Khianat

1119 Kata
Kamila tidak bisa mencegah keinginan Mama Dian, apalagi Arzan. Naura sendiri, sangat antusias diajak jalan-jalan oleh oma dan tantenya. Mama Dian tidak mengatakan berapa lama dia akan membawa serta Naura ke Bandung. Divya yang ditanya pun hanya menjawab dengan senyuman dan angkatan bahu. “Kamu pasti tahu. Nggak mungkin mama nggak punya rencana sampai kapan di sana.” Kamila mendesak sambil memilih baju Naura untuk dimasukkan ke dalam koper kecilnya. “Aku cuma nganterin mama aja, Kak. Ikut aja maunya. Kakak tahu sendiri kalau mama sudah bepergian. Random banget ‘kan?... Tadinya satu tempat tujuan, bisa berubah jadi kemana-mana. Bisa juga sebaliknya. Niat sehari, bisa jadi lima hari. Belum tahu-tahu disambi kerja juga.” Kamila sebenarnya hapal kelakuan Mama Dian itu. “Sudah, nggak usah dipikirin. Naura aman sama aku.” Divya meyakinkan. Dia membantu memasukkan beberapa boneka dan mainan ke dalam ransel. “Kuliahmu gimana kalau perginya lama?” Kamila mencari celah. “Minggu ini lagi nggak ada kelas. Aku bebas.” Divya duduk di tepi tempat tidur Naura. “Tapi aku maunya kalian nggak terlalu lama perginya.” “Aih! Kakak ini kenapa sih? Kayak nggak pernah ditinggal pergi anaknya aja. ‘Kan sudah sering Naura diajak nginap kemana-mana sama kami?” Divya heran. Kamila diam. Ingin dia mengatakan bahwa kondisinya berbeda dengan saat ini, tak ada yang ingin dihindarinya kala itu. “Nanti aku kesepian,” Kamila beralasan. “Kesepian apa? Ada Kak Arzan, kok!” bantah Divya. Kamila terdiam. Justeru dia sungkan berdekatan dengan lelaki itu tanpa ada orang ketiga. “Sudahlah, kalian nikmati saja kesempatan berduaan ini. Buatkan adik yang banyak buat Naura, biar tambah keponakanku.” Ucapan berani Divya mengejutkan. Spontan Kamila melempar sebuah boneka ke kepadanya. Gadis muda itu tergelak panjang, tak peduli dia dengan kakak iparnya yang merengut sebal. Lepas sore, tinggallah hanya Kamila dan Arzan di rumah. Arzan sibuk mengurus tanaman dan peliharaan ikannya, sementara Kamila menyiapkan makan malam di dapur. Dimasaknya makanan sehat sesuai pesan mertuanya. Seusai menata masakannya di meja, Kamila memilih menyendiri di kamar. Dia kehilangan rasa lapar dan juga keinginan lainnya. Penat di hatinya tak lama kemudian menghadirkan kantuk dan membawanya terlelap. Di ruang makan, Arzan tertegun melihat hidangan yang disajikan Kamila. Mamanya benar, perempuan itu memang isteri yang baik dan perhatian. Dia melihat pintu kamar Kamila yang tertutup. Ingin dia mengajaknya makan bersama, seperti kebiasaan yang dilakukan keluarganya. Tapi, kebisuan di balik pintu menyurutkan keinginannya. Ada rasa khawatir di dirinya dengan kepasrahan Kamila atas sikapnya yang bisa tidak menaruh perhatian lebih kepadanya. Dia tidak bisa membaca isi hati wanita yang terpaksa dinikahinya itu. Sakitkah? Kecewakah? Arzan memutuskan makan sendiri. Tengah dia menikmati cah brokoli ayam, ponsel di depannya berbunyi. Nadine menelefonnya. Dia terpaku melihat layar yang menyala itu. Jari-jari tangannya erat memegang sendok dan garpu. Setelah beberapa saat, deringan panggilan itu berhenti. Tak lama sebuah pesan muncul. Nadine : Zan, aku kangen… Kemudian pesan lain muncul menampilkan foto wajah cantiknya dengan pose s*****l disertai ekspresi sedih memohon diperhatikan. Sedetik kemudian, selera makan Arzan lenyap. Dihelanya nafas panjang untuk melapangkan kegalauannya. *** Pagi-pagi, Kamila sudah terjaga. Dia sempat dilanda gelisah menyadari posisi ruang dan waktu keberadaannya kini. Butuh waktu untuk mencerna semua yang telah terjadi. Namun, setelah beberapa menit meratap, sebagian jiwanya tergugah untuk bangkit. Hidupnya adalah miliknya, dan tanggung jawabnya. Berbagai peristiwa yang dialami mengajarkan dirinya satu hal, dirinya tidak bisa memilih takdir. Kematian orang tuanya, disusul Ardian, memberikan pesan bahwa akan ada masanya dia ditinggalkan oleh orang-orang yang menyayangi dan melindunginya. Begitu juga dengan Arzan yang telah mengikatnya tanpa cinta. Dia sudah menyatakan akan melepas dan meninggalkannya. Tinggal masalah waktu. Dia memang tidak bisa mengatur jalan hidupnya, tapi dia bisa menentukan sikap dan mengendalikan diri untuk siap menghadapi apa yang sudah ditetapkan untuknya. Dimulai dengan merapikan tempat tidurnya, dia mulai menata hati dan harinya. Sambil melakukan tugas rutinnya, dia menyusun banyak rencana. Dua jam kemudian, rumah telah usai dibersihkan, pakaian kotor telah terjemur, dan sarapan pagi hampir selesai disajikan. Arzan yang baru turun dari kamarnya, kembali terkejut mengetahui apa yang telah dilakukan Kamila. Perempuan itu mempersilahkannya menikmati hidangannya. “Kenapa kamu repot-repot begini?” tanya Arzan sambil duduk di salah satu kursi. “Nggak repot. Dari dulu juga aku terbiasa ngurus pekerjaan rumah tangga begini,” jawab Kamila sambil meletakkan sepiring buah potong di atas meja makan. “Tapi, aku jadi nggak enak.” Arzan serba salah. “Biasa ajalah.” Kamila duduk di seberangnya. Dia tak mau lagi menuruti sungkannya. “Kakak mau kerja hari ini?” “Aku baru mulai kerja lagi Senin depan. Kamu mau melakukan apa hari ini?” tanya Arzan. “Kalau mau ketemu Iffa. Boleh nggak?” Arzan memandang Kamila. Dia merasa aneh dimintai izin seperti itu. Menurutnya, Kamila mau bertemu siapapun, dia tidak berwenang melarang. “Aku minta izin, karena walau bagaimanapun, status Kakak suamiku. Apapun aku harus izin suami. Selain itu, aku juga nggak mau nanti jadi masalah misalkan mama tanya aku, kakak nggak tau aku lagi di mana dan ngapain.” Kamila menjelaskan alasannya. Dalam hati, Arzan memaki dirinya. Nyata sekali dia telah menjadi lelaki yang tidak sadar dengan makna komitmen, hak dan kewajiban non materi dari perkawinan yang harus dipatuhinya. Beginilah mungkin jika menikah tanpa rasa cinta. Tak ada rasa memiliki sehingga datar saja. Berbeda dengan Kamila yang memang sudah berpengalaman, dan memahami nilai dan norma pernikahan. “Silahkan.” Arzan mengambil setangkap roti gandum beroleskan madu. “Kak, selama aku berstatus sebagai isteri, apa yang jadi kewajibanku ya akan aku kerjakan. Tapi, aku sudah terima kok keputusan Kakak kemarin. Aku nggak akan menuntut apa-apa, dan memaksa Kakak untuk mau hidup bersama aku seterusnya. Kalau Kakak minta kita akhiri pernikahan ini sekarang pun, aku siap.” Kamila begitu tenang bertutur, membuat Arzan tambah merasa bersalah. Dia tidak tahu, betapa perihnya luka yang sedang ditutupi Kamila. “Terima kasih Kakak mau menolong aku dan Naura. Nanti, kalau saatnya tiba kita harus bercerai, aku minta tolong, bantu aku supaya mama mengizinkan aku memiliki hak asuh Naura sepenuhnya.” Arzan tahu, mamanya mengancam menjadikan Naura sebagai sandera jika Kamila tidak mau menikah dengannya. “Boleh aku tanya sesuatu, Kak?” “Apa?” “Bagaimana dengan Nadine?” “Nggak usah bahas dia!” ketus Arzan. Wajahnya memerah dan berubah masam. “Maaf.” Kamila antara menyesal bertanya dan tidak peduli dengan reaksi Arzan. Dia hanya ingin memastikan. Dalam hati, Arzan menyembunyikan gelisah sebab semalam Nadine menelefon berkali-kali dan mengirimkan berbagai pesan provokatif, hingga tumbuh hasrat membalasnya. Kebekuan hatinya akibat ditolak telah mencair. Saat tengah malam menggelincir, mereka mengaitkan kembali tali rasa yang terputus. Nadine berjanji akan menunggunya. Kala Kamila menanyakan hubungannya dengan Nadine barusan, seketika dia seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Walau bagaimanapun, dia sadar telah berlaku khianat. Kepada Kamila, dan juga mamanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN