Latihan

872 Kata
Festival musik tinggal empat hari lagi, tapi boro-boro latihan, Rio dan Ify bahkan tidak pernah bertemu lagi setelah hari itu. Hal ini membuat Bu Ira geram dan memanggil mereka berdua. "Apa saja yang kalian lakukan? Festival musik tinggal empat hari lagi tapi kalian belum latihan sama sekali?" semprot bu Ira kesal. Rio dan Ify hanya memandang malas ke arah bu Ira, tak ada niatan untuk membantah atau membela diri. "Ibu tidak mau tahu, sekarang juga kalian latihan, saya akan mengawasi kalian," titah Bu Ira. "Saya ada presentasi." "Saya ada kepentingan." Rio dan Ify berucap bersamaan. "Tidak ada bantahan! Soal presentasi Ify bisa menyusul,  saya yang akan bicara dengan dosen pembimbing kamu, dan untuk Rio, pokoknya Ibu tidak mau tahu kamu harus kosongkan jadwal kamu hari ini, minimal selama 3 jam dari sekarang!'' tegas Bu Ira. Rio dan Ify hanya menghela napas pasrah, jika di suruh memilih, mereka lebih memilih mengerjakan soal seratus lembar daripada nyanyi-nyanyi nggak jelas, unfaedah, itu menurut mereka. Ruang musik kosong saat mereka sampai disana, semua alat musik terlihat lengkap berjejer rapi di sudut ruangan. "Sekarang Ibu mau kalian latihan disini, Ibu akan mengawasi latihan!" ucap Bu Ira sambil berjalan ke salah satu kursi yang ada di tengah ruangan. Rio dan Ify tak bergeming dari tempatnya. Raut wajah malas seolah menggambarkan perasaan mereka saat ini. "Apa yang kalian lakukan di situ?" tanya Bu Ira karena Rio dan Ify tetap diam di tempat. Dengan perlahan mereka melangkah ke tempat  Bu Ira lalu mengambil tempat duduk yang berada di depan Bu Ira. "Di antara kalian siapa yang bisa memainkan alat musik?" tanya Bu Ira. Rio dan Ify saling melirik lalu melengos secara bersamaan. Bu Ira menghela nafasnya, akan sulit untuk membuat 'dua setan' ini akur. ''Alat musik apa yang kamu bisa, Rio?" tanya Bu Ira menahan kekesalannya, karena sejak tadi ia hanya mengoceh sendiri sementara dua anak didiknya ini seolah sudah di stel untuk menjadi pendengar saja. "Semuanya," jawab Rio singkat. "Kalau Ify ?" "Semuanya," sahut Ify singkat juga. Bu Ira tampak memandang takjub kepada Rio dan Ify. Tidak salah ia memilih mereka berdua untuk mewakili ajang tersebut, memang multitalent , padahal Bu Ira tidak pernah tau dengan kemampuan mereka. Ajang festival musik pun hanya menjadi salah satu upaya Bu Ira untuk membuat mereka akur. "Kalau begitu sekarang kalian coba duet memainkan alat musik dulu, nanti baru kalian duet nyanyi!" perintah Bu Ira. Dengan malas Ify beranjak ke arah grand piano putih di sudut ruangan, menekan tuts tuts nya mencari nada yang pas. Sementara Rio mengambil salah satu gitar yang terpajang berderet di dinding dan mulai memetik senarnya untuk mencari nada yang pas. "Lagunya apaan?" tanya Ify malas.   "Terserah lo!" sahut Rio ketus. "Sudah! Ibu yang akan menentukan lagunya," Bu Ira menengahi. "Sekarang kalian mainkan lagu love yourself milik Justin Bieber !" lanjutnya. Dentingan nada mulai mengalun, membuat siapapun yang mendengarnya seolah terhanyut suasana. Bu Ira pun sampai ikut bersenandung karena musik yang di mainkan begitu indah. Bu Ira tersenyum lebar saat permainan Rio dan Ify selesai. "Bagus Rio, Ify, tak salah Ibu memilih kalian, kalau kaya gini Ibu yakin kampus kita akan menang," puji Bu Ira bangga. "Sekarang kalian main musik sambil nyanyi, untuk lagunya sepertinya cocok yang seluruh cinta milik Siti Nurhaliza & Cakra Khan," perintah Bu Ira. Tanpa bantahan, Rio dan Ify segera memainkan nada-nada yang memabukkan belum lagi suara lembut mereka membuat Bu Ira baper sendiri. Tanpa di sadari Rio dan Ify, Bu Ira mengambil video dan segera di unggah ke youtube. Belum lima menit 1K like sudah terpampang di layar ponsel Bu Ira. Bu Ira hanya tersenyum puas melihat hasilnya , kini ia yakin Universitas Garuda akan menang di festival nanti. "Sudah 'kan Bu?" tanya Rio malas saat mereka telah selesai membawakan lagu yang di perintahkan Bu Ira. "Ibu sangat suka permainan kalian, sungguh kalian sangat cocok, Ibu seperti melihat konser dadakan saja," puji Bu Ira dengan mata berbinar. Ify hanya memutar bola matanya jengah. Itu belum seberapa, batinnya. "Besok kalian latihan lagi, Ibu tidak menerima bantahan," ucap Bu Ira cepat karena melihat Rio yang ingin membantah. "Kalian harus latihan setiap hari sampai festival musik nanti tiba, Ibu percaya kalian adalah orang yang bertanggung jawab, yah meskipun susah diatur," ucap Bu Ira di selingi kekehan kecil di akhir kalimatnya. Rio dan Ify hanya mendelik tak terima mendengar ucapan Bu Ira namun tak memberikan komentar apapun. Ify melirik ke arah Rio yang juga sedang meliriknya. "Ngapain lihat- lihat?" sentak mereka bersamaan. "Suka-suka gue lah!" jawab mereka secara bersamaan lagi. "DASAR PLAGIAT LO!" teriak mereka bersaman membuat Bu Ira harus menutup kedua telinganya. Untung saja ruang musik adalah ruang kedap suara sehingga tak akan ada orang lain yang mendengarnya. Dering ponsel menghentikan perdebatan mereka, kali ini ponsel Rio yang berbunyi. Sedikit menjauh dari tempat Ify dan Bu Ira, Rio lalu mengangkat telfonnya. Entah apa yang di bicarakan tapi tangan Rio terkepal kuat dan wajahnya memerah menahan emosi. Tanpa mengucapkan apapun Rio keluar dari ruangan musik, bahkan tanpa melirik sedikitpun ke arah Bu Ira dan Ify. "Mau kemana kamu, Rio?" teriakan Bu Ira tak di pedulikan Rio, ia melangkah cepat dan menutup pintu dengan kasar. BRAKK!! Bu Ira hanya mengelus dadanya kaget sementara Ify hanya mengangkat bahu tak peduli lalu menyusul keluar meninggalkan Bu Ira yang masih shock. ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN