Valerie melenguh panjang dengan mulut menguap lebar. Rasa kantuk masih terus melekat meski—entah pukul berapa kedua matanya mulai terlelap dengan nyaman. Bukan tanpa alasan, namun kebiasaan. Kebiasaan yang selalu membuatnya bergantung kini bahkan selama dua hari pergi tanpa mengungkung tubuh mungilnya. Jelas jika hawa dingin menyusup masuk meski selimut tebal menyelimuti. Tapi diakuinya, tak ada yang lebih baik dari pelukan seorang Justin. Pandangan matanya menatap lewat celah jendela. Gorden gold yang terjuntai kelantai sedikit memberinya kemudahan untuk mata beningnya mengintip, "Gelap." Batinnya sembari kembali membaringkan tubuhnya. Meringkuk layaknya janin. Ah, kantuknya sungguh tak bisa lagi dicegah. Perlahan, kelopak matanya mulai memberat. Lantas sedetik kemudian hanyalah gelap se

