Ketegangan kembali terjadi. Kali ini terjadi di parkiran kampus. 'dua setan' itu tampak bersitegang dan saling melepaskan tatapan membunuh. Lagi dan lagi mereka di pertemukan dengan cara yang berbeda. Entahlah! Mungkin takdir berniat menjodohkan mereka.
Saat itu Ify sedang meletakkan sepedanya di parkiran . Ekspresinya datar seolah tak peduli dengan pandangan aneh dari orang-orang . Bagaimana tidak aneh ? Seorang Ify Yang biasanya memakai mobil mewah hari ini memakai sepeda . Dengan cuek Ify pun berlalu dari parkiran. Namun, belum jauh ia melangkah tiba-tiba terdengar suara .
BRAAKK !!!
Awalnya Ify berniat tak peduli, tapi saat melirik dari ekor matanya , Ify melihat hal sepedanya yang kini sudah tak berbentuk , dengan menahan amarahnya, Ify berbalik untuk menemui pemilik mobil mewah yang kini bersender angkuh di pintu mobilnya .
" Heh! Mata lo buta?" sembur Ify tak ada sopan sama sekali . Menurutnya sopan sudah tidak berlaku untuk pemuda sok di hadapannya ini .
Pemilik mobil itu Rio, pemuda yang sama yang kemarin menabraknya.
" Lo budek?" Ify mencoba mengendalikan emosinya , bicara dengan patung hidup memang merepotkan .
" Nggak," jawabnya singkat .
" Mata lo buta? Lo nggak lihat ada sepeda di sini? Lo harus tanggung jawab , ganti sepeda gue!"
" Males, siapa suruh parkir sepeda di sini." Lagi dan lagi jawaban itulah yang Ify dapatkan. Ingatkan Ify untuk tidak membunuh pemuda menyebalkan di hadapannya ini .
" Mau lo sebenarnya apa, sih?"
" Gue mau ke kelas ," jawab Rio santai Lalu melenggang pergi , meninggalkan Ify yang semakin tersulut emosi .
" Pengecut!" gumam Ify pelan tapi cukup terdengar oleh telinga Rio. Hal itu rupanya membuat Rio bereaksi, terbukti saat ia berhenti berjalan lalu membalikkan tubuhnya menatap Ify tajam dan di balas tak kalah tajam oleh Ify . Tak ada suara, hanya tatapan tajam yang seolahh melukiskan semuanya . Ibarat novel fantasi , mungkin mata itu sudah memancarkan api yang akan membakar siapa pun di depannya . Nyatanya sekarang mereka semakin terlarut dengan amarah yang menggebu hingga tak menyadari suara yang menegur mereka .
Tak ada yang berani melerai jika tidak mau olahraga jantung seperti Cakka kemarin. Mereka hanya berharap ada malaikat baik hati yang memilih mereka.
"Rio, Ify apa yang kalian lakukan?" sebuah suara tampak memecah keheningan.
Mereka yang melihat menghela nafas lega. Malaikat pemisah telah datang.
"Rio, Ify kenapa kalian diam saja? Apa yang kalian lakukan?" tanya Bu Ira geram karena Rio dan Ify hanya diam dan saling melepaskan tatapan tajam.
"Diam!!!" sentak mereka tanpa melihat sang penanya. Semua yang ada di situ tampak melongo, terkejut mendengar jawaban yang sungguh tak terduga. Sementara Bu Ira semakin geram dengan mereka.
"Rio, Ify ikut ke ruangan Saya!" perintah Bu Ira tak terbantahkan.
"Ogah!" sahut mereka serentak, tapi sedetik kemudian mereka mengerti ada yang tidak beres sini.
Kalian ikut ke ruangan saya . Kata-kata itu seolah menyadarkan Rio dan Ify. Dengan cepat mereka menoleh dan mendapati Bu Ira yang menatap mereka tajam, dan jangan lupakan tanduk yang sudah mulai muncul. Rio dan Ify hanya mampu meneguk ludah, mereka tidak takut, hanya saja terlalu malas jika harus berurusan dengan yang namanya kantor.
Dengan malas, Rio dan Ify mengikuti Bu Ira ke kantor, dalam hati mereka saling mengumpat dan menyalahkan.
Sial , gara-gara cewek jadi-jadian gue kaya gini . Rio membatin kesal. Sesekali melirik Ify yang berjalan tenang di sebelahnya.
Sialan , udah sepeda gue hancur kena masalah pula, awas lo barang tunggu pembalasan dari gue . Batin Ify dengan senyum evilnya. Ia pun melirik ke arah Rio yang juga meliriknya, satu detik mata mereka bertemu lalu serempak melengos.
____
Di ruangan ini tampak hening, tak ada suara apapun selain lirikan sinis dari dua remaja yang kini sedang duduk bersebelahan itu. Bu Ira menghela nafasnya jengah melihat kelakuan anak didiknya itu.
"Bisakah kalian jelaskan apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Bu Ira lagi.
"Tanya aja sama si item!" Sahut Ify ketus tanpa mempedulikan jika yang bertanya adalah dosennya sendiri.
Rio mendelik tak terima mendengar jawaban Ify. Namun mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bisakah di jelaskan Rio?" tanya Bu Ira kali ini ke Rio.
"Nggak ada yang perlu di jelaskan," sahut Rio singkat.
Bu Ira diam sambil memegang emosinya, disetujui hukuman yang cocok untuk mereka berdua.
"Baiklaj, sepertinya kalian memang menantikan hukuman dari Saya, minggu depan ada festival musik di Jakarta dan Ibu akan meminta nama kalian berdua sebagai perwakilan dari universitas kita," kata Bu Ira memutuskan.
"Tapi, Bu, kenapa harus kita, sih?" protes Ify.
"Tidak ada tapi-tapian Ify, ini hukuman untuk kalian berdua," kata Bu Ira tegas.
Rio dan Ify menghela pasrah lalu beranjak bangkit dari kursinya.
"Ingat, waktu kalian tinggal satu minggu lagi." Rio dan Ify tak menanggapi sama sekali dan keluar begitu saja sementara Bu Ira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah tak sopan dari anak didiknya itu.
___
"Gila lo Fy, hobi bener setiap hari berante. mulu sama Rio?" tanya Sivia, sahabat Ify. Sebenarnya tidak bisa dikatakan sahabat karena Ify selalu memilih jutek dan cuek untuk Sivia, tetapi jika Sivia perlu pertolongan maka Ify selalu ada di garis depan untuk menolong, demikian pula sebaliknya. Dan inilah yang membuat mereka dekat.
"Kok diem aja sih, Fy?" Sivia bertanya tak sabar karena melihat Ify tetap diam sambil menunggu baksonya dengan tenang, saat ini mereka sedang berada di kantin, mengisi perut mereka yang kosong, disediakan Ify yang energinya terkuras habis hanya untuk bertengkar dengan Rio.
"Berisik lo!" ketus Ify setelah memakan bakso terakhirnya.
"Gue kan kepo, Fy!" balas Sivia tak mau kalah, keketusan Ify sebagai hanya angin lalu buat Sivia karena ia sudah terlalu kebal menghadapi sifat seperti ini.
"Bukan urusan lo juga kan?" tanya Ify sarkastik.
Sivia bungkam jadi kehabisan ide untuk diangkat 'sahabatnya' ini.
Drrrtttt ...... Drrtttttt.
Jika berjalan keluar karena ponselnya berbunyi, ambil Mempedulikan. Setelah mengatur kondisi sepi dan aman ia pun mengangkat telfonnya.
"Halo ...."
"...."
"Apa yang terjadi?"
"...."
"Gue akan kesana nanti, untuk sementara lo tangani dulu!"
Klik.
***