Wajah Willona memerah, didorongnya tubuh Ben menjauh. “Ben, ini nggak benar. Kamu jahat!” teriak Willona tertahan, ia berusaha menahan deraian air mata yang siap luruh begitu saja. Ciuman tadi benar-benar membuatnya membuatnya ... sakit. Ben tidak mencintainya tapi sentuhan itu sungguh b*******h. “Maaf.” Hanya itu yang dikatakan Ben, semakin membuat hati Willona meradang. Hanya maaf? “Aku tau kamu nggak menyukaiku, Ben. Kenapa kamu melakukannya?” ucpa Willona sendu, kini matanya sudah basah. Ben terkesiap, keningnya berkerut. “Apa itu penting bagimu, Will?” tanya Ben penuh penekanan. Willona terdiam. Taman bunga yang sejak tadi sempat membuatnya kagum, kini terlihat memuakkan. Keindahan itu sirna. “Aku harus pulang, Ben. Maaf, kedatanganku ke sini hanya untuk menyampaikan kalau ...

