Two Devil

1402 Kata
Seorang gadis berdagu tirus tampak menggerutu sepanjang perjalanannya di koridor kampus. Mengeluarkan berbagai sumpah serapah karena harus bangun pagi-pagi sekali demi tugas dadakan dari sang dosen. Tangan memeluk file tugas dengan erat, jika bukan tugas yang menentukan nasib skipsinya nanti, ia tak akan mau repot-repot seperti ini. Pak Duta, dosen bertubuh gembul itu memang suka sekali mempermainkan mahasiswanya. Brukk! "Arghhh, sial!" gerutu gadis itu saat bokongnya berciuman dengan lantai. Sudah kesialan ke berapa pagi ini? Gadis itu mendongak dan memandang sengit seorang pemuda yang tengah berdiri dan memandangnya datar. Sama sekali tidak ada rautnya karena telah menabraknya hingga jatuh. Yang lebih menyebalkan lagi, pemuda itu malah melenggang begitu saja tanpa berniat membantunya. "Woyy!" Pemuda itu berhenti melangkah tetapi tidak menoleh, sedetik kemudian ia kembali melangkahkan kakinya tak peduli. Karena kesal, Ify melepaskan sepatunya dan melmparkan ke pemuda itu. Plakk! One shoot! Sepatu itu mendarat mulus di kepala sang pemuda. Gadis itu tersenyum bangga dan berdiri sambil menepuk-nepuk bokongnya. Ia memungut file tugasnya yang untung sekali masih selamat dan tidak terlempar ke tempat sampah atau ke selokan. Jika saja hal itu sampai terjadi, mungkin ia tak akan berpikir dua kali untuk mengamuk bagai banteng saat itu juga. "Lo cari gara-gara sama gue?" Pemuda itu sudah sampai di depan sang gadis sambil menenteng sepatu milik gadis itu. "Lo yang mulai duluan," balas sang gadis tanpa rasa takut atau terintimidasi dengan tatapan tajam dari pemuda itu. Pemuda itu tersenyum sinis dan melepaskan sepatu milik sang gadis ke tempat sampah. "Minta maaf sama gue!" Sang gadis tertawa sinis. "Gue kira lo nggak paham dengan kata maaf" "Maksud lo apa?" Pemuda itu mulai hilang kesabaran. Beberapa orang yang melihatnya berdiri diam melihat yang terjadi. Mereka cukup tahu diri untuk tidak ikut campur dalam masalah dua orang yang terkenal dengan sifat 'setan' itu. Mario Aditya Haling, adalah mahasiswa semester akhir yang dikenal sangat dingin dan kejam. Meskipun memiliki paras yang tampan rupawan, semua orang yang tahu kepribadiannya pasti berpikir dua kali. Tak hanya kata-katanya yang tajam bak belati, tapi kemampuan bertarungnya tak perlu diragukan lagi. Dia terkenal sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo yang berhasil menjuarai tournamen tingkat Internasional. Sementara sang gadis, Alyssa Saufika Umari adalah gadis dengan tempramen buruk yang memiliki lidah setajam silet dan beladiri selincah Jackie Chen. Tak peduli laki-laki atau perempuan, ia tak pernah pandang bulu. Siapapun yang berusaha mengusiknya, maka ia akan membalas dengan hal yang sama. Meskipun begitu, dua setan itu sangat terkenal dengan kegeniusan mereka. Ify, mahasiswi semester enam yang sudah selesai KKN dan sedang menyiapkan proposal skripsi. Jika dihitung, waktu kuliahnya hanya tiga tahun saja. Begitupun Rio yang sudah menyiapkan acara wisuda tahun ini. Kembali ke tempat kejadian. Antara Ify dan Rio tak ada yang mau mengalah. Keduanya saling ngotot. "Lo yang jalan nggak pake mata makanya nabrak, kenapa kepala gue yang lo timpuk pake sepatu, Gadis Gila!" "Jalan itu pake kaki, Pria Lidi! Sejak kapan jalan pake mata?" Skak mat! Pemuda