Berangkat ke sekolh mereka barengan, pulang pun mereka juga barengan. Hanya saja, Hyra melupakan jika dirinya saat ini tidak sebebas sebelumnya. Ada orang yang akan menunggunya di parkiran untuk membawanya pulang, bukan saat pulang pergi bersama dengan kakaknya yang selalu di tinggal.
Hyra masih santai jajan di depan sekolah dan tidak melihat ke parkiran yang di tunggu oleh Egi. Santai sekali seperti mengabsenin jajanan apa saja yang tengah mangkal di depan sekolahannya.
“Hyra!” teriak Egi yang melihat istrinya tengah mengantri telur gulung, padahal dia sudah memakan cilok. Dan tidak berapa lama dari Egi memanggil, ada dagang somay yang memanggil Hyra.
“Astaga, pak nggak jadi. Boleh? Udah di jemput.” ucap Hyra yang baru saja ingat kalau dirinya saat ini sudah tidak sendiri lagi.
“Kamu itu ngapain lama sekali belanjanya?” Egi sedikit mengomel karena dia memang menunggunya sangat lama.
“Aku beli cilok, ni cobain.” saat Hyra menyuapinya makan, Egi tidak lagi menolak seperti biasanya. Untuk sekarang, Egi terkesan menerima apa saja yang dimau oleh Hyra.
Memakan semua yang di suapkan oleh Hyra, Egi menerimanya dengan senang sebenarnya. Walaupun mukanya terlihat jutek seperti biasanya. Mau di apain juga tidak bisa di ubah wajah juteknya, memang mungkin dari sananya wajah Egi terlihat dingin seperti itu.
Kelakuan Hyra ini tetap di perhatikan oleh para penggemarnya, jadi saat dia menyuapkan cilok miliknya pada Egi. Meski terlihat sangat kaku, tapi keduanya di lihat sangat romantis.
Walau mulutnya mengomel sepanjang jalan, pada saat mau masuk ke dalam mobil. Egi tidak lupa membukakan pintu, saat masuk mobil juga memegang dengan lembut kepala Hyra. Sungguh menjaga sekali Egi pada Hyra, siapa yang bilang jika Egi tidak menyukai Hyra? Hanya gengsinya ssaja mungkin yang besar karena sudah di lihat sering menolak gadis cantik dan pintar ini.
Di sepanjang perjalanan, Hyra tak henti mengoceh sampai kepala Egi terasa sangat sakit. Dan sesekali dia hanya mengatakan “Ya” kala di mintai pendapat oleh Hyra. Kamar adalah ruangan yang selama ini menjadi ruang paling di rindukan oleh Egi. Mulai kemarin, dia seperti tidak lagi merindukannya.
Kenapa?
Kamarnya kali ini adalah zona berbahaya dan penuh ranjau. Bahanya adalah Hyra dan ranjaunya adalah penampilan Hyra yang suka sembrono. Seperti saat ini, dia bahkan hanya memakai celana super pendek yang jelas hilang di makan oleh kaos.
“Sebenarnya, siapa sih yang beliin baju kamu begini? Kenapa pendek banget begini.” tanya Egi yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya.
“Lah, mana ku tau. Aku kan nggak bawa baju sama sekali, atau jangan-jangan….. kakak sengaja beliin semua ini dan malah menuduhku macam-macam….” tebak Hyra.
Egi lupa baju apa saja yang sudah dia belikan untuk Hyra. Dari tingkahnya yang asal membeli saat itu, akhirnya dia juga yang sakit kepala. Bukan karena masalah uangnya banyak di habiskan. Tapi karena pas di pakai Hyra, semua terlihat sangat minim sekali.
“Kamu mau kemana?” tanya Egi mengalihkan pembicaraan.
“Kak, aku lapar. Apa kamu mau aku mati kelaparan?” tanya Hyra seperti dia lupa apa saja yang dia makan sambil mengoceh di dalam mobil.
Egi tidak bissa berkata-kata, karena memang dasarnya orang Indonesia itu tidak di anggap makan jika yang masuk mulutnya bukanlah nasi. Egi tau dengan jelas jika adik dari sahabatnya ini bukanlah anak orang kaya yang familiar dengan yang namanya sayuran. Dia mungkin tidak tau juga jika butiran merica dengan butiran ketumbar itu bak saudara kembar namun beda ayah dan ibu.
Egi sudah melihat makanan tertata di atas meja, siapa yang memasaknya? Jelas jika itu bukan Hyra, lantas siapa?
Dari arah dapur ada Hyra yang membawa makanan yang terlihat masih panas. Apa benar, dia yang memasaknya? Di belakang Hyra ada sesosok yang sangat familiar, oh tidak. Itu pengurus rumah Egi yang sebelumnya.
“Mbok Rina?” dengan mata yang berbinar, Egi menyambut kehadiran sosok yang sejak dulu ada dengan dirinya.
“Iya, De. Mulai hari ini dan seterusnya si Mbok sama Pak e Darimo menemani eneng sama aden.”
Egi bisa masak, tapi dia jarang sekali masuk ke dapur. Niatnya tadi dia yang akan masak, tapi sudah ada pelayan yang akan melayani mereka sekarang. Maka, Egi sepertinya tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan makanan untuk Hyra.
Menu makan siang hari ini cukup menggugah selera seperti biasanya di hidangkan saat di rumah lama. Ada ayam kecap, sayur lodeh kesukaan Egi dan tak lupa dengan jus jeruk. Hyra melihat ayamnya memang menggugah selera, hanya saja dia lebih suka sayap dari pada paha.
Bukan hanya itu, Hyra tak melihat sayur kesukaannya. Ada sayur kuah santan tahu dan kacang, Hyra mengambil hanya kacang panjangnya saja. Sedangkan Egi memakan makanan dengan lahapnya.
“Non, maaf aku hanya tau makanan kesukaan den Egi. Bisa kasih tau aku makanan kesukaan Non? Nanti akan saya buatkan.”
“Aku lebih suka makan ssayur, ayam dan ikan makan juga tapi untuk kuah seperti ini… Sepertinya aku tidak makan.” jawab Hyra tanpa melihat ekpresi apa yang di berikan oleh pembantu rumah tangga yang di kirim oleh keluarga Egi.
“Baik.”
Mbaok Rina setelah masuk ke dalam dapur, dia datang lagi dengan membawa sayur-sayuran mentah untuk di lalap. Dengan seketika, Hyra langsung melompat ketakutan.
“Iyuh… apa itu. Olah dulu, jangan kasih saya itu banyak kuman.” kata Hyra yang sudah lompat dari kursinya.
“Non, ini makanan sehat. Makanan mentah itu lebih sehat dari pada yang sudah di olah.”
“Tapi itu ada pestisidanya. Aku tidak makan itu.” kata Hyra yang semakin ketakutan saat sayuran itu di dekatkan padanya.
“Ini namanya lalapan, Non. Makanan yang di sukai oleh orang-orang untuk makan ayam atau ikan.”
“Mau orang-orang menyukainya, bukan berarti aku juga harus ikut menyukainya. Jauhkan itu dariku, jangan dekatkan.” Hyra benar-benar kehilangan selera makan.
Dia langsung masuk lagi ke dalam kamar dan segera mandi. Pestisida itu sungguh menakutkan, jadi harus benat-benar di cuci bersih dan di masak.
“Mbok, besok-besok kalau mau menyajikan sayuran. Jangan seperti ini, cukup cuci bersih dan rebus kalau Mbok tidak ingin mengolahnya. Hyra takut sayur mentah, dan mulai sekarang jangan buatkan menu sayur lodeh ini.” kata Egi yang tadi merasa sangat gagal karena tidak bisa menolong Hyra.
“Tapi, Den. Bukankah lodeh ini kesukaan aden? Jangan karena orang baru, aden mengalah begitu saja.”
“Kalau aku tidak mengalah, lantas apa dia yang mengalah? Mbok, Hyra itu istriku, jelas aku harus mengalah.”