"Seharusnya aku bertanya dulu baru memulai," ucap Vano. Seraya merapikan anak rambut Dita yang berantakan karena ulahnya. Ia juga menatap Dita yang kini berbaring, dengan berbantalkan lengannya. "Kakak ingin bertanya apa?" Dita semakin merapatkan tubuhnya pada Vano. Selimut yang tidak terlalu tebal ternyata tidak cukup untuk menghalau udara dingin di malam ini. Sehingga tubuh polosnya membutuhkan kehangatan agar tak kedinginan. "Sebelum bertanya aku ingin meminta maaf, bukan maksudku ingin mengungkit apalagi membuka luka dan duka diantara kita." Dita mengangguk cepat. "Apa yang membuatmu tidak memberitahukan kepadaku tentang penyakit Alea. Dan apakah kamu sudah tahu, kamulah yang akan menjadi Wanita Pengganti untuknya?" tanya Vano penuh dengan kehati-hatian. Ia benar-benar takut s

