Egi pelit

1093 Kata
Hidup bersama dengan Hyra beberapa hari saja sudah membuat Egi sakit kepala. Kali ini sudah bukan masalah pakaian. Karena Egi sudah memberikan daster untuk di rumah. Tapi ini masalah cara belajar Hyra. Egi sudah berusaha menyembunyikan seluruh buku tugas miliknya. Tapi entah bagaimana caranya, Hyra selalu menemukannya. Bahkan malam ini juga Hyra susah sekali di ajak tidur oleh Egi. Mata Egi sudah berat, lengket sekali rasanya, karena mengantuk. Tapi Hyra masih semangat dengan buku tugas milik Egi. Kali ini bukan fisika dan matematika, tapi kimia. Egi yang juga memiliki kegilaan dalam belajar. Dia akan berhenti ketika sudah merasa soal yang di kerjakan menemui jalan buntu. Lain halnya dengan Hyra, dia malah seperti orang yang kesetanan karena tidak bisa menyelesaikan soal itu. “Hyra, ayo tidur.” Ajak Egi yang terus berusaha mengajak istrinya tidur. “Kak Egi bukan anak bayi lagi kan? Mau tidur ya tidur aja, kenapa malah geret-geret Hyra begini. Sayang lagi satu soal, ini bentar lagi kelar.” Benar-benar nggak mau di ajak tidur. Hyra masih kekeh dengan soal yang masih belum bisa di pecahkan. Dia juga mengambil buku-buku yang lain sebagai pendamping. Pada saat Egi sudah sangat mengantuk sekali, Hyra menemukan jawaban yang tepat dengan caranya sendiri. “Nah.... Ini lah jawabannya! Hahahaha....” Hyra berhasil menyelesaikan tugas kelas tiga dengan total waktu dua jam setengah. “Sudah, kan? Ayo tidur, aku mengantuk sekali.” Kata Egi merapikan buku-buku yang sudah di berantakan oleh Hyra. Dengan sekali gerakan, Hyra berhasil di angkat oleh Egi ke tempat tidur. Wajah Hyra memerah karena Egi, bagaimana bisa dia tidak malu dengan apa yang di lakukannya? Hyra seketika memeluk leher Egi dengan erat, dia takut jatuh dan tak ingin di lempar juga olehnya. Dengan begitu, Egi pun tak bisa berbuat apa-apa. “Lepasin Hyra, masa kamu mau tidur begini? Aku capek, kamu itu keberatan dosa.” Kata Egi yang tak bisa bergerak karena Hyra tak mau melepaskan pelukannya. “Ya udah, tidurnya sambil gendong Hyra aja.” Jawab santai. “kamu berat, Hyra. Besok aku piket dan harus masuk pagi.” Egi tak bisa bergerak, walau sudah mengatakan dia harus masuk pagi pun. Hyra tetap tidak bergeming. “Ya udah sini tidur, tapi sambil peluk.” Hyra mengalah, namun dia memberi syarat yang membuat kepala Egi semakin sakit. “Astaga, Hyra. Apa kamu seorang bayi?” “Yes Daddy i’m your baby.” Astaga, kenapa Hyra semakin menjadi? Egi tak bisa berkata-kata, dia hanya bisa menurut demi bisa tidur nyenyak malam ini. Malam ini berlalu begitu saja, mereka tidur berpelukan seperti Teletubbies. Ingat, itu hanya di awalnya saja, tapi selanjutnya.... Tetap Hyra yang menguasai tempat tidur. Pagi-pagi sekali Egi sudah membangunkan Hyra. Seperti biasa, dia berdrama. Bedanya, yang di ajak drama bukan kakak tertuanya, tapi Egi. “Hyra, kakak sudah mandi. Sekarang giliran kamu, cepet bangun dan....” “Gendong aku kak, kalau nggak di gendong aku malas bangun.” Masih dengan mata tertutup, Hyra mengulurkan tangannya. “Astaga bagi gedeku. Ayo mandi, apa mau di mandiin?” satu kalimat yang membuat mata Hyra langsung melotot dan seketika melompat dari gendongan Egi. “Aku... Aku bisa sendiri. Kakak bisa keluar sekarang, kalau tidak aku mandiin kakak juga.” Hyra mengancam Egi balik dengan gaya lucunya. Terbata-bata dan sedikit ketakutan. “Ya, kakak tinggal. Tapi cepet, kakak mau piket takut