Justin mengangkat tubuh Valerie lantas mendudukkannya dimeja samping wastafel. Membuka kedua pahanya lebar dengan nyaman Justin memposisikan tubuh tegapnya mendekap hangat menyalurkan rindu. Rindu yang bahkan hanya berjarak dua hari tapi begitu lama hingga sesak didadanya meronta. Namun kini, berhak Justin menghembuskan napas lega disertai dekapan juga kelegaan yang secara bersamaan melonggarkan sakitnya. "Semuanya usai." Kulum Justin, "Aku senang kembali disisimu dan bermanja seperti sekarang ini." Valerie balas tersenyum. "Aku kesepian." Ujarnya, "Tak ada Austin ataupun Kylie. Ck, menyebalkan sekali karena kau pergi dan Kylie juga pergi. Terlebih Austin menemani istrinya yang sedang melahirkan." Curahnya mengintimidasi mata Justin lekat. "Kau bercerita?" Godanya, "Aku tak suka. Bagaim

