Dahi Tama berkerut dalam. "Yang mana yang Bos tanyakan saat ini?" tanyanya bingung, karena keinginan Pandu bukan hanya satu. Dia takut salah menjawab. "Yang mana lagi jika bukan soal Amanda? Bukankah aku sudah mendesakmu untuk mencari alamat rumahnya berkali-kali? Aku selalu mengingatkanmu tentang hal ini, kenapa kamu tidak pernah memberikan laporan padaku?" tanya Pandu memberondong dengan nada yang sedikit tidak senang. "Maaf, Bos. Maafkan saya karena lupa," jawab Tama cepat-cepat membela diri. Pandu hanya berdecak, lalu kembali menatap asistennya itu dengan tajam. Tanpa bersuara pun, Tama sepertinya tahu jika dia membutuhkan jawaban. "Sebenarnya, saya belum menemukan alamat Nyonya Amanda. Tetapi saya pernah berbicara dengannya saat bertemu beberapa hari yang lalu," ucap Tama memu