telat.” Kata Egi sembari menutup kamar mandi dan menyiapkan handuk untuk Hyra. Tak sampai setengah jam, Hyra dan Egi sudah berangkat ke sekolah. Ini adalah rekor baru yang di pecahkan Hyra. Dia bisa berangkat jam enam pagi. Walah masuk jam setengah delapan, ternyata Egi mampu membuat Hyra bangun satu jam lebih awal. Oh bukan, satu setengah jam lebih awal dari biasanya. Karena Hyra selalu di biarkan tidur sedikit lebih lama dari Egi. Jam setengah tujuh kurang lima menit, Egi dan Hyra sudah sampai di sekolah. Jam setengah tujuh itu sudah ada banyak siswa, karena jam tujuh para siswa memang di wajibkan sudah di dalam sekolahan. Egi sedikit berlari mengajak Hyra masuk ke dalam kelasnya. Di kelas tiga IPA 1, biasanya sebagai penyusup, Hyra hari ini datang atas undangan suaminya. Duduk di bangku guru, sedangkan Egi menyapu lantai ruangan. Hyra benar-benar di ratukan oleh Egi. Itu jelas terlihat dari perlakuan Egi selama menjadi suami Hyra. Jika di ingat lagi, pasangan Hyra dan Egi ini kan hasil dari perjodohan. Sungguh sangat di luar dugaan, bukan. Bagi yang tidak mengetahui, pasti semua mengira Hyra yang mampu meluluhkan hati Egi. Karena memang pada awalnya, Hyra lah yang mengejar-ngejar Egi. “Waduh, ada nyonya besar ni. Kenapa nggak kamu lempar sapu aja anak Nini, Gi?” Thomas datang bersama dengan Sheila yang notabene nya anak kelas sebelah. “Lagian, kalau cinta tu harus di perjuangkan. Bukan di perbudak.” Kata Sheila yang masih tidak menyukai Hyra karena sudah merebut Egi darinya. “Kamu mau kelas ini jadi kandang bebek?” hanya satu kalimat saja mampu membuat Thomas tertawa. “Lupa, Gi. Lagian anak emas keluarga Husain, siapa yang berani memerintah.” Kata Thomas melupakan latar belakang Hyra. “Anak emas? Begini modelannya? Astaga, kalau dia anak emas, kenalin aku Sheila tuan putri keluarga Sahin.” Dengan sombongnya Sheila tak ingin mengakui Hyra, malah meninggikan diri. Hyra mendengar hanya tertawa kecil dan tak mau menyambut uluran tangan Sheila. Hyra memandang Sheila dari atas ke bawah, depan dan belakang. Sebelum dia mengatakan hal yang akan melukai hati siapa pun yang mendengarnya. “Kak Thomas, sejak kapan seleramu jadi ancur begini? Kok aku malu ya menyebut kamu keturunan ayah Ricky sang cassanova. Nggak cocok.” Hyra memang ngomongnya pada Thomas. Tapi adik bontot dari keluarga si kembar ini sebenarnya tertuju pada sosok wanita di samping Thomas. Thomas sedikit malu sudah mengakui Sheila sebagai kekasihnya yang sah. Bagaimana tidak, jika di bandingkan dengan mantan-mantan Thomas yang dulu. Sheila memang bukan selera Thomas. “Kak, Sheila. Lihat ini.” Dengan kurang ajarnya, Hyra mengetatkan seragamnya yang sedikit longgar. Hyra menunjukkan keindahan dadanya, tapi seketika itu juga Egi langsung memeluknya. “Astaga, jangan di bagi ke yang lain juga.” Mendengar itu keluar dari mulut Egi. Banyak sekali yang tidak percaya jika Egi sudah melakukan hal yang lebih dengan Hyra. Egi bahkan tidak ingin berbagi dengan orang lain, apa Egi setamak itu? Tidak, Egi hanya tidak mau saja jika Hyra memamerkan keindahannya pada orang lain. Pada saat yang sama, datanglah sih kembar. “Weee.... Ada apa ini? Pagi-pagi sudah main panas-panasan di tengah kelas. Mau pamer dek?” kata Andra yang kaget. “Adikmu mau pamer dadanya, kamu mengizinkan? Kalau aku tidak.” Jawab Egi tak mau di salahkan. “Kalian sama saja!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN