“Fara, dua hari sebelum kita berangkat ke Jakarta, aku ada kerjaan di luar kota, jadi kumohon kalau sampai waktu itu aku belum bisa mendampingimu, kamu harus tetap berangkat ke sana. Aku sudah mengatur semuanya. Kamu jangan khawatir,” ujar Felix pada Fara saat semua pegawai sudah pulang. Dia sengaja menahan Fara sedikit lebih lama untuk mengatakan hal yang serius. Fara tertegun melihat sikap Felix. Tidak biasanya raut wajah atasannya tegang. Bahkan dia menyuruh Fara menunggu sedikit agak lama. Viola mengatakan jika Felix ingin berbicara dengannya empat mata. “Baik, Pak. Pekerjaan apa yang harus anda selesaikan?” tanya Fara membuat hati Felix bergetar. Bolehkah dia berharap lebih? Dari nada bicaranya seolah Fara pun ikut cemas karena pria itu sedikit berlebihan menurutnya. “Ada, peker

