Menyeberang

1567 Kata

Kamila menangis menahan kesal. Namun, tak lama kemudian dia menegarkan diri. Dihelanya nafas panjang dan menghentikan isakannya. Dia tak mau matanya terlihat sembab apalagi muram di hari pertamanya bekerja. Cepat dialihkannya pikiran dan perasaannya dengan bangkit memilih pakaian terbaiknya untuk dikenakan besok. Diputuskannya, hari esok akan menjadi titik balik kemandiriannya. “Bodo amat sama Arzan! Percuma juga punya suami!” ucapnya pada dirinya sendiri di cermin. Sehabis mengatakan itu, Kamila menatap lekat pantulan wajahnya. Ada guratan lelah di bawah kelopak mata, sorot kecewa di pandangannya, dan juga geram di lengkung bibirnya. Rasa sepi menyeruak dari batinnya. Dia merindukan cinta Ardian. *** Divya bangun pagi-pagi. Dia ada kelas yang harus diikuti. “Mau kuantar?” tanya Ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN