Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Ben, saat Nayla dipaksa masuk ke kamar hotel oleh Ben. Di kamar itu hanya mereka berdua, kamar hotel yang sudah Ben sewa sejak semalam saat menunggu Smith yang sedang dinner bersama Natalie. “Tampar lagi yang keras!” teriak Ben menyodorkan pipinya yang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus. Brewoknya sangat berantakan membuat Nayla berpikir Ben memang tak lagi memerhatikan penampilannya sejak lama. Nayla merasa tubuhnya sangat lemas. Ia terduduk di bibir ranjang, seakan seluruh tubuhnya tak memiliki tulang belulang. “Aku nggak tau mau kamu apa, Dave,” lirih Nayla tanpa melihat wajah Ben, wajahnya tertunduk dalam-dalam. “Memilikimu, Baby. Apa lagi?” Perlahan, Ben duduk berjongkok di hadapan Nayla, disentuhnya dagu gadis itu hingga wajah cantikny

