6

1500 Kata
‘’Helen Scarlet Hoover, pindahan dari Universitas Hamburg dan Universitas Goethe Frankfurt. Pengangguran. Lahir delapan belas tahun yang lalu dan dibesarkan di Jewis Orphanage Berlin-Pankow. Dia menjadikan panti asuhan tersebut sebagai alamatnya saat melakukan registrasi di BSBI,’’ Alex berhenti sejenak untuk melihat reaksi Alp. Namun pria yang sedang berdiri di depan cermin itu tak menanggapi. ’’Identitas orang tuanya tidak diketahui dan yang jelas, dia sudah tidak tercatat sebagai mahasiswi di universitas yang sama dengan anda lagi.’’ Setelah mengancingkan kemeja teratas dan menyimpulkan dasi dengan rapi, Alp reflek memutar tubuhnya saat mendengar kalimat dari penjelasan terakhir. ‘’Dia mengundurkan diri? Kapan?’’ ‘’Tadi.’’ Alp terlihat gagah dalam balutan setelan formal berwarna dark grey dengan netra elangnya yang terarah pada Alex kini. Mencerna segala informasi yang kebenarannya sedang ia pertanyakan. Pantas saja Elen tidak kelihatan ketika ia memutuskan untuk menjumpainya tadi pagi. Lalu, bagaimana seorang anak panti asuhan yang notabene tidak memiliki orang tua dan rumah untuk ditinggali bisa memiliki sebuah Lamborghini? Apalagi pakaiannya, meski terkesan sederhana, tapi semua yang Elen kenakan berasal dari brand ternama. Dan satu hal lagi, berpindah-pindah kampus dengan biaya administrasi yang tidak sedikit adalah hal yang mustahil untuk ukuran seseorang yang tidak memiliki pekerjaan. ‘’Sebenarnya siapa gadis ini?’’ tanya Alex yang mengenakan setelan formal berwarna navy untuk menemani sang tuan muda menghadiri pertemuan antar mafia. Dia berganti pakaian sebelum memberikan laporannya pada Alp. Tak menggubris— pria itu mendekati meja bar— menuangkan alkohol ke dalam sloki lalu meneguknya sekali habis. Kepalanya terasa panas mengetahui kenyataan Elen mengundurkan diri hanya karena permintaan bodoh yang sebenarnya hanya sebuah alibi. Apa aku sudah keterlaluan? Dengan pandangan lurus ke depan, Alp berjalan mendekati jendela. Menatap danau dengan jari berurat yang terus menggenggam gelas mungil hingga pecah di telapak tangan. Dan darah segar seketika menetes saat ia membuka genggamannya bersamaan dengan pecahan beling yang jatuh ke bawah lantai. ‘’Sir, tangan anda berdarah.’’ pekiknya khawatir. Alex sigap mengambil kotak P3K dan membersihkan luka di tangan Alp. Dan ini bukan pertama kalinya ia mendapati pria itu melakukan hal-hal di luar nalar hanya karena masalah kecil. Sebulan yang lalu, pria itu menyayat leher seorang pelayan hanya karena steak yang ibunya makan sulit untuk ditelan. Dua minggu setelahnya, Alp membakar seorang pria hidup-hidup lantaran merusak pemantik api miliknya saat berada di club. Dan seminggu setelah kejadian, Alp menenggelamkan seorang pria ke Lake Costance karena tak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya. Theo membesarkan Alp dengan cara paling kejam yang ada di dunian bawah. Sebagai penerus Don selanjutnya, menjadi sosok yang kuat adalah segalanya. Saat ia berumur lima tahun, di mana anak-anak seusianya seharusnya memegang pensil warna, Alp sudah diperkenalkan dengan senjata. Di usianya yang ke delapan tahun, Alp banyak menghabiskan waktu dengan anak buah ayahnya hanya untuk disiksa. Saat umurnya menginjak angka sembilan, Theo melempar granat ke arah Alp hanya untuk melihat seberapa reflek putranya dalam situasi darurat. Hal-hal gila itu berhenti ketika Alp berusia tujuh belas tahun, saat di mana anak laki-laki itu memilih membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Melepas belenggu rantai yang telah mengikat lehernya. Sang Ayah selalu mengatakan bahwa kekuatan dan juga kekuasaan adalah cara menaklukkan musuh tanpa membunuh. Dan ketika ia menunjukkan dua sisi itu dari dirinya, Theo menyetujui untuk menghentikan pelatihan tersebut karena Alp telah menunjukkan hasil dari didikan brutalnya selama ini. Tidak ada perasaan benci atau dendam pada sang ayah yang telah melakukan tindakan keji padanya. Justru sebaliknya. Theo adalah laki-laki yang sangat Alp hormati selama dirinya hidup. Semua ini tak lepas dari peran Irish yang selalu berada di sisi Alp dalam keadaan apapun. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari orang tua yang seperti apa. Tapi kita bisa memilih untuk jadi orang yang seperti apa. Pesan dengan kandungan kebebasan dalam memilih itu menyadarkan Alp bahwa tak ada paksaan untuk dirinya terjun ke dalam dunia kriminal yang hitam. Dan itu membuatnya semakin menginginkan untuk menjadi bagian dari keluarga di mana ia lahir dan dibesarkan. Setelah selesai membalut tangan dengan perban, Alex memandangi Alp yang masih enggan berbicara dan malah sibuk melihat alligator kesayangannya berebut makanan di tepi danau saat seorang penjaga kebun memberi mereka seekor kalkun. Tanpa sadar ia sampai menyunggikan sebuah senyum kecil. Perubahan suasana hati sang tuan muda membuat Alex bertanya-tanya. ‘’Apa anda masih ingin berada di sini, Sir? Aku akan mengkonfirmasi ketidakhadiran…‘’ ‘’Tidak perlu.’’ kata Alp dingin. Ia menoleh lalu menggerak-gerakkan tangan yang dihiasi kasa putih sebelum melangkah dengan menawan. ‘’We are going now.’’ Sayangnya amarah yang Alp rasakan saat ini tidak menjadi alasan bagi pria itu untuk tidak menghadiri acara penting yang diadakan setiap setahun sekali tersebut. Menyangkut pautkan urusan pribadi ke dalam bisnis adalah hal terlarang. Jadi tak ada alasan baginya untuk berlama-lama di dalam sana sementara kehadirannya sedang ditunggu oleh banyak orang. Charlottenburg Palace, Berlin. 10.30 LT. Seorang gadis bergaun slate dengan rambut curly yang disanggul ke atas sedang menatap lukisan bersejarah yang tergantung di salah satu tembok istana. Belahan paha rendah dan bagian punggung yang terbuka lebar mencapai pinggul memperlihatkan keindahan kulit bak porcelen tersebut. Sendirian di koridor yang didominasi oleh warna coklat tua dengan lampu gantung yang terbuat dari berlian. Karya seni Tuhan sedang mengagumi karya seni ciptaan manusia. Riasannya yang ia kenakan tidak terlalu mencolok karena natural look adalah favoritnya. Perhiasan mewah yang menempel ditubuh juga tak banyak. Hanya anting panjang yang mengimbangi leher jenjangnya dan juga kalung pemberian sang ayah. Oh, tak ketinggalan gelang dengan rantai mungil di pergelangan pada tangan yang sedang memegang gelas wine. Dilihat dari sudut manapun, gadis itu sangat menarik perhatian bagi siapapun yang melihatnya. Meski ia sedang tidak berusaha membuat siapapun tergoda. Dan salah satu alasan utama mengapa ia memilih pergi ke tempat yang sepi adalah menghindari pria-pria yang berusaha mendekatinya. Kaki dengan high heels silver bermanik perlahan-lahan bergerak ke samping, menjelajahi setiap gambar yang menghiasi dinding. Ia lebih memilih untuk menikmati keheningan yang ada di sini dari pada berada di ruang utama tempat pertemuan. Setelah mengantarkan bossnya ke VVIP room, Eugene memilih untuk mendatangi bar di sudut ballroom sebelum matanya menangkap kehadiran Garfield di sana, putra kedua keluarga Viber Keanu Ergo, pemilik club terbesar di Brisbane dan Chicago. Pertemuan antara anggota Five Erland di Amsterdam berjalan lancar dan tidak membutuhkan waktu dua hari seperti perkiraan. Oleh sebab itu pertemuan aliansi ini diadakan sehari lebih cepat. ‘’Aku penasaran kenapa penghuni private room ada di sini?’’ sindirnya dengan seringai tipis setelah duduk bersebelahan dengan Garfield. Private room adalah ruangan khusus yang ditempati oleh anak-anak dari anggota Five Erland. Bukan anak pertama yang merupakan penerus Don. Sepengetahuan Eugene, selama ini hanya tiga keluarga saja yang menempati ruangan mewah tersebut. Dari banyaknya gelas kosong yang sudah berada di depannya, Eugene yakin pria itu dalam keadaan mabuk parah sekarang. Terlebih netranya yang sayu dan memerah saat memalingkan wajah ke arahnya. ‘’Mereka sedang melakukan pesta seks. Jadi aku mencari kesenanganku sendiri di sini.’’ racaunya. Eugene tertawa setelah memesan minuman pada seorang bartender. Di antara lima saudara laki-lakinya yang lain, hanya Garfield yang sering keluar dari ruangan. Ia selalu memisahkan diri jika lima belas orang penghuni lainnya sibuk dengan para jalang di dalam sana. Sementara di ruangan VIP dalam bangunan yang sama, telah berkumpul tiga penerus dari masing-masing keluarga anggota Five Erland. Mereka adalah Cecilia Carina Rocvats, Velixis Rafaelle Ergo dan Marvellio Levin Daren. Sementara dua orang lainnya sama sekali belum menampakkan diri. Ketiganya sedang mencari kesenangan lewat minuman dengan menonton penari tiang dan para p*****r yang sedang bergerak sensual tanpa busana. Bersama lantunan musik erotis yang mengaungi ruangan dengan efek pencahayaan layaknya di club malam. ‘’Apa dia akan datang?’’ Cecilia bertanya pada Marvellio yang kini sedang mencumbu leher seorang p*****r yang tengah menggodanya. Tak ingin ada suasanan tegang di dalam sana, ia berinisiatif membantu Marvellio yang masih terlihat sibuk dengan kegiatannya. ‘’Mungkin.’’ ujar Velixis datar. Mengambil botol tebal berwarna gold dari meja lalu menenggaknya sedikit. Wanita pencuri atensi Marvellio segera pergi saat mendapat isyarat lewat mata dari Velixis. b*****h itu terkenal lemah saat mendapat godaan dari perempuan. Setelah b******u singkat, Marvellio masuk ke dalam percakapan. Walau bibirnya terlihat sibuk, tapi telinganya mendengar apa yang kedua sahabatnya bicarakan. ‘’Yang kau maksud Alp atau anak dari Don Rafe?’’ tanyanya memastikan. ‘’Aku tidak menanyakan Alp.’’ Cecilia menyilangkan kaki panjangnya yang membuat gaun hitam dengan belahan paha rendah itu langsung menjuntai ke samping. Aura sombong nan berkuasanya sangat kentara. Sebagaimana ciri-ciri seorang Rocvats saat bersikap. Sebagai anak dari pemimpin dan pendiri Five Erland, Cecilia beranggapan bahwa Marvellio sudah pernah bertemu dengan sosok penerus yang tidak pernah sekalipun hadir sejak organisasi ini terbentuk sepuluh tahun yang lalu. Bahkan Don dari setiap anggota keluargapun tidak pernah ada yang mengetahui seperti apa rupanya. Rasa penasaran tentu membayang-bayangi setiap orang karena bisa saja sosok itu berada di sekitar mereka namun memilih untuk tidak memperkenalkan diri. Itulah sebabnya Marvellio langsung menebak siapa yang dimaksud oleh Cecilia. Menyadari cara pandang yang terbilang tidak ramah, Marvellio menghela napas panjang sebelum menatap tajam pada dua orang yang duduk bersebrangan dengannya. Baik Cecilia maupun Velixis, keduanya menunggu jawaban dari Marvellio dengan tatapan serius. ‘’Dia sudah di sini.’’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN