Nesa pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Walaupun sebentar dia sudah melepas rasa rindunya pada sang kekasih. Kini saatnya dia kembali pada realita kehidupan. Bermanis-manis ria dihadapan suami bodohnya. Begitulah anggapan Nesa selama ini. Dia hanya menginginkan harta Agha demi bayi yang dikandungnya. Dia berjalan pelan naik ke atas tangga dengan langkah berat. Perutnya sudah menghambat jalannya. Dilihatnya Agha tengah sibuk membaca artikel yang bertumpuk. “Sayang,” panggil Nesa dengan manja. Agha hanya tersenyum sekilas. Dia bersiap mengakhiri segalanya. Tidak ada gunanya mempertahankan wanita pendusta yang telah memanfaatkannya. “Tumben kamu bawa kerjaan ke rumah, biasanya nggak pernah,” lanjut Nesa. “Oh enggak, ini aku hanya baca ada artikel seorang istri yang berkhianat di

