"Kamu apa-apaan, Van? Istri sedang sakit kamu malah menghilang. Tidak ada sedikitpun itikad baikmu untuk datang ke rumah sakit untuk menjenguknya! Tapi, kamu malah di sini menghabiskan waktu dan uang untuk membeli minuman haram ini!" sergah Luna, seraya melemparkan sebotol minuman beralkohol ke lantai.
Begitu ia masuk ke apartemen yang ditempati Vano.
Berhari-hari pria itu menghilang, ternyata ia tinggal di apartemen yang tidak jauh dari rumah. Selama itu pula, Vano menghabiskan waktu dengan menenggak minuman keras tersebut. Berharap mampu memusnahkan Alea dari dalam pikirannya.
"Aku tidak peduli, Mam. Dan aku mohon Mama pergi. Jangan lagi menyangkut pautkan lagi aku dengan Dita. Aku tidak mungkin bisa hidup bersama dengan gadis yang kubenci."
Tanpa menatap kepada Luna, Vano berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Persis seperti hari-hari sebelumnya. Lelah menenggak minuman keras, ia akan tidur. Begitu seterusnya.
Akan tetapi, sepertinya hari ini Vano tidak akan bisa melakukan hal itu lagi. Karena sang ibu telah menarik paksa tangannya seraya berucap.
"Kalau kamu tidak pulang dan mengikuti keinginan Mama, jangan harap kamu akan bertemu dengan Mama lag!" Menarik tangan Vano, agar berdiri dan ikut dengannya pulang.
Vano menepis tangan Luna. "Terserah Mama. Aku tidak peduli. Bahkan, aku juga tidak akan peduli jika Mama membatalkan pelantikanku di perusahaan. Karena apa? Karena aku tidak peduli dengan itu semua. Aku hancur, Ma. Jadi jangan paksa aku lagi!" sergahnya.
"Oh … jadi begitu? Meninggalnya Alea telah meruntuhkan duniamu, sehingga Mamamu ini tidak ada gunanya lagi? Iya?"
Luna menunjuk dirinya sendiri. "Baik. Kalau memang itu yang kamu inginkan, Van. Mama pun bisa melakukan hal yang sama sepertimu. Dulu. Saat ayahmu pergi untuk selamanya, Mama sempat ingin mengakhiri hidup. Akan tetapi, kehadiranmu telah menghapus keinginan buruk tersebut. Dan sekarang, disaat Mama bertahan hidup menghadapi ketidakadilan kehidupan, kamu justru tidak peduli lagi dengan Mama. Jadi untuk apalagi Mama hidup?"
Luna berjalan ke arah jendela apartemen. "Nikmati hidupmu, Van!" sindirnya. Meraih kursi dan menggunakan untuk menaiki jendela.
Luna sangat yakin dengan cara ini Vano akan menyerah dan akan mengikuti keinginannya.
Benar saja. Belum sempat kedua kaki Luna menaiki kursi, tangan Vano telah melingkar di pinggangnya.
"Maafkan aku, Ma," lirih Vano. Memeluk sang ibu dengan kuat.
"Bangkitlah, Van. Alea telah tenang di sana. Dia memintamu untuk menikah dengan Dita, itu artinya dia tahu ini terbaik untukmu." Mengusap punggung Vano. Luna menarik kedua sudut bibirnya. Setelah ini, ia yakin Vano akan menuruti semua keinginannya. Setidaknya sampai Dita memiliki anak.
Setelah itu, terserah Vano. Apakah ingin tetap bertahan atau mengakhiri pernikahannya.
"Pernikahan seperti apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan kamu," gumam Vano. Menatap Dita yang kini tidur di pelukannya.
Vano sama sekali tak ingat bagaimana bisa terbangun dalam posisi memeluk Dita seperti sekarang. Seingatnya, ia tinggal di apartemen seorang diri. Meratapi kepergian Alea untuk selamanya.
Vano menarik nafasnya dalam-dalam. Bagaimanapun caranya ia bisa berada di kamar dan memeluk Dita, itu semua pasti ulah sang ibu.
