‘’Kau yang benar?’’
Selain memiliki mulut yang biasa digunakan untuk memuaskan birahi, Marvellio juga menggunakan mulutnya untuk selalu berkata jujur. Di antara penerus Don, b******n ini adalah orang yang paling bisa dipercaya. Dia sangat membenci kebohongan terlebih pengkhianatan.
Walau sudah mengetahui seperti apa karakter Marvellio, tampaknya Cecilia masih tidak mempercayai apa yang pria itu katakan barusan. Velixis bahkan memasang wajah serupa dengan Cecilia. Selama sepuluh tahun menanyakan pertanyaan yang sama, baru kali ini mereka mendengar jawaban yang berbeda.
Dan Marvellio sebenarnya tak berencana untuk memberitahukannya. Tapi sialnya Cecilia malah bertanya. ‘’Satu-satunya hal baik yang selalu ku pertahankan dalam hidup adalah berkata apa adanya.’’
‘’Jadi kau sudah bertemu dengannya?’’ Keantusiasan yang tersirat dalam nada bicara tak dapat ditutupi dengan raut tenang yang tergambar di wajah Velixis.
Belum sempat menjawab, seorang pria dengan kaos hitam bertubuh kekar muncul setelah mengetuk pintu selama beberapa saat. Memberitahukan bahwa semua orang diminta untuk hadir di aula utama. Tentu perintah tersebut datang dari anggota-anggota VVIP room yang merupakan kepala keluarga dari masing-masing b*****h ini.
Berdiri lalu memakai kembali jas yang tadinya diletakkan di kepala sofa, Marvellio segera merapikan pakaiannya seperti sebelum menginjakkan kaki ke dalam Istana Charlottenburg. Lalu memutar kepala 360o hingga terdengar beberapa sendi tulang belakang yang berbunyi.
‘’Belum.’’ kata Marvellio. Berjalan mendekati pintu yang ditahan oleh anak buahnya untuk tetap terbuka.
Cecilia mendengus dengan sorot mata kesal. Dia akan mencabik-cabik laki-laki sialan itu andai Demetrio Julian Daren bukanlah pemimpin Five Erland dan ayah dari pria yang sedang mempermainkannya.
Velixis mengikuti dari belakang dengan tawa lepas untuk mengejek wanita yang kini sedang bersungut-sungut sendirian di dekat sofa. Lalu mensejajarkan langkah untuk menghilangkan rasa penasaran.
‘’Kau mengatakan seolah-olah sudah melihatnya berada di sini. Lalu dari mana kau tau kalau dia datang?’’
Pertanyaan itu membuat Marvellio sadar bahwa sahabatnya masihlah menuntut penjelasan bagaimana ia bisa berkata demikian. Padahal seperti apa rupa dari sosok yang menjadi pembahasan masih belum ia ketahui.
‘’Mata bukanlah satu-satunya indra yang digunakan untuk mendapatkan informasi, Velixis. Saat penglihatan tidak berguna, maka pendengaran akan menjalankan fungsinya.’’
‘’Aku tidak menyangka kau mempercayai rumor.’’ timpalnya bersama decihan halus. Setiap perhelatan ini digelar. Maka kabar mengenai kehadiran sosok itu jugar ikut beredar.
Tak ingin dianggap pembohong, Marvellio tentu tidak akan mengabaikan kata-kata merendahkan itu. Lalu ia menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah Cecilia sudah berada di belakangnya atau belum. Dan berbarengan dengan pintu yang ditutup, seorang wanita berambut keemasan keluar dari tempat mereka berkumpul tadi. Ia memang mengharapkan Cecilia terjangkau radius penglihatan dan suaranya agar wanita angkuh itu mendengar apa yang akan ia katakan.
Mengembalikan arah pandang lurus ke depan, tiga orang penting yang di jaga oleh seorang pengawal menyusuri koridor dalam sentuhan seni caroco. Aura gelap dan juga mematikan menyelimuti iblis-iblis kecil itu.
‘’Saat rapat di Amsterdam, aku tidak sengaja mendengar Tuan Rafe menyampaikannya langsung pada ayahku.’’ Anakku akan menghadiri pertemuan aliansi. Sepenggal kalimat itu membekas di kepala Marvellio saat ia melewati lorong yang menjadi tempat berkumpulnya para Don.
Five Erland adalah lima keluarga mafia paling berpengaruh di Eropa. Setelah terjadi perang konflik antar keluarga karena perebutan wilayah, setiap pemimpin keluarga yang berseteru memutuskan untuk membagi teritorial berdasarkan kesepakatan dan hukum yang mengikat. Perseteruan sebelas tahun yang lalu adalah asal muasal terbentuknya organisasi di mana kerugian setiap pihak menjadi bahan pertimbangan yang sangat diperhitungkan untuk berdamai dengan situasi. Lima keluarga ini adalah Rocvats, Daren, Ergo, Foster dan Ortega. Dan nama Erland diambil dari beberapa huruf yang mewakilkan nama setiap pemimpin keluarga. Terkecuali huruf L. Huruf itu menyatakan jumlah anggota— L yang berarti lima.
Selain menempatkan lima keluarga dalam satu organisasi, membagi daerah-daerah kekuasaan secara merata— pertemuan sebelas tahun yang lalu tersebut juga melahirkan seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara keluarga-keluarga yang lain. Demetrio Julian Daren dipilih untuk menjadi penguasa tertinggi di Five Erland karena andilnya dalam menghentikan peperangan.
Struktur Organisasi Mafia Five Erland.
The Boss / Don— The Underboss— The Consigliere— Capos— Soldiers— Associates.
The Boss atau Don adalah pemimpin dari masing-masing keluarga mafia. The Underboss lebih dikenal dengan putra atau putri dari seorang Don. Atau orang yang diwariskan untuk menjadi The Boss selanjutnya. Jika Don dari suatu keluarga dibunuh, dipenjara, dilumpuhkan atau mengalami hal-hal yang dapat mengancam organisasi, maka seorang Underboss akan mengambil alih kontrol keluarga. The Consigliere— posisi ini dianggap sebagai bentuk persilangan antara pengacara ataupun politikus terkait tugasnya sebagai penasehat Don. Orang yang mengisi jabatan Consigliere sering menjadi wajah organisasi jika berhadapan dengan antek-antek pemerintah. Capos adalah orang yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin sebuah tim yang terdiri dari sepuluh hingga dua belas orang soldiers. Soldiers yaitu anggota keluarga mafia dengan jabatan paling rendah yang lebih sering menjadi pesuruh oleh jabatan di atasnya. Associates tidak memiliki status dan hak dalam organisasi. Mencakup berbagai individu dalam berbagai bidang yang berafiliasi namun bukan anggota mafia. Seperti politis korup, para pengusaha kotor dan sejenisnya.
Setelah menembus kepadatan jalanan Berlin selama tiga puluh menit, Alp memusatkan pandangannya pada istana bergaya barok yang dibangun pada akhir abad ke tujuh belas dan diperluas selama abad ke delapan belas. Istana Charlottenburg atau Schloss Charlottenburg dibuat oleh kaisar Jerman Friedrich III untuk istrinya, yaitu Sophie Charlottenburg sebagai kediaman musim panas untuk sang ratu. Satu-satunya alasan mengapa istana megah itu dipilih sebagai tempat berkumpul para mafia tahun ini yaitu karena Demetrio sangat mencintai mendiang istrinya yang sangat menyukai bangunan tersebut karena unsur sejarah pembuatannya.
Kini mobil berbelok menuju gerbang pemeriksaan yang dijaga oleh lusinan pengawal berotot dengan persenjataan lengkap. Alex segera menurunkan jendela mobil saat seorang pria dengan earpiece di telinga menghampiri mereka.
‘’Alp Riegel Foster.’’ Alex memberitahu dari pihak mana ia berasal. Walau sebenarnya ia yakin laki-laki itu sudah menghapal wajahnya. Sebab tak ada alasan yang lebih masuk akal mengapa ia sangat dikenal di dunia bawah selain karena menjadi kaki tangan Alp. Namun peraturan tetaplah peraturan.
Mencari keberadaan Alp dari kaca yang terbuka sempurna, pria itu mempersilakan mobil untuk melaju ke dalam kala keberadaan Alp berhasil ia temukan di kursi belakang. Pria bernetra amber itu menggerakkan kepala ke bawah untuk membalas anggukan hormat sebelum orang yang memeriksanya menjauhi kendaraan.
Alex segera menginjak pedal gas saat gerbang berwarna abu-abu itu terbuka secara otomatis. Melewati patung tentara berpedang yang tengah bertarung di atas setiap pilar. Dan patung lain juga langsung menyambut kedatangan keduanya yang bisa dibilang sedikit terlambat saat berada di tengah halaman istana. Yaitu patung orang yang sedang menunggangi kuda.
‘’Mereka semua sudah di sini.’’ ujar Alex saat melihat tiga mobil mewah milik Cecilia, Marvellio dan Velixis di tempat parkir khusus. Diparkir berjarak dengan beton bulat berwarna putih sebagai pembatas.
‘’Tidak semuanya. Kau melupakan seseorang yang tidak pernah hadir selama ini.’’
‘’Ah, anda benar.’’
Alex tau siapa yang dimaksud Alp. Selain ruangan, parkiran khusus anggota VIP room juga hanya diisi oleh empat orang saja. Dan orang yang sedang mereka bicarakan adalah anggota ke lima yang tidak pernah sekalipun terlihat.
Kaki jenjang berselimutkan sepatu mengilat langsung menyentuh marmer bening berwarna cream saat pintu mobil belakang dibuka. Alp keluar dengan menawan sambil menutup satu kancing jasnya.
‘’Kita tidak terlambat. Pertemuannya hampir dimulai.’’ kata Alex sambil mengikuti sang tuan muda dari belakang.
‘’Aku sempat berpikir bahwa Marvellio yang akan memimpin jalannya pesta. Sial, Alex. Kenapa kau tidak memberitahu bahwa pertemuan para Don telah selesai?’’
