Setelah berkutat dengan pelajaran selama kurang lebih tiga jam. Akhirnya Hyra bisa mengisi daya dengan makanan enak di kantin.
Jam istirahat pasti kantin adalah tempat paling penuh di antara tempat lainnya. Dengan membawa nampan berisi makanan sehat untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan otaknya. Hyra mencari tempat yang kosong di antar para siswa lainnya.
Setelah sekian lama mengedarkan netranya, Hyra akhirnya menemukan satu titik yang paling dia sukai. Tempat duduk di mana sang pujaan hatinya berada.
“Babang, Egi yang tampan, Sendirian aja, boleh Hyra yang cantik ini menemanimu?” mungkin ini yang di namakan menyelam sambil minum air. Ya semoga Hyra tidak tenggelam karena kebanyakan minum air.
“Jika saya tidak mengijinkan, apa anda mau pergi?” ucap Egi menggunakan bahasa paling baku yang pernah Hyra dengar di abad ini.
“Ya Tuhan, hati dedek rasanya mau meledak. Babang, jangan terlalu kaku begitu, ah. Kan dedek jadi kepingin manggil Babang sayang jadinya.” Ucapan Hyra ini sangat menggemaskan bagi yang lain.
Ingat, bagi yang lain. Artinya bukan bagi Egi. “Cih, diam dan makanlah kudapan yang kamu bawa.” kembali tenang, Hyra dengan patuh makan makanan yang ia bawwa.
Jika dalam keadaan diam dan tak berisik, Hyra memang terlihat sangat mempesona. Percayalah, Hyra itu gadis yang cantik, sangat cantik bahkan. Hati siapa yang tidak pernah tergoda ingin memilikinya? Di tambah dengan otak cerdasnya, lelaki mana yang tidak kepimcut. Mungkin hanya Egi yang secara terang-terangan menilak Hyra.
Tapi jangan salah, karena Egi sebenarnya tidak menolak Hyra. Dia hanya tidak menyukai gadis ini di saat di eluh-eluhkan oleh yang lainnya. Dengan kata lain, Egi sebenarnya juga jatuh hati pada Hyra yang diam seperti ini. Bahkan, Egi memperhatikan dalam diam saat Hyra makan. Dia sangat lucu.
“Kak Egi, jangan pandangi Hyra begitu tajam. Nanti kepala Hyra berlubang, lo.” Egi tersentak dengan apa yang di katakan Hyra. Dia tidak sadar sudah memandangi gadis ini lebih dari dua menit.
Yang artinya dia mengakui dirinya sudah luluh oleh pesona sang primadona. Tidak, dia tidak boleh ketahuan, karena ini sangat memalukan sekali.
“Tidak, aku hanya berpikir saja. Apa yang ada di dalam kepalamu, kenapa kamu itu sangat berisik sekali. Heran sekali, rasanya kamu tidak bisa hidup kalau tidak berisik, ya?” ucapan ketus itu mungkin membuat orang lain sakit hati.
Tapi dua Hyra, orang yang sudah terjatuh, tertarik dan tenggelam dalam lautan sukanya terhadap Egi Elenior Suherman. Lelaki dingin dan kejam dalam bertutur kata. Jelas ini tak membuat Hyra sakit hati. Hanya mendengar Egi berbicara lebih dari lima kata saja sudah membuat Hyra melayang ke angkasa.
“Babang sayang, walau berisik isi kepalaku ini selalu ada nama mu. Dan cara untuk lebih dekat dengan dirimu. Cuma kamu,” ucap Hyra dengan tatapan menggoda, tak lupa dengan kedipan satu matanya.
Bukan tergoda, tapi Egi malah terlihat serti orang kena sawan. “Hi, menakutkan.”
“Kakak, menakutkan itu ketika hariku tanpa kamu, seperti hari minggu dan hari libur lainnya.” ucap Hyra lagi dengan nada menyesal. Pada ssaat ini, hati siapa yang tidak luluh? Jika melihat seorang yang begitu cantik di depan matanya, menunjukkan wajah imut dan lucunya secara bersamaan? Tidak terkecuali Egi. Lihatlah, telinga Egi sudah memarh saat ini.
“Kamu bisa diam, tidak?” dengan tatapan menusuk, Egi menutupi perasaannya,
“Hyra akan dia, kalau sayang Egi mau cium….”
