DITYA CORP

799 Kata
Seorang pemuda tampak terburu-buru, ia tidak mempedulikan tatapan kagum dan memuja dari para karyawannya. Bos mereka memang tampan, jika memakai setelan formal saja cukup membuat jantung marathon, maka setelan santai saat ini menambah kadar ketampanannya naik lima puluh persen, dan mampu membuat jantung mereka berhenti berdetak. "Apa kalian di bayar hanya untuk ini?" tanya pemuda itu dingin. Karyawannya gelagapan. Mereka mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tak ada yang berani menentang. Memang tampan, tapi jangan pernah mencari masalah dengannya. Ia adalah iblis tampan yang mematikan. Setelah memastikan semua karyawannya bekerja dengan benar, pemuda tadi segera berjalan menuju lift khusus dan memencet tombol untuk naik ke ruangan yang di inginkannya. Ting! Pintu lift terbuka, dengan langkah yang masih terburu-buru pemuda tadi menyusuri lorong dan masuk ke sebuah ruangan, bahkan sapaan sekretarisnya pun tak di hiraukannya. "Alvin, tolong ke ruangan saya sekarang!" ucap sang pemuda setelah telfonnya di angkat, tak menunggu jawaban dari lawan bicara ia pun segera menutup telephone dan menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Tak lama pintu di ketuk dan masuklah seorang pemuda chinese sambil membawa sebuah map di tangannya. "Selamat siang Pak Adit! Ini berkas yang kemarin bapak minta," ucapnya dengan sopan. Sang pemuda hanya menganggukkan kepala dan memberi isyarat untuk meletakkan berkas itu di meja. "Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya pemuda chinese itu setelah ia di persilahkan duduk oleh atasannya. "Tolong kamu kumpulkan semua dewan direksi, kita akan mengadakan rapat mendadak!" perintahnya dengan suara bossy. Meskipun usianya masih muda, tapi aura kepemimpinannya sangatlah kuat, tak heran bila ia begitu di hormati oleh semua orang. Kariernya yang begitu melejit bahkan sampai merambah mancanegara membuatnya menjadi sosok yang begitu di idolakan semua kaum hawa, tapi jangan lupakan bahwa ia adalah iblis tampan yang mematikan. "Baik, Pak!" jawab Alvin lalu keluar ruangan. Sepeninggal Alvin, pemuda yang bernama Adit itu pun segera beranjak ke kamar yang memang dibangun khusus di ruangannya jika ia sedang lembur ataupun malas pulang kerumah. Setelah mandi dan berganti pakaian dengan stelan formal, ia pun berjalan keluar ruangan menemui sekretarisnya. ''Kalau ada yang mencari saya, katakan jika saya sedang meeting dan suruh dia menunggu!" "Baik, Pak!" jawab sang sekretaris. Adit pun segera berlalu menuju ruangan yang akan di gunakan untuk meeting. Saat ia masuk semua anggota sudah lengkap tinggal menunggu dirinya untuk memulai acara. "Langsung saja saya akan memulai meeting hari ini, sebagian dari kalian mungkin sudah tau apa yang akan kita bahas dalam rapat kali ini," Sebagian orang tampak menganggukkan kepala sementara sebagian lagi tampak diam menunggu kelanjutan ucapan dari atasan mereka. "Jadi, bagaimana bisa kita kecolongan?" Nadanya memang rendah, tapi cukup membuat orang-orang meneguk ludah takut kecuali Alvin yang tampak duduk tenang di sebelah Adit. "Maaf, Pak! Ada orang dalam yang berkhianat dan membocorkan rahasia kita kepada musuh, tapi untung saja belum semua rahasia kita terbongkar, sehingga musuh belum bisa menjatuhkan kita," ucap seorang anggota dengan nada takut. "Ceroboh! Apa saja yang kalian lakukan sampai tidak menyadari ada pengkhianat?'' Semua orang menunduk menghindari tatapan tajam dari Adit, tak ada yang berani membuka suara membuat Adit semakin geram. "Saya tidak mau tau, secepatnya kalian temukan pengkhianat itu dan bawa ke hadapanku hidup atau mati!" ucap Adit tegas lalu beranjak keluar di ikuti oleh Alvin. Semua orang tampak menghela nafas lega seolah baru saja terbebas dari maut. Memang sang atasan begitu tegas dan otoriter dan itu juga yang membuat mereka berpikir dua kali untuk berkhianat jika tidak mau bernasib sama dengan ikan bakar yang ditusuk-tusuk. Lagipula bisa bekerja di DITYA CORP adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka, tak sembarang orang bisa masuk dan bekerja di situ, tes nya begitu sulit bahkan harus bertaruh nyawa. Perusahaan adidaya yang bergerak dalam bidang teknologi itu menjanjikan kehidupan yang menggiurkan untuk pegawainya. Bagaimana tidak ? Jika gaji seorang office boy/girl saja setara dengan gaji seorang manager di perusahaan lain. Tak ayal perusahaan ini begitu diincar oleh musuh. Berhasil menguasai DITYA CORP, maka mereka berhasil menguasai Asia. Namun sepertinya tak mudah bagi mereka untuk menggulingkan perusahaan itu, meskipun sang pemilik bisa di katakan bocah, tapi jangan lupakan otaknya yang di atas rata-rata selalu bisa menyelesaikan masalah di kantornya. Tak ada yang tau wajah asli dari pemilik DITYA CORP kecuali para karyawannya, karena memang ia sering melakukan berbagai penyamaran untuk mengecoh musuh. Perusahaan ini tentu saja tidak langsung besar begitu saja, di mulai dari nol, Adit merintis usahanya sejak ia duduk di bangku SMA kelas 2, hingga saat ini perusahaannya mencapai puncak kejayaannya. Tentu saja Adit juga tak melupakan jasa seseorang yang begitu besar untuknya, membantunya bangkit dan juga membantunya mendirikan perusahaan ini, namun sayang, mereka berpisah 3 tahun yang lalu dan Adit masih mencari keberadaannya sampai sekarang. "Alvin, tolong kumpulkan team gold , dan suruh mereka untuk menyelidiki kasus ini!'' perintah Adit saat mereka sudah keluar dari ruangan meeting. "Baik, Pak!" ucap Alvin lalu berjalan berlawanan arah dengan Adit untuk melaksanakan tugasnya. ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN