Plaak!! Suara tamparan menggema di sebuah ruang perawatan. Ketika seorang wanita paruh baya masuk dan melihat sang menantu terbaring di ranjang rumah sakit. Di punggung tangannya tertancap sebuah jarum, yang terhubung dengan botol infus. Luna. Datang dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubunnya, dan langsung memberikan sebuah tamparan di pipi kanan Vano. Membuat putranya itu tersentak dan kebingungan dengan sikapnya saat ini. "Kamu punya otak kenapa nggak dipake? Bisa-bisanya istrimu masuk rumah sakit seperti sekarang, hanya demi menyelidiki ibumu sendiri." Luna mengacungkan jari telunjuknya kepada Vano. "Kalau kamu tidak sanggup dan tidak mampu menjaga dia, katakan kepada Mama, biar Mama yang menjaga dia!" sergahnya. Tanpa peduli ada yang terganggu dengan suara tingginya. Vano yan

