Rahasia Luna

2170 Kata

"Vano Sebastian!! Kamu ini, ya … bikin Mama gemas tahu, nggak?" Luna mendekati Vano yang masih duduk manis di tempatnya, sedangkan Dita sudah beranjak pergi beberapa menit yang lalu. Rahangnya pun mengeras melihat putranya tidak mau menuruti apa yang ia inginkan. Vano tersentak. Nyaris saja ponsel yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Helaan nafas panjang juga meluncur dari hidung mancungnya. Ia juga bersiap untuk mengahadapi kata-kata pedas yang akan meluncur dari mulut Luna. "Itu Dita kenapa dibiarkan pergi sendirian? Kalau begini terus, kapan kalian saling mencintai? Kapan kalian akan memberikan Mama cucu?" Seraya mencecar Vano, Luna menghenyakkan bokongnya di tempat yang didudukinya tadi. "Ma, membiarkan Dita pergi berbelanja sendirian tidak akan mengubah apapun," gerutu V

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN