"Bagaimana?" "Bagaimana apanya, Ma? Mama jauh-jauh datang kesini cuma untuk nanya bagaimana? Apanya yang bagaimana?" Vano turut duduk di sebuah sofa, yang ada di depan meja kerjanya. Cukup mengejutkan. Dua bulan tidak pernah bertemu, akhirnya Luna datang menemuinya. Entah untuk apa. "Istrimu lah, Van. Bagaimana?! Udah hamil belum? Sudah dua bulan kamu dan Dita pindah ke rumahnya. Sudah dua bulan pula berusaha untuk memiliki keturunan, lalu bagaimana? Sudah ada hasilnya belum?" "Kalau belum mengapa? Kalau sudah pun mengapa?" tanya Vano. Melipat kedua tangannya di depan dadaa. Tampaknya pria itu mulai risih mendengar pertanyaan yang itu-itu saja dari sang ibu. Pertanyaan yang harus dijawab tapi, tidak tahu tujuannya apa. Dan sepertinya Vano lebih suka Luna tidak pernah mengunjunginya s