Tanpa memikirkan Dita yang akan terbangun karena pergerakannya, Vano langsung melepaskan pelukannya begitu saja. Saat otaknya mengingat penyebab ia berada satu ranjang dengan Dita.
"Kak,"
Dita yang terkejut karena pergerakan Vano, langsung menyerukan satu kata tersebut. 'Kak.' Entah untuk siapa panggilan tersebut diserukan. Untuk Alea, atau Vano?
"Jangan berharap banyak dengan pernikahan ini. Meskipun aku mencoba untuk berdamai dengan takdir, bukan berarti aku bisa mencintaimu," sindir Vano, sebelum melangkah keluar dari kamar.
Dita yang heran dengan sikap dan ucapan Vano, terpaku tanpa bisa membuka suaranya lagi.
Perasaan, Dita tidak pernah meminta pria itu untuk menerima perbaikan mereka berdua. Apalagi meminta untuk mencintainya. Entah apa yang terjadi kepada Vano, sehingga pikirannya terganggu.
"Mana mungkin dia baik-baik saja jika tidak yang terjadi padanya," gumam Dita. Kedua alisnya nyaris bertaut memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Vano.
Salah satunya, mungkin saja pria itu terbentur sesuatu saat berjalan. Karena ia yakin semalam Vano pulang dalam keadaan mabuk.
"Kalau benar dia berubah karena terbentur sesuatu, haruskah aku memukul kepalanya sekali lagi agar lebih baik dari hari ini?"
Dita memukul kepalanya sendiri. "Sudahlah, Dit. Jangan banyak bicara. Lebih baik kamu mandi agar kondisi tubuhmu lebih baik. Daripada kamu larut dalam kesedihan dan rasa sakit, yang akan semakin menyakiti hatimu." Meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Saat ini Dita hanya perlu bersabar dan lapang da'da menerima seluruh kenyataan pahit ini. Karena di sini yang terluka bukan hanya dirinya saja. Vano pun begitu.
Dan pikiran itulah yang membuat Dita mulai ikhlas menerima Vano. Meskipun pria itu masih enggan melirik ke arahnya.
"Aku sudah mengikuti keinginan Mama. Jadi, sekarang giliran Mama yang menuruti keinginanku," ucap Vano, begitu sampai di meja makan.
Pria itu langsung meraih sebuah apel berwarna hijau di atas meja. Tanpa mencuci muka dan menggosok gigi, Vano langsung melahap apel tersebut. Bahkan duduk saja tidak.
Tentu saja apa yang dilakukannya membuat sang ibu bergidik ngeri. Bisa-bisanya putra kesayangannya itu makan tanpa bersih-bersih terlebih dahulu.
"Terserah kamu mau apa, Van. Yang jelas kamu letakkan apel itu dan pergilah mandi. Atau setidaknya cuci muka dan gosok gigimu!" ucap Luna, seraya mengibaskan tangannya. Bulu kuduknya benar-benar berdiri melihat kelakuan Vano.
Untuk anaknya sendiri. Kalau tidak, bisa dipastikan Luna akan mengguyur Vano dengan su'su coklat yang ada di hadapannya.
Vano mengangguk. "Kalau begitu katakan pada membantumu itu aku akan membawanya pindah ke apartemen. Sangat tidak baik untuk kesehatan lahir dan batin tinggal bersama mertua sendiri."
Tanpa izin, Vano melangkah dengan cepat meninggalkan Luna, yang ingin membuka mulut untuk menghentikan langkahnya.
"Vano …!" pekik Luna. Seraya meletakkan sendok dengan kasar. "Di depan hidungku saja dia begitu, apalagi di belakangku. Dasar kamu, Van! Lihat saja apa yang akan Mama lakukan saat cintamu beralih kepada Dita."
**
Dita hanya bisa menghela nafas berat. Saat melihat barang-barangnya dikemasi kembali dan dibawa entah kemana. Belum sampai dua puluh empat jam ia berada di rumah tersebut, harus pasrah dibawa pindah entah kemana.