itu terdiam sesaat, tetapi harga dirinya meronta tak mau kalah. "Terserah lo tapi lo harus minta maaf karena nimpuk kepala gue!" "Emang lo udah minta maaf karena nabrak gue?" "Gue nggak ada waktu buat ngladenin lo. Kali ini, gue maafin lo, tapi lain kali jangan harap!" ucap Rio sambil membalik pergi. "Oh, tidak bisa!" Ify menarik lengan Rio, memutarnya ke belakang dan kakinya terjulur menjegal kaki sang pemuda hingga roboh. Rio menggeram kesal, dengan satu tolakan kaki, ia berhasil berdiri dengan elegan. Matanya yang tajam berkilat marah menatap Ify yang berdiri dengan d**a membusung bangga karena berhasil menumbangkan lawan. "Sekarang impas!" ucap Ify dengan puas. Ia bersiap untuk pergi saat tangannya ditarik. Rio berniat melalukan hal yang sama, tetapi Ify yamg sudah antisipasti melakukan salto hingga kembali mendarat sempurna di atas kedua kaki. Senyum penuh ejekan ia lontarkam menambah geram sang lawan. "Enggak kena, wle!" Orang-orang yang sedari tadi menonton hanya mampu berharap ada yang berani melerai perkelahian dua orang berbeda gender ini. Suasana memanas saat Rio dan Ify semakin tersulut, tetapi suara ponsel Ify membuyarkan aksi saling melotot mereka berdua. "Anjer gue telat!" pekik Ify saat melihat ponselnya. Bunyi tadi adalah set alarm yang sengaja dipasang Ify sebegai pengingat jika tenggang waktu mengumpukan tugas tinggal lima menit lagi. "Kita lanjut lain kali!" Ify membuat gerakan mencolok matanya sendiri kemudian di acungkan ke arah Rio. Rio tersenyum sinis lalu melenggang pergi, begitu pula Ify yang langsung mengambil jurus seribu bayangan agar segera sampai di kantor Pak Duta. Dengan begitu, peristiwa perkelahian pagi ini bersambung. Pentonton bubar, ada yang kecewa, ada yang lega. **** Ify berhasil mengumpulkan tiga detik sebelum waktu selesai. Demi mengganti energi yang sudah ia keluarkan terlalu banyak pagi ini, Ify memutuskan untuk ke kantin. Lagipula Sivia tadi juga bilang kalau dia sedang ada di kantin. Sesampainya di kantin, Ify mengedarkan pandangan dan menemukan sahabatnya itu tengah asik menyantap semangkuk soto di meja paling pojok, meja favorit mereka berdua. Selain dekat dengan jendela, di meja sini adalah tempat yang strategis untuk mengamati keadaan sekiatr. Meski Ify tak peduli dengan itu, tetapi ada kejadian lucu di kantin yang membuatnya bisa tersenyum meski sedikit. Jangan tanya Sivia, gadis itu sudah tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Pernah terjadi saat Dayat, mahasiswa fakultas teknik yang dikerjai oleh teman-temannya. Pemuda bertubuh gempal itu kalah bermain Truh or Dare dan harus mengungkapkan perasaan untuk orang yang dicintainya. Untung suaranya bagus, dan Ify pun ikut menikmati, belum lagi teman-teman yang mengiringi dengan beatbox atau gebrakan meja yang berirama. Yang lucu, Dayat menyatakan cintanya kepada Irma, orang yang telah menantangnya. Sontak saja gelak tawa lengkap ejekan terdengar di seluruh penjuru kantin. "Vi!" "Uhuk!" Dengan cepat, Ify mengambilkan air putih dan langsung diminum oleh Sivia hingga tandas. Setelahnya, gadis berambut sebahu itu terbatuk-batuk dan matanya memerah. "Datang salam dulu, kek! Nggak tiba tiba tiba-tiba kaya jailangkung," gerutu Sivia yang tak dipedulikan oleh Ify. Gadis berdagu tirus itu menaruh tasnya dengan kasar di meja dan menuju ke tempat penjual bakso untuk memenuhi hasrat laparnya. Belum lagi, ia tidak sempat makan karena buru-buru. Lima menit menunggu, Ify berhasil membawa bakso dengan uap yang masih mengepul ke mejanya. Sivia telah selesai makan, tetapi gadis itu tak berhenti mengunyah. Satu bungkus keripik singkong telah habis setengahnya. "Kenapa lo?" tanya Sivia begitu Ify sudah duduk di kursinya. Ify menaikkan sebelah alisnya.  "Memangnya kenapa?" "Berita lo yang berkelahi sama kating udah nyebar kali. Jadi hot news di pagi hari. Emang ada apaan, sih?" Ify mendengus keras, itu sudah tak heran dengan hal seperti ini. "Kepo!" balasnya singkat lalu sibuk meniup bulatan-bulatan nikmat agar bisa cepat ia nikmati. Perutnya sudah berdemo dengan keras sedari tadi. Sivia cemberut, bibirnya maju lima senti dengan tangan bersedekap di d**a. Kepalanya ia palingkan ke kiri sebegai tanda ia sedang ngambek dan tak mau melihat Ify. Meskilun begitu, Ify tak ambil peduli. Gadis itu sibuk mendesis nikmat karena rasa pedas dan panas yang bercampur menjadi satu. "Bisa nggak sih, kalau orang ngambek itu dibujuk atau gimana gitu," gerutu Sivia meski ia yakin itu tak akan terjadi. Ify menghentikan acara makannya dan melihat Sivia dengan alis yang terangkat sebelah. "Malas.!" Sivia menghembuskan napasnya kesal. Percuma! Meminta Ify untuk urusan bujuk membujuk adalah hal yang sia-sia, berbeda jika meminta Ify untuk baku hantam, maka ia akan maju paling depan. **** Rio masuk ke dalam mobilnya sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit akibat lemparan sepatu dari gadis menyebalkan yang ia temui pagi tadi. Tenaga gadis itu lumayan juga. Jika dipikir-pikir, kejadian tadi sangat memalukan, apalagi saat ia jatuh karena bantingan dari seorang gadis. GADIS, memalukan! Selama ini Rio selalu bertarung dengan laki-laki, ia selalu bisa membuat lawan bertekuk lutut, tetapi apa yang ia alami tadi? Hanya karena ia yang kurang waspada dan berpikir gadis itu sama dengan gadis lain. Ternyata, ia telah salah sangka. Rio tak tahu siapa gadis itu, tapi sepertinya ia akan mencari tahu latar belakang gadis itu. Jika kalian menyangka masalah selesai saat itu juga, kalian salah. Rio adalah orang yang pantang kalah, apalagi dengan seorang gadis. Sambil menjalankan mobilnya keluar dari area kampus, Rio menghubungi asisten pribadinya. "Vin, gue butuh lo buat selidikin seseorang." Setelah mengatakan tentang orang yang perlu diselidiki, Rio memutuskan panggilan dengan sepihak. Bibirnya mengulas senyum sinis. "Lihat aja gadis setan, lo akan tahu rasanya neraka buatan gue!" Tak menunggu lama, satu notif dari Alvin membuat Rio semakin tersenyum lebar. Nama: Alyssa Saufika Jenis kelamin: Perempuan Umur: 20 tahun Status: Mahasiswa Alamat: - Nama orangtua: - Jurusan studi: Manajemen bisnis Semester: 6 (sedang masa pengajuan proposal skripsi) Rio mengerutkan keningnya heran saat biodata yang ia dapat tidak lengkap. Kenapa alamat rumah dan namanya tidak ada? Rio tidak pernah meragukan keahlian Alvin dalam hal IT, bahkan pemuda tidak pernah berhasil meretas sistem f*******: meski hanya sesaat. Berarti ada hal yang tidak beres, gadis itu dengan sengaja menyembunyikan identitasnya. Entah apa yang ia sebunyikan, tetapi Rio merasa perlu mengawasinnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN