Justin menatap lekat lembar demi lembar laporan yang di bawa anak buahnya. Meninggalkan Valerie yang telah lebih dulu terlelap setengah jam yang lalu. Hazel cokelat bak lelehan madu miliknya menajam layaknya elang yang siap menerkam mangsa. Membaca kata demi kata dengan teliti. "Apa semuanya baik Tuan?" tanya Harold ragu. "Kau tak seharusnya bertanya." Cepat Justin menjawab. Masih menunjukkan ekspresi datar juga bekunya. Menambah kesan angker pada wajah tampan bak pahatan Dewa Yunani miliknya. "Aku hanya ingin memastikan." Kilah Harold membela. Entah bagaimana, namun terselip guratan benci yang langsung Justin tunjukkan. "Aku membayarmu mahal bukan untuk sekedar memastikan. Mestinya kau tahu aku menginginkan setiap pekerjaan yang sempurna juga cepat." Melempar satu lembar berkas yang

