Nayla kembali ke rumahnya, rumah yang sudah lama sekali ia tinggalkan. Rumah kenangan bersama Raditya. Ia sudah begitu banyak memeras air mata hingga tak mampu lagi menangis saat menyaksikan betapa menyedihkannya rumahnya kini. “Jangan nangis, Nay,” bisik Nayla pada dirinya sendiri. Namun dadanya masih terasa sesak, rasa nyeri yang belum hilang sejak lama. Kematian Raditya, kematian Utie, lalu berakhirnya hubungannya dengan Ben, kemudian bayi yang di kandungnya terasa jadi beban. Nayla tersengal, kesulitan bernapas. Di teras rumah yang halamannya sudah dipenuhi semak belukar rumput yang semakin semrawut, Nayla terduduk di kursi rotan teras, lemas. Di sapunya sekeliling rumah, halamannya yang luas, yang di kelilingi banyak pohon cemara. Di rumah itu ia mengingat saat pertama kali bertemu

