Hampir setengah jam berlalu, Dita masih enggan melepaskan diri dari pelukan Vano. Seakan ia akan kehilangan segala kebahagiannya jika melepaskan pelukannya dari sang suami. Begitu berat dan menyakitkan jika itu terjadi. Namun, Vano yang harus pergi ke kantor, sangat sangat terpaksa untuk mengurai pelukannya dari Dita. "Aku mohon padamu jangan berpikir yang tidak-tidak, ya, Sayang. Karena aku yang akan menjamin tidak akan pernah ada hal buruk terjadi, baik di rumah tangga kita maupun denganmu dan calon buah hati kita. Kamu harus percaya, aku akan selalu ada dan melindungi kalian berdua." Vano mengusap lengan Dita, yang masih betah dalam pelukannya. Tidak ada tanda-tanda bagi istrinya itu untuk beranjak sedikitpun dari posisinya sekarang. "Dita," seru Vano begitu lembut menyapa indra p