Sehari sebelumnya— telah diumumkan bahwa pertemuan di Istana Charlottenburg akan diambil alih oleh Marvellio— dikarenakan Demetrio sebagai pemimpin Five Erland sedang berhalangan hadir karena sesuatu terjadi di Amsterdam. Bahkan Don dari setiap keluarga turut pergi ke kota yang dikenal dengan sebutan Sin City itu. Namun satu jam sebelum acara dimulai, seluruh kriminal yang hadir mendapat kabar bahwa Don dari setiap keluarga sudah berada di Berlin, Jerman.
‘’Tidak ada yang tau, Sir. Semua orang sama terkejutnya seperti anda.’’
‘’Jika sesuatu diselesaikan secara tiba-tiba, pasti ada sesuatu yang akan disampaikan. Aku penasaran, apa yang sedang direncanakan para Don untuk menghibur para undangan setelah memberikan berita yang cukup mengejutkan.’’
Beberapa menit berselang. Alp sudah tiba di dalam ruang pertemuan yang lebih terlihat seperti ballroom sebuah hotel. Namun lebih berkelas dengan ukiran-ukiran emas yang mengakar di sisi tembok dari bawah hingga ke langit-langit.
Mini bar yang terletak di sudut ruangan adalah tujuan Alp. Membunuh waktu dengan segelas atau dua gelas wine. Sebab podium di mana ia akan berdiri mendampingi ayahnya masih tampak lengang. Dari jarak sepuluh meter, Alp mendapati beberapa anggota private room sedang bercengkrama satu sama lain di sana. Leopard, Garfield, Calvin dan Napoleon. Dan yang duduk di paling ujung yaitu Leopard— langsung berdiri mengetahui kedatangan Alp lalu merentangkan tangan untuk memeluk pria yang baru saja bergabung di spot itu. Putra bungsu Keluarga Ergo tersebut memang dikenal akrab dengan Alp.
‘’Aku pikir kau tersesat.’’ Bersama kekehan, ia menyadari keterlambatan Alp lantaran baru kelihatan.
‘’Tenang saja. Alex pengemudi handal. Dia selalu tau cara mempercepat lalu lintas.’’ Alp mengambil red wine yang disediakan oleh bar tender ketika dirinya duduk di sebelah Leopard. Kemudian meneguknya perlahan.
Alex mematrikan senyum paksa. Jika bukan karena drama tangan berdarah lantaran gadis yang tidak jelas identitasnya, sudah pasti mereka akan tiba dua puluh menit lebih awal.
Tanpa bermaksud mencari tau, Alp merasa ada yang aneh dengan tatapan Leopard yang terus mengarah ke lantai dua. Mengarah ke sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang pria.
‘’Siapa dia?’’ gumamnya.
Namun suara pelan itu sampai ke telinga Alp meski riuh suara para tamu juga ikut meramaikan suasana.
‘’Baumu aneh. Private room melakukan pesta seks lagi?’’ Alp memutar tubuhnya hingga kini menghadap kerumunan dan otomatis mengarah ke lantai yang diperhatikan oleh Leopard.
Laki-laki itu sontak mengendus aroma tubuhnya. ‘’Ah, ini bau Victoria. Aku hanya menyetubuhinya saja.’’
Dari arah lain, tiba-tiba Alp dan Leopard melihat Eugene, Consigliere Keluarga Ortega— menghampiri pria yang sedang berjaga, kemudian mengetuk pintu setelah itu menunduk memberi hormat pada seseorang.
‘’Nona, semua orang sudah berkumpul. Tuan meminta anda untuk segera datang ke titik temu.’’
Mendengar suara yang begitu familiar, gadis itu berhenti menari dan berputar-putar di sebuah ruangan yang didominasi oleh warna kesukaannya. Tentu interior mewah mendominasi walau ruangan luas itu lengang tanpa furniture apapun.
‘’Thank you.’’ Gadis itu tersenyum kecil.
Merapikan rambut gelap kecoklatannya yang tergerai indah akibat aktivitasnya selama di mini ballroom. Dia memilih untuk tidak menggelung rambutnya seperti semula untuk menutupi bagian punggung yang sedikit terbuka. Hanya memerlukan beberapa sentuhan kecil untuk mengembalikan style rambutnya agar terlihat rapi.
‘’Blake, siapa yang ada di sana?” tanya Leopard pada Capos keluarganya.
Calvin dan Napoleon bersamaan memutar kursi ketika mendengar pertanyaan itu. Sementara Garfield, laki-laki itu tak memperdulikan apa yang sedang menjadi topik pembahasan sahabat-sahabatnya.
Blake kini dapat melihat Eugene dan dua orang pria meninggalkan ruangan yang semula dijaga. ‘’Seorang wanita cantik. Sepertinya p*****r Tuan Rafe.’’ Dia tidak memberi jawaban asal. Sebelum menghampiri tuannya, Blake sempat berpapasan dengan wanita itu di koridor di mana banyak tergantung berbagai lukisan.
Berdecih kasar, Alp kembali menyesap minumannya sebelum kata-kata pedas keluar dari mulutnya yang tajam. ‘’Aku penasaran. p*****r seperti apa yang membuat seorang Consigliere sampai memberi hormat sesopan itu.’’