dia sendiri tidak serajin Arzan merawat tanaman hias di rumahnya. “Mama harap, dia juga serius mengurus kamu dan Naura.” Rasa tak nyaman mulai menggerus hati Kamila. Ucapan-ucapan Mama Dian yang berkali-kali mengaitkan Arzan dengan dirinya membuatnya jengah dan bosan. Sejam kemudian, Arzan datang kembali. Dia bergabung dan duduk di sebelah Kamila. Begitu dekat, hingga Kamila jengah. Dia sadar, Arzan melakukannya demi tidak dicurigai mamanya bila mereka mereka berjauhan seperti orang asing. Setelah beberapa menit, Kamila pamit mengundurkan diri dengan alasan akan menyiapkan makan malam. “Nggak usah repot, Kam! Mama sama Divya nggak makan malam di sini.” Mama Dian mencegah niatnya. “Kenapa?” tanya Arzan. Biasanya pertemuan keluarga mereka selalu disertai makan malam bersama. “Mama kesini, sebenarnya mau ajak Naura ke Bandung sama Divya. Mau tengok rumah kos di sana.” Mama Dian adalah agen real estate kelas atas yang memiliki beberapa rumah lain dan properti yang disewakan. Di Bandung, dia memiliki dua rumah yang disewakan untuk kalangan mahasiswa yang berkuliah di kota itu. Kamila pernah mengunjunginya. Setahunya ada sepuluhan kamar di masing-masing rumah yang dijaga oleh orang kepercayaannya. “Kapan berangkatnya?” tanya Kamila. Seketika dia punya perasaan tak enak tentang hal ini. “Sore ini,” jawab Mama Dian. “Cuma Naura yang diajak?” tanya Arzan. “Iya. Kalian berdua nggak usah ikut.” Mama Dian tersenyum dengan siratan penuh arti. Arzan langsung paham, maksud dan tujuan Mama Dian membawa pergi Naura adalah untuk memberikan kesempatan berduaan saja kepada dirinya dan Kamila. Pasti dikiranya mereka dianggap pasangan pengantin baru yang normal dan membutuhkan waktu dan ruang menikmati masa bulan madu. Kamila menelan ludahnya. Dia bingung bagaimana beberapa hari ke depan bersama Arzan, tanpa Naura yang menjadi pelidung sekaligus penguat hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN