9

1612 Kata
Selang sepuluh menit kepergian Alp, Elen datang ke BSBI untuk mengurus beberapa berkas penting mengenai pengunduran dirinya sebagai mahasiswi. Agar tidak berada di lingkup yang sama dengan Alp, ia mengambil langkah yang baginya sangatlah tepat. Setelah menyelesaikan segala hal berbau administrasi, Elen mengunjungi beberapa kampus di Berlin yang bersedia menerimanya sebagai mahasiswi pindahan. Dan pilihannya jatuh pada Universitas Humbold Berlin di mana tempat ini akan menjadi kampus ke empat dalam kurun waktu empat bulan ia berkuliah. Ironis sekali. Terlepas bagaimana cara ia mengambil keputusan. Elen hanya tidak ingin menyesal karena penyesalan tak akan pernah bisa merubah keadaan. Benar atau salah, dia atau Alp, intinya ia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Ia berharap tidak akan ada kebetulan bodoh atau pertemuan yang tidak disengaja ataupun hal semacamnya yang dapat mempertemukan mereka. Karena tak ada urusan lain yang mengharuskannya untuk berada di luar, Elen memutuskan untuk kembali ke rumah lalu melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur setibanya ia di sana. Dan belum semenit ia berbaring, kontak bernama daddy memanggil. ‘’Ayah dengar kau memutuskan untuk pindah kampus lagi.’’ ‘’Benar.’’ jawabnya dibarengi tawa. Menatap langit-langit membayangkan ekspresi sang ayah yang bertanya-tanya mengenai alasan dibalik kepindahan itu. ‘’Kali ini apa masalahnya, Sayang?’’ ‘’Hanya percekcokan kecil. Tidak lebih.’’ Wajah Alp sontak memenuhi pandangannya. Mata yang menyalak tajam, tangan yang bergerak kasar, mulut yang mengeluarkan kalimat ancaman dan dari semua itu, ekspresi menyebalkan adalah hal yang paling membuat Elen kesal. ‘’Kalau begitu, untuk menghiburmu, ayah akan kembali hari ini.’’ Elen bangun dari tidurnya, bereaksi tak percaya. ‘’Tapi, bukankah seharusnya…’’ ‘’Surprise.’’ Elen berpikir mungkin hari ini dia tidak harus makan malam sendirian ataupun tidur tanpa ucapan selamat malam yang dikatakan secara langsung. Ah, sangat menyenangkan. Sejenak hening. Sang ayah kembali berbicara. ‘’Hari ini akan diadakan pertemuan aliansi. Kau sudah berusia delapan belas tahun dan posisi itu tidak bisa dibiarkan kosong lebih lama lagi. Ayah butuh jawaban darimu sesegera mungkin, El. And it’s the day you have to answer that question.’’ Elen berseru kecil. Lalu menepuk keningnya. God, bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting itu. Dia tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang meski untuk setahun ke depan bila belum memberikan jawaban atas pertanyaan yang sudah diajukan padanya sejak usianya menginjak sembilan tahun. Meminta tambahan durasi pun tentu tidak akan diizinkan. Sebab satu dekade adalah waktu yang terbilang cukup untuk sekedar berpikir. Bahkan bisa dikatakan lebih dari cukup. Suasana hening kembali. Elen menatap pilu pada pantulan yang ada di dalam cermin. Apakah sudah saatnya? Apakah sekarang waktu yang tepat untuk bergabung ke dunia yang sudah lama ia hindari? Narkotika, pencucian uang, perjudian, prostitusi dan berbagai hal di bidang kejahatan yang bertentangan dengan hukum Negara. Apakah ia siap? Tentu tidak. Tapi Five Erland adalah nyawa bagi sang ayah. Dan ayahnya adalah jantung kehidupan bagi seorang Elen. Hanya laki-laki itu yang Elen miliki. Teman bicara sekaligus pria yang ia cintai di dunia ini. Sebenarnya ia memiliki teman mengobrol lain, tapi sayangnya ia hanya bisa bercerita dan tidak dapat berkomunikasi secara dua arah karena nisan sang ibu hanya diam membisu. Setelah menjadi piatu, Elen hanya diasuh oleh sang ayah yang berperan menjadi dua sosok sekaligus. Menemaninya setiap hari hingga Elen mengerti dunia seperti apa