"Abi ...," bujuk Seno dengan suara rendah. "Siapa yang merendahkanmu? Itu tidak benar, Abi. Bukankah aku memberikan mal itu untukmu? Apa kau tidak merasakan itu?" Pandangan mata Abi lurus ke arah Clarissa. Wanita itu terganggu makannya karena ucapan Abi. Ia memang satu-satunya wanita yang menganggap remeh Abi di rumah itu. "Bagaimana, Clarissa? Utangku sudah lunas, bukan?" Abi memastikan dengan suara yang sedikit tajam. "Rissa ...." Seno menatap ke arah anaknya dengan sedikit kesal. Clarissa menoleh pada sang ayah dengan wajah merengut. "Ayah, kenapa Ayah kesal padaku? Dia yang mulai duluan, Ayah!" Ia berkata sengit. "Sekarang kau punya pilihan. Kalau kau ingin mengakhiri pernikahan ini, silakan, karena aku sudah tak berutang apa pun lagi padamu. Kau tak bisa lagi seenaknya menin