“Hyra!” Teriakan Andra menunjukkan protektifnya. Dia tidak menyangka jika adiknya akan berbuat begitu rendah hanya untuk lelaki yang merupakan sahabatnya ini. Padahal sudah jelas kalau Egi tidak menyukai dirinya.
Selamat…. Batin Egi.
“Apa sih, kak? Ganggu saja. Sana cari tempat sendiri.” Hyra terlihat tidak suka dengan kehadiran kedua kakaknya.
“Jaga batasanmu. Atau kamu mau, kakak laporkan kamu ke papa dan mama? Biar kamu di pindah sekalian ddari ini.” ancam Zein yang tidak suka melihat adiknya yang hampir melampaui batas.
“Baperan amat sih anda berdua. Ya, Hyra pergi, awas minggir!” Hyra juga malu setelah tau jika kedua kakaknya mendengar apa yang di minta pada Egi.
“Babang Egi sayang, jangan kecewa ya. Hyra tunggu di pelaminan.”
Astaga, keberanian Hyra ini sungguh membuat Egi semakin malu di hadapan ketiga sahabatnya. Karena keberanian gadis ini, malah membuat egi semakin takut menghadapi masa depannya yang masih menjadi misteri.
Di sampingnya, Thomas malah tertawa terbahak-bahak melihat Egi yang malu. Telinga yang terlihat semakin merah ini juga seperti hiburan yang sangat lucu sekali baginya.
“Hyra!” sekali lagi Zein berteriak. Tapi sayangnya itu tidak berarti apa-apa bagi Hyra.
“Jangan di tanggapi serius, anak itu cuma asal ngomong aja. Lanjutkan makanmu.” kata Andra yang sudah akit kepala melihat tingkah sang adik.
Namun berbeda tanggapan dengan Egi. ‘Jangan di tanggapi serius bagaimana? Kalau misalnya ada malaikat lewat gimana?’ batin Egi sedikit senang juga sedikit risih.
Makan siang yang tenang, hening dan damai sesuai dengan harapan Egi. Tapi rasanya malah membuatya tidak bernapsu makan lagi. Ternyata keberisikan yang di bawa oleh Hyra juga mempengaruhi dirinya. Tunggu, apa Egi sudah tersihir oleh Hyra?
Mengingat kembali kata sayang yang di sematkan oleh adik dari sahabatnya, ini memang terasa sangat lucu. Tanpa sadar, Egi menyunggingkan senyum samar-samar.
Egi melihat ke kedua ssahabatnya sambil memikirkan gadis berisik tadi. Dia jadi berpikir, apa benar jika ketiga orang itu saudara kandung? Dua sahabatnya ini ibarat gunung es dan Hyra lebih terlihat seperti musim panas yang membantu bunga-bunga bermekaran menghiasi dunia yang suram. Sangat berbanding terbalik dengan kedua sahabatnya ini.
Memang sih, banyak orang yang mengatakan. Jangankan manusia yang lahir berbeda bulan dan tahun. Telur yang dierami satu waktu saja kadang masih berbeda warna. Egi melanjutkan makan dan berusaha tidak memikirkan ketiga saudara itu.
Di kelas, hyra berubah menjadi seorang yang memiliki hati yang dingin. Walaupun dia terlihat sangat ramah dan hangat pada yang lainnya. Dia berubah menjadi sosok kejam yang selalu menolak siapa saja yang menyatakan cinta padanya. Hatinya benar-benar sudah terpatri pada seorang bernama Egi Elenior Suherman.
“Hyra, dari mana aja sih kamu? Tadi Yuna mencarimu.” kata teman yang duduk di depan Hyra.
“Biasa, menjajah. Biar aja dia mencariku, lagian bukan aku yang butuh dia.” jawab Hyra santai.
“Gila, lagian kamu itu enggak capek apa terus menjajah? Inget, itu hati bukan negara lemah. Palestina saja sudah merdeka, terus kapan kamu memerdekakan hati Egi?” kata teman itu yang sudah menjadi teman curhat Hyra selama ini.
“Astaga, tega sekali kau bandingin hati tersayangku sama Palestina. Hati kak Egi itu bukan untuk di merdekakan, tapi di menangkan. Kau tau?” ucap Hyra dengan senyum penuh cintanya.
“Terserah, sekarang pinjamkan aku otakmu sedikit untuk ngerjain ini.”