"Sampai detik ini aku belum percaya jika kamu adalah suamiku. Aku tidak percaya orang yang selalu aku acuhkan setiap kali menyapaku dalam panggilan telepon, akan menjadi suamiku. Dan kamu adalah pria yang selalu di banggakan oleh kakakku, kini harus terikat denganku di tali pernikahan," gumam Dita di dalam hatinya. Saat membuka mata dan mendapati wajah Vano yang saling berhadapan dengannya. Tanpa ada niat untuk menjauhkan diri dari Vano, Dita terus memandangi dan meyakinkan diri bahwa hanya Vano lah yang harus ada di hati dan pikirannya. Sehingga ia terus menatap dan mengingat dengan jelas bagaimana wajah suaminya sendiri. Meskipun bayangan Miko yang tengah tersenyum padanya, lebih mendominasi pikirannya saat ini. "Terlalu sulit," ucap Dita. Seraya duduk dan menggulung secara asal ra