"Bik, itu barang-barangku mau dibawa kemana lagi, ya?" gerutu Dita, kepada salah satu asisten rumah tangga, yang dulunya bekerja di rumah Alea. Akan tetapi, karena ia pindah ke tempat Vano, kini wanita paruh baya itu ikut pindah ke sana.
Namun, kepindahan Dita kali ini tanpa diikuti asisten rumah tangga tersebut.
"Kata tuan Vano, akan dibawa ke apartemen, Nona."
"A-apartemen?" pekik Dita. Meletakkan kembali sendok berisi bubur ayam yang ada di tangannya. Tiba-tiba saja na'fsu makannya menghilang begitu saja. "Bik … jangan bercanda …" lirihnya.
Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Dita. "Bibik tidak becanda, Nona. Itu sudah menjadi keputusan suami Nona. Sebagai seorang istri Nona harus ikut kemana pun beliau pergi."
"Tapi, Bik …"
"Sstt, Non. Tidak baik membantah apalagi melawan kepada suami sendiri. Meskipun pernikahan Nona dan tuan terjadi tanpa cinta. Tapi, ketahuilah, Non. Saat ini tuan Vano sudah sah menjadi suami Nona, jadi itu sebabnya harus menghargai dia sebagai seorang suami. Dan percayalah. Saat almarhumah nona Alea meminta kalian berdua menikah, artinya itu adalah yang terbaik untuk kalian berdua. Karena Bibik sangat yakin non Alea tahu tuan Vano tidak akan menyakiti nona. Tapi, justru akan menjadi sumber kebahagiaan untuk Nona nantinya."
"Aku tidak yakin itu, Bik. Seperti yang Bibik lihat. Dia tidak pernah menganggap aku ada. Dan di hatiku juga masih ada Miko. Pria yang kucintai."
"Bibik tahu itu , Non. Justru itu. Dengan tinggal berdua dengan tuan Vano, Bibik yakin akan menumbuhkan bibit cinta di hati kalian berdua. Dan orang pertama yang harus membuka diri adalah Nona sendiri. Lupakan tuan Miko, dan belajarlah mencintai tuan Vano. Meskipun banyak penolakan darinya."
"Bik …,"
"Percayalah. Ini adalah cara bagi Tuhan untuk menyatukan kalian berdua. Jika kalian tidak berjodoh, belum tentu pernikahan akan berlangsung dengan lancar. Pasti ada saja halangan yang akan menggagalkan pernikahan kalian berdua."
Dita yang sedang mengaduk-aduk bubur ayamnya, hanya mengangguk pelan. Tubuhnya memang berada di sana, akan tetapi pikiran dan pandangannya melayang entah kemana.
Ia tampak mencerna apa yang dikatakan oleh asisten rumah tangganya tersebut. Benarkah ia harus ikhlas menerima pernikahan ini dan melupakan Miko? Lalu meluluhkan hati Vano, yang lebih keras dan dingin daripada es di kutub Utara.
"Ck, bukannya bersiap malah duduk manis di sini," umpat Vano, seraya menarik tangan Dita. Membuat gadis itu tersentak dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang makan.
Entah berapa lama ia tertegun sehingga sang asisten rumah tangga yang sedari tadi mengajaknya berbicara, sudah berganti dengan Vano. Lebih parahnya lagi, Vano langsung menarik tangannya, sehingga langkahnya terseok-seok mengikuti langkah panjangnya.
"Van, tidak bisakah kamu lembut sedikit terhadap Dita? Dia ini istri kamu!" sergah Luna. Menarik paksa Dita dari tarikan Vano.
"Aku tahu dia istriku, Ma. Tapi, aku juga sudah memberitahunya untuk segera bersiap. Tapi, apa? Dia malah duduk manis di meja makan," balas Vano, menatap tajam pada Dita yang tengah mengusap pergelangan tangannya. Yang tampak memerah karena cengkraman tangannya tadi.
Luna menarik nafasnya dalam-dalam. "Kalau begini caranya Mama cabut izin untuk membawa Dita ke apartemen!"
"Terserah Mama. Kalau begitu aku akan tinggal di apartemen sendiri, sedangkan Dita di sini. Gampang, kan?"
