8

1342 Kata
Obrolan kecil itu terhenti sejenak. Belum sempat mereka melihat sosok p*****r yang dimaksud Blake, suasana hening menjadi alasan mereka melemparkan pandangan ke arah lain. Alp berdiri, lalu mengembalikan gelas yang telah menemaninya selama beberapa menit ke tempat semula. Lima Don Five Erland memasuki ruangan dengan gagah dan aura penguasanya yang kuat. Dari cara mereka melangkah dan bergerak membuat kelimanya terlihat seperti raja dari lautan pasukan yang sedang berada di istana megah ini. Rafe mencari-cari keberadaan orang yang di dalam nadinya juga mengalir darahnya. Hari ini, di usia yang ke delapan belas tahun, Rafe berencana untuk mengenalkan Underboss Keluarga Ortega pada aliansi. Usia yang cukup matang untuk seorang penerus menduduki jabatan sebagai orang nomor dua di organisasi. Sebenarnya, maksimal di usia tujuh belas tahunlah keturunan yang akan menjadi Don selanjutnya mendapatkan posisi tersebut. Namun Ortega membuat pengecualian— menurutnya umur tidak menjadi batasan seseorang dalam menentukan pilihan. Karena lagi-lagi, keputusan untuk terjun ke dunia kriminal ia serahkan langsung pada sang anak. Dan tentu alasan ini ia bicarakan pada seluruh keluarga untuk mendapatkan dispensasi. Sampai di usianya yang ke delapan belas tahun, jika anak itu masih belum memiliki keputusan, maka Underboss di dalam struktur Keluarga Ortega dinyatakan tidak ada atau gugur. Dan itu akan mempengaruhi kekuataannya yang terlihat sedikit lemah karena tidak adanya pondasi kokoh untuk menyokong kekuasaan. Anggota VIP room segera menaiki tangga ketika The Boss sudah mengambil posisi di atas podium. Tak terkecuali Alp. Ia melangkah bersama tiga Underboss lain yang datang menggunakan tangga dari arah berlawanan. Demetrio meraih sebuah gelas champagne dari seorang pelayan lalu mengetuknya untuk menarik atensi para tamu undangan. Penerangan yang menyelimuti ruangan padam. Sebuah lampu sorot kini terarah ke Demetrio. Dan secara reflek ribuan pasang mata kini tertuju pada Demetrio. Juga tak sedikit yang mengarah ke sumber suara. Menjadikan ia sebagai satu-satunya sumber cahaya yang bisa dilihat saat suasana gelap. Layaknya anglefirsh di laut dalam yang berburu dengan cahaya di kepalanya, hingga membuat mahluk-mahluk di sekitarnya tergerak untuk mendekat. ‘’Thank you for your attention, ladies and gentlemen.’’ kata Demetrio. ‘’And i also want to thank you for your attending a historic place created by a man who loved his woman really bad.’’ Kini terdengar suara dari dua tangan yang beradu. Semua orang tau bahwa Demetrio sangat mencintai sang istri, Lacrissa Silvana Daren. Dan sampai sampai saat ini laki-laki itu lebih memilih untuk melajang dan membesarkan tiga orang putra seorang diri. ‘’And… let me tell you a story about Charlottenburg Palace.’’ lanjut Demetrio. Apakah ini hiburan yang dimaksud Tuan Alp? Alex mematung dari tempatnya berdiri. ‘’Permaisuri Charlotte adalah permaisuri pertama di kerajaan Prusia yang menikah dengan Friederich III. Beliau meninggal di usia tiga puluh enam tahun. Dan untuk menghormatinya, King Friederich I memilih nama Charlotte untuk kediaman musim panas sang permaisuri itu sendiri. Bahkan pernah berganti nama dan selama perang dunia kedua, istana mengalami kerusakan parah.’’ Marvellio dapat melihat wajah bahagia sang ayah dengan jelas. Jika membawa-bawa hal yang disukai sang ibu, ayahnya memang selalu bersemangat. Sama seperti yang ia saksikan sekarang ini. ‘’Namun, here we are. Berkumpul dan berdiri di bangunan bersejarah yang ada di Berlin setelah mengalami pasang surut efek rotasi peperangan dan berganti kepimimpinan.’’ Demetrio menyeringai tipis. ‘’Dan aku menyadari satu hal penting. Alasan mengapa tempat ini masih berdiri bukan karena pergantian nama dari orang yang memiliki kekuasaan ataupun orang yang memiliki hak saat melakukan penyerangan. Bukan, bukan itu. Tapi karena kekuatan dari bangunan ini sendiri untuk tetap bertahan.’’ Orang-orang bertepuk tangan seraya mengangguk-angguk setuju. ‘’Sama halnya seperti angin. Benda tak kasat mata itu tidak berhembus untuk menggerakkan dedaunan, melainkan untuk menguji seberapa kuat akar yang tertanam.’’ Demetrio menyesap champagne yang ada di tangan. Lalu menyeringai seram dengan tatapan elang. ‘’Dan… aku tidak menyukai angin dengan jenis apapun jika memiliki tujuan seperti itu.’’ Terdengar suara gaduh dan bisik-bisik dari percakapan orang-orang yang sedang menerka-nerka. Sebenarnya apa yang dimaksud Demetrio? ‘’Well… aku mendengar casino milik Underboss di Kota Hagen diserang oleh orang tak dikenal. b*****h itu sudah dihabisi tentunya. Tapi… sebagai pemimpin Five Erland aku tidak akan membiarkan penyerangan itu terjadi kembali. Aku mencari angin pengganggu yang telah mengusik salah satu pohon milik organisasi.’’ Demetrio menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dimana keamanan setiap anggota adalah hal penting yang harus ia jaga. Karna kepercayaan semua pihak menjadi alasan mengapa ia masih memegang posisinya sebagai penguasa tertinggi. Seseorang mendapatkan kepercayaan bukan karena perkataannya, melainkan kesesuaian antara perkataan dan juga perbuatannya. Alp mengarahkan pandangan pada Demetrio yang sedang memberikan senyum ramah beserta anggukan. Dan ia pun membalasnya dengan gerakan yang sama. Tidak salah jika para Don menjadikan pria tua itu sebagai Boss di atas Boss. Dari singgasannya Demetrio memantau semua hal layaknya the eye of god. Alp menghormatinya sebagaimana ia menghormati anggota lain dari keluarga yang berbeda. Semua respect itu Demetrio dapatkan atas pembuktian dirinya yang selalu memegang teguh aturan keluarga yang mengacu pada hukum-hukum organisasi. ‘’And i will show you what kind of wind i’ve caught.’’ tambahnya. ‘’Go on, open the cover please.’’ Lampu sorot mengarah ke tengah-tengah kerumunan. Pada sebuah benda yang tertutup kain hitam dengan empat soldiers di sekelilingnya. Fokus semua orang segera berpindah ke sangkar emas yang di dalamnya terdapat dua orang manusia dengan kondisi mengenaskan setelah penutup itu dibuka. Darah yang berada di mulut pria-pria itu meyakinkan Alp bahwa Demetrio telah memotong indra pengecap milik mereka. Dan ada sesuatu hal ganjil yang sepertinya luput dari perhatian banyak orang. Wajah mereka memang babak belur dan luka di tubuh mereka juga membiru. Tapi netra sekalipun tak pernah menipu. Mata itu memohon belas kasih, pengampunan, juga pertolongan atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Namun penjara akan penuh jika semua penjahat mengaku. Apalagi seorang Daren tidak mungkin salah dalam menangkap pelaku. Inikah alasan mengapa The Boss kembali dari Amsterdam sebelum waktunya? Mereka ingin menunjukkan pelaku penyerangan di Hagen? Dan menjadikan kematian dua b******n ini sebagai hiburan? ‘’Mereka adalah Camorra. Anggota mafia Italia yang terus berusaha menguasai Jerman untuk dijadikan sebagai wilayah teritorialnya.’’ ujar Demetrio. ‘’Selama lima tahun ini mereka belum menyerah dan melakukan olah gerak secara sembunyi-sembunyi. Tapi kali ini berbeda, mereka melakukan penyerangan secara terbuka.’’ Manik memelas bercampur ketakutan terlihat jelas ketika mereka menangkupkan kedua tangan meminta untuk dilepaskan. Menggerak-gerakkan jeruji besi meski tak ada yang perduli. Namun mereka tetap berusaha. ‘’So… aku akan memusnahkan salah satu elemen bumi yang bagiku kini sangat mengganggu. Tentunya dengan menggunakan elemen lain untuk membantu.’’ Ia mengambil pemantik api dari saku. ‘’Aku akan meminta bantuan dari seseorang yang hari ini secara resmi akan bergabung bersama kita. Dia adalah salah satu Underboss yang kemunculannya sangat dinanti-nantikan.’’ Seketika penerangan kembali menyala. Laki-laki itu mengenyampingkan wajah, melirik ke arah Ortega. Alex mengangguk-angguk mengerti. Selain penangkapan komplotan Camorra. Rupanya sesuatu yang ingin disampaikan oleh The Boss adalah mengenai bergabungnya orang yang selalu bersembunyi selama sepuluh tahun ini. Ketika semua orang sibuk mencari sosok yang dibicarakan oleh Demetrio di antara keramaian, hanya Alp yang menoleh ke arah pintu yang dilewati oleh Don Five Erland. Mendadak jantung Alp seperti baru saja meledak. Di sana, di pintu masuk yang dijaga oleh sekelompok soldiers, telah berdiri seorang gadis luar biasa cantik bergaun slate bersama rambut indahnya yang dibiarkan terurai. Dan gadis itu baru saja membalikkan tubuhnya untuk menghindari tatapan Alp. Elen. She is here. ‘’Aku rasa dia masih belum ingin menampakkan diri.’’ Ortega tersenyum simpul. Demetrio memaklumi. ‘’Baiklah. Kalau begitu aku sendiri yang akan membakar mereka hidup-hidup.’’ Meneguk minuman dalam gelas, laki-laki itu menuruni podium dan melangkah garang dengan kaki panjangnya yang jenjang. ‘’Kemana perginya Alp?’’ tanya Velixis kala menyadari bahwa Alp tidak berada di sampingnya. ‘’Bukankah tadi dia bersamamu?’’ Mervellio mengernyitkan keningnya. Melihat sekitar untuk mencari keberadaan Alp. ‘’Cecilia, where is he?’’ tanya Velixis lagi. ‘’Apa perduliku? Dia bukan kekasihku.’’ ‘’Alp bahkan tidak menginginkan wanita sepertimu.’’ Marvellio berdecih lalu tertawa bersama Velixis. Sebab Alp dikenal dingin dengan wanita. Bahkan berada dekat dalam radius satu meter saja pria itu akan segera menghindar. Velixis penasaran dengan Alp yang tiba-tiba menghilang dan sosok penerus Don Keluarga Ortega yang keberadaannya dikira ada namun ternyata tak kunjung kelihatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN