Suami takut istri

1063 Kata
Pagi hari Hyra datang ke sekolah dengan Egi. Muka lesunya terlihat jelas dari awal dia keluar dari mobil Egi. Bagaimana tidak, Hyra yang sudah memimpikan jalan-jalan ke Jepang dengan gratis. Egi malah mengancamnya akan memerawaninya. Dan kesempatan untuk mendapatkan gaji di sekolah sendiri pun juga harus kandas dengan ancaman yang sama. Sedangkan kedua kakaknya yang menyaksikan bibir sudah maju lima senti itu pun tertawa sampai perutnya sakit. “Hahahaha kenapa pakai seragam sekolah begini? Enggak jadi pakai batik?” ejek Andra yang puas dengan kerja adik iparnya. “Kamu mau punya keponakan sebelum menikah? Kalau mau, besok aku buatin.” bisik Hyra pada kedua abangnya. Mendengar kata keponakan, Zain langsung menoleh ke arah Egi. “Apa maksudnya ini?” “Sudah halal, “ ujar Egi dengan mimik wajah mesumnya. Jujur ini kali pertama Andra, Zein dan Thomas melihat Egi sebegini mesumnya. Nyatanya, Hyra dan dirinya juga merasa sangat canggung sekali ada di dalam satu kamar. Hyra dengan sekuat tenaga memukul lengan Egi, dan lagi-lagi lelaki yang terkenal dengan sikap dinginnya itu malah tertawa. “Jagan menggirin opini mereka untuk berfantasi liar.” “Hahahaha maaf, lucu aja melihat mereka seperti itu.” kata Egi menunjukkan rasa gelinya. “Nggak lucu.” Zein menunjukkan wajah seriusnya. “Jangan menggertakku kak, kalau kamu mau keponakan katakan saja. Dengan senang hati aku yang memimpin permainan.” jawab Hyra membuat tawa Egi sirna dalam sekejap. Hyra dengan ssantainya meninggalkan segerombolan cowok tampan dan pintar begitu saja di parkiran monbil. Egi dan kedua kakaknya hanya terpana tidak bisa berkata-kata. “Aku cuma bercanda saja tadi, sumpah. Zein, Andra selamatkan keperjakaanku.” Mendengar apa yang di rengekkan oleh Egi, kali ini hanya Thomas yang tertawa senang. “Hahahaha ngakunya garang, ternyata lembek juga lawan anak kecil.” Thomas ikut meninggalkan ketiga lelaki yang masih mematung dan menyusul Hyra. Egi tidak menyangka jika ancamannya akan berbalik padanya. Melihat Hyra semalam, dia bahkan tidak percaya dia akan mengatakan hal ini sekarang. Lantas, bagaiman dengan dirinya untuk menjalani malam nanti? Apa benar, Hyra yang akan memperkosa dirinya? Mengingat korban pelecehan tidak harus seorang perempuan. Sepanjang pelajaran, Egi tidak konsentrasi sama sekali. Dia bahkan sedikit terkejut setiap namanya di sebut. Di jam istirahat seperti ini, seperti biasa Egi makan di kantin. Dan sseperti biasa juga Hyra datang membuat kegaduhan. “Kak Egi sayangkuh, dedek Hyra kesayangan sudah datang. Makan apa kamu hari ini?” Tak ada yang heran dengan sikap Hyra yang seperti ini. Kali ini Egi tak bisa meninggalkan Hyra atau membuatnya diam dengan kata-kata savagenya lagi. Kalau tidak, nanti Hyra akan lebih parah balas dendamnya saat di rumah. Perjakanya bisa saja menjadi taruhan, di renggut oleh istri kecilnya. Oh tidak! Itu tidak boleh terjadi. “Kak Egi, kata mama. Biar kita terlihat lebih romantis lagi, dedek Hyra di suruh panggil kakak dengan abang ganteng. Gimana?” Hyra tampaknya sangat tau situasi sekali. Dia bahkan bisa mengecilkan suaranya dalam berdiskusi dengan Egi untuk hal-hal yang bersifat sensitif. “Terserah.” jawab Egi cuek, “Okelah abang gantengnya Hyra. Sekarang Hyra laper juga, bisa pesankan makan untukku, abang sayang?” kata-kata menggelikan itu akhirnya di dengar juga oleh Egi dari mulut Hyra. Sungguh menggelikan sekali, entah bagaimana pula Egi tak bisa membantah. Mungkin karena Egi juga merasa senang di dalam hatinya. “Sebentar, kamu mau makan apa?” tanya Egi lembut. Hal ini di perhatikan oleh banyak siswi dan sisswa yang juga makan di kantin sekolahan. Ini pemandangan yang sangat langka sekali terjadi. “Kuat juga peletnya si Hyra.” “Halah, palingan emang Eginya aja yang jual mahal. Hyra kan cantik, dan lagi. Egi kan tak seganteng kakak-kakak Hyra. Jadi dia itu jual mahal sudah di sukai oleh Hyra.” “He, jaga mulutmu. Kak Egi kan memang oranya ganteng buktinya Hyra tergila-gila sampai seperti itu.” Percakapan seperti itu akhirnya sampai di telinga Lisa dan Yura. Lisa merasa tidak suka dan merasa jika Hyra terlalu berani dengan apa yang di lakukan. Menurut Lisa, Egi hanya bisa menjadi miliknya, tidak yang lain. “Hyra, kamu cukup berani dengan membuat kak Egi tunduk padamu.” kata Lisa yang tidak suka dengan apa yang di dengar. Lisa ingin melihat langsung apa yang sudah dia dengar dari teman-temannya. Dan mendapati Hyra yang tengah menyuapi Egi dari sendoknya. “Hyra….” Lisa buru-buru mendekat pada dua orang yang tengah menikmati makan siangnya. “Kalian makan saja, aku mau cari Zein.” kata Egi yang seperti mendapat pertolongan. “Iya kak, tidak masalah.” jawab Lisa. “Ganggu aja. Ngapain kamu?” Hyra tampat biasa saja. Hyra ini tidak tau apa memang tidak peka dengan yang Lisa lakukan? Padahal Lissa juga sering menunjukkan kalau dia suka pada Egi. Tidak sedikit pula yang mengetahui kelakuan Lisa yang mendekayi Egi jika di belakang Hyra. “Aku lapar juga dan melihatmu di sini. Jadi aku ke sini, kamu merasa terganggu? Kak Egi tu terlihat tidak nyaman dengan kamu yang terlalu agresif seperti tadi. Kamu dengar tidak anak-anak gosipin apa tentang kamu yang begini. Kamu di bilang cewek gatel.” kata Lisa yang menasehati Hyra pdahal bertujuan membuat sahabatnya ini menjauhi Egi. “Ya elah, gosip doang. Diemin aja, entar juga reda sendiri kalau mereka capek. Kamu laper? Sana pesan aku tingguin.” kata Hyra yang tak menghiraukan apa perkataan Lisa. Padahal Lisa sudah menggunakan kata-kata yang paling kasar untuk bicara pada Hyra. Lisa memesan makanan yang ingin di makan dan mereka berdua makan dengan lahapnya. Sedangkan Egi mencari Zein dan Andra di belakang sekolah. Tempat rahasia mereka berempat untuk main game menghabiskan waktu istirahat. “Gi, adek ku sudah makan?” tanya Zein yang paling perhatian pada adik kecilnya. “Sudah, dan bikin rusuh