Vano menarik satu sudut bibirnya. "Aku rasa itu lebih baik," imbuhnya. Sebelum melangkah pergi.
"Vano!!!" pekik Luna, bersiap mengejar putranya itu. Akan tetapi, Dita terlebih dahulu menahan langkahnya.
"Ma, aku ikut kak Vano saja," ucap Dita, sebelum menyusul langkah Vano. Berharap suaminya itu masih menunggu kedatangannya.
Dita bernafas lega. Mobil mewah berwarna hitam metalik tersebut masih terparkir di halaman rumah. Di dalamnya tampak Vano tengah menghubungi seseorang. Itu artinya pria itu belum berangkat bukan karena menunggu kedatangannya, melainkan tertunda karena mengangkat panggilan.
"Aku tidak tahu apakah bisa ikut berkumpul dengan kalian atau tidak. Karena lusa adalah hari pelantikanku sebagai CEO di perusahaan papa. Ada banyak hal yang harus aku persiapkan untuk acara tersebut. Jadi …"
Melihat Dita mendekat, Vano langsung menjeda ucapannya. Ia juga berpindah tempat duduk. Dari belakang kemudi, berpindah ke tempat duduk yang biasa di samping supir.
"Jadi aku absen dulu. Setelah acara selesai, aku akan menghubungi kalian," tuturnya. Sebelum mematikan panggilan tanpa persetujuan dari orang yang ada di ujung panggilan.
"Masuklah. Dan kamu yang menyetir!" pinta Vano, kepada Dita yang berdiri di luar mobil. Menantinya berpindah agar ia bisa masuk dan duduk. Akan tetapi, ternyata ialah yang diminta Vano untuk menyetir mobil tersebut.
Di luar, Dita memang mengangguk. Akan tetapi, di dalam hatinya ia sedikit ragu atas keinginan Vano tersebut. Karena ia masih belum mahir menjalankan mobil. Selain masih trauma dengan kecelakaan yang merenggut nyawa keluarganya, Dita juga baru bisa mengendarainya satu bulan belakangan ini. Karena Miko yang bersikeras ingin mengajarkan, sekaligus menghapus trauma dari kecelakaan tersebut.
Dita yang gugup meremas kuat setir mobil. Sebelum menginjak pedal gas dengan pelan. Sehingga mobil mulai berjalan, dengan kecepatan dua puluh kilometer perjam.
Wajahnya juga tampak memucat saat mobil melaju pelan, membelah jalanan yang cukup padat pagi itu.
Dita juga tampak menahan nafas, setiap kali bayangan kecelakaan itu terlintas di hadapannya. Serta bayangan Miko yang menenangkan dirinya, ketika bayangan itu muncul.
Namun, kali ini Dita harus melawan rasa takut dan trauma itu sendirian. Karena Vano lebih memilih tidur, dengan meletakkan kedua kakinya di dasbor mobil.
Dan sekuat apapun Dita melawan rasa takut tersebut, tetap saja ia tidak mampu melakukannya. Trauma yang dialaminya bertambah parah saat mendengar klakson panjang dari pengemudi mobil yang ada di belakang mobil Vano. Mengingatkannya saat sang ayah membunyikan klakson mobil sedetik sebelum kecelakaan maut itu terjadi.
Brakk!!
"Ayah …!!" pekik Dita. Menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Ia tidak sanggup lagi menepis bayangan buruk dari kecelakaan tersebut. Sehingga mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan. Beruntung mobil tersebut melaju dengan pelan. Sehingga Dita dan Vano tak mengalami luka apapun.
Hanya saja Vano yang sedang menutup matanya, langsung tersentak. Ia terkejut karena Dita menabrakkan mobil kesayangan ke pembatas jalan.
"Dita!! Kau ini …"
Vano menahan umpatannya. Saat Dita mengangkat wajahnya yang begitu pucat dan basah oleh air matanya. Kedua matanya juga memancarkan ketakutan yang amat besar. Ini bukan ketakutan karena takut dimarahi. Akan tetapi, takut karena trauma yang mendalam. Vano bisa melihat dan merasakannya.