Layaknya menanam tanpa tanah **** Justin memandang nanar wajah cantik didepannya. Rindu, tentu saja. Wajah sendu penuh kepedihan yang tololnya adalah ulahnya sendiri. Wajah yang selama dua minggu ini begitu amat dirindukannya. Wajah penuh kelembutan yang selalu memberi tatapan penuh harapan setiap Justin pandang. Menjanjikan sejuta keteduhan, kedamaian, kenyamanan didalamnya. Dan ya, Justin merasakan kenyamanan seribu kali dari apapun hanya dengan memandangnya. Tapi kini? Merutuki kebodohannya, Justin merasakan sergapan rasa sesal meremas hatinya. Meremasnya kuat hingga bernapas terasa sulit. Meremasnya hingga kepadatan udara diparu-paru menghimpitnya. Dadanya sesak melihat kekosongan dalam pandangan mata Valerie. Buliran bening runtuh turun membasahi pipi putih Justin. Remasan sakit i