yang sedang ia dan ayahnya jalani. Ia belajar menerima dan memahami bahwa tidak semua hal baik itu benar-benar baik dan tidak semua hal jahat itu benar-benar buruk. Selalu ada dua sisi berbeda dari suatu sudut pandang. Seorang kriminal yang membesarkan seorang anak dengan penuh cinta dan pasangan harmonis yang tega menghabisi anak sendiri adalah subjek yang sama namun dengan perlakuan yang berbeda. Itulah kenapa tidak dibenarkan memandang seseorang hanya karena siapa dia. Tapi lihatlah apa yang telah ia lakukan untuk layak disebut sebagai manusia. Ayahnya itu adalah malaikat pelindungnya. Dan dengan pekerjaannya, laki-laki itu selalu berusaha untuk melindungi sang buah hati bagaimanapun caranya. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan menjadi sosok anak kecil yang terus-terusan mendapatkan penjagaan lagi. Ia memilih untuk menjadi gadis dewasa yang akan menjaga sang ayah mulai sekarang. Elen akan bergabung di Five Erland dan menggunakan posisinya untuk dapat memantau semua hal buruk yang bisa membahayakan orang yang ia kasihi. ‘’Sayang…’’ ‘’Yes, Dad,’’ jawabnya setelah beberapa saat. ‘’I’m in.’’ Menutup telepon, Elen mengepalkan dan meremas satu tangannya untuk memperingatkan dirinya bahwa tidak ada jalan untuk kembali saat ia memutuskan untuk pergi menemui para aliansi. Tidak ada kehidupan normal sebagai mahasiswi setelah ini. Ia hanya akan dikenal sebagai Underboss saat memperkenalkan diri di Charlottenburg Palace beberapa jam lagi. Setelah menghabiskan waktu selama satu jam untuk bersiap, Elen memilih untuk membawa kendaraan sendiri dan tanpa pengawalan. Ia akan dianggap sebagai tamu biasa dan itu akan memudahkannya untuk melihat seperti apa b******n-b******n yang nantinya akan ia hadapi. Entah itu sebagai rekan atau lawan. Tidak ada yang tau. Sebab aliansi antar mafia tidak jarang berujung pengkhianatan pada akhirnya. Meski datang lebih awal, Elen memutuskan untuk tidak memasuki ballroom karena banyak pasang mata yang tak terhitung jumlahnya sudah membidiknya sejak ia menginjakkan kaki di sana. Dengan tatapan tajam bersama wajah datar yang arogan adalah hal yang akan orang-orang itu dapatkan jika berusaha mendekatinya. Itulah kenapa ia memilih tempat sepi sampai Eugene datang mencari. Walau sempat ada beberapa orang yang berlalu lalang untuk mencari tau siapa yang ada di dalam sebelum dua pengawal sang ayah datang. Ia baru keluar dari sana ketika penerangan dipadamkan lalu berjalan ke arah pintu besar setelah mengambil jalan berputar. Elen melangkah anggun saat Demetrio mulai menyinggungnya bersama lampu yang kembali menyala. Dan netranya langsung terarah pada podium yang berada sejajar dengan pintu yang baru saja ingin ia lewati sebelum pandangannya menangkap sosok pria dengan setelan jas dark grey yang mempesona di atas sana. ‘’Kenapa dia ada di sini?’’ gumamnya. Alp menyunggingkan senyum licik setelah meminta izin pada sang ayah untuk tidak berada di podium dan berjanji akan segera kembali kala melihat gerak-gerik Elen yang mencoba melarikan diri. Menghindari banyak orang. Ia tak akan membiarkan gadis itu lolos setelah pertemuan bodoh yang sebenarnya tidak disengaja. Elen mengangkat gaunnya dan berbelok ke koridor sepi. Menoleh ke belakang lebih sering untuk memastikan bahwa Alp tidak mengejarnya. Jika ada hari sial. Maka hari ini adalah hari yang paling sial. Elen tidak tau bahwa Alp adalah seorang Underboss sama seperti dirinya. Ditambah Eugene atau anak buah ayahnya yang lain sama sekali tidak terlihat. Jadi satu-satunya cara untuk menghindar adalah dengan melarikan diri. Baru dua puluh empat jam yang lalu mereka bertemu dan ia menyetujui untuk tidak menampakkan wajah di depan pria itu lagi, tapi sialnya mereka malah bertemu di sini. Elen terus mengumpat dalam hati sambil mencari koridor atau ruang yang dapat dipakai untuk bersembunyi. ‘’Sial. Apa dia mengejarku?’’ ujarnya khawatir. Akhirnya Elen berhasil menemukan lokasi yang ia cari. Ia berbelok ke kiri lalu menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada siapapun di koridor itu saat ini. Merasa sudah aman, Elen merapikan rambutnya yang berantakan dan melangkah tenang setelah cukup lama berlari. Kemudian berbelok ke kanan dan menoleh untuk yang kesekian kali. Dan ketika ia berbalik, tubuhnya seketika tersentak kaget. Alp, pria itu sudah berada tepat di hadapannya kini. ‘’Kita bertemu lagi.’’ ‘’Ya. Pertemuan yang tidak aku harapkan untuk terjadi.’’ ‘’Lalu, kenapa kau kemari?’’ ‘’I said, aku tidak mengharapkan pertemuan ini untuk terulang kembali.’’ kata Elen dengan suara tinggi. Menatap sinis. ‘’Aku bertanya kenapa kau kemari, Elen? Kenapa kau ada di sini?’’ ‘’Aku datang sebagai tamu undangan seorang petinggi.’’ Elen meneguk saliva yang susah payah untuk ia telan. Berharap kebohongannya tidak terbaca. ‘’Jadi menyingkirlah dari hadapanku, Alp.’’ desisnya di wajah pria itu. Tak ingin mendapat sorot mata mengintimidasi itu lebih lama lagi, Elen memilih untuk segera melewati Alp begitu saja namun pria itu malah melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu lalu membenturkan tubuh Elen ke tembok dan mendekatkan tubuh mereka dengan tangan lain yang berada di tembok. Mengunci Elen. Gerakan Alp yang tiba-tiba seperti ini sukses membuatnya terperanjat dua kali. Kata petinggi berhasil mengundang amarah Alp. Dan laki-laki itu melayangkan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia memperhatikan Elen dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pada gaun indah namun sedikit terbuka, pada leher jenjang dengan kalung minimalis di mana liontinnya berada tepat di atas p******a Elen yang sedikit mengintip dan pada riasan cantik yang tidak terlalu mencolok. Dari jarak tiga senti ia dapat melihat betapa luar biasanya Elen siang ini. Tapi sayang, kecantikan itu bukan ditujukan untuk dirinya. Tapi pada orang lain dengan julukan petinggi sialan tadi. ‘’Petinggi katamu?’’ Alp berdecih. ‘’Katakan, siapa? Aku akan memberinya pelajaran karena telah membuatmu berpakaian minim seperti ini.’’ Elen tidak mengerti kenapa Alp tiba-tiba kerasukan setan pemarah lagi. ‘’Kau tidak punya hak untuk marah. Ini tubuhku,‘’ balasnya tak mau kalah. ‘’Lagi pula petinggi itu adalah orang yang sangat ku cintai hidup dan mati.’’ Elen dapat merasakan suasana semakin memanas saat Alp bereaksi atas kalimat terakhir. Deru napasnya semakin menggebu-gebu. Netranya bahkan memerah parah. Alp benar-benar kemasukan setan bertanduk. Namun bayang-bayang percakapan di mini bar tadi tiba-tiba menyusup ke setiap syaraf yang ada di kepalanya. Manik Alp berubah gelap. Rahangnya bergerak-gerak kasar. ‘’Kau p*****r Tuan Rafe? Kau adalah pelacurnya?’’ Alp semakin mendekatkan wajahnya. Elen tidak dapat mendeskripsikan seberapa murkanya Alp saat mengatakan itu. Tapi mendengar kata p*****r dari seseorang yang mana adalah ayahnya sendiri membuat Elen ingin tertawa dalam hati. Secara tidak sadar, Alp sedang menunjukkan bahwa ia berada dalam mode cemburu atas seseorang yang telah memiliki Elen lebih dulu. Jadi gadis itu memutuskan untuk menyelipkan sebuah lelucon di sela-sela panasnya suasana. ‘’Ya. Aku adalah p*****r dari Tuan Rafe yang terhormat. Aku adalah miliknya. Lalu kau mau apa?’’ tantangnya marah. Terdiam shock atas penuturan Elen, Alp memejamkan mata sejenak lalu kembali membukanya perlahan. ‘’I’ll kill him.’’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN