Sudah beberapa hari Nayla terkurung di kamar hotel. Tanpa bisa melarikan diri. Ben menjadi sangat posesif dan tak terkendali. Ia marah pada Nayla yang keras kepala. Gadis itu mogok makan, malas diajak berbincang, tetapi tak jarang ia pun menyemprotkan kekesalannya bicara cepat dan meledak-ledak. Nayla membenci sikap Ben yang tak pernah mengerti apa maunya, sedangkan Ben marah sebab Nayla begitu kepala batu. Nayla berharap Hadi akan datang menyelamatkannya, membawanya pergi jauh-jauh dari cengkeraman Ben. Sayangnya, tak seorang pun yang datang mencarinya, kecuali Willona. Nayla tahu Willona menghubungi Ben, sayangnya saat Ben menerima telepon dari temannya itu, Ben memilih keluar dari kamar hotel. “Ben, di mana Nayla?” tanya Willona, tepat dugaan Ben bahwa gadis itu sudah mengetahui bahw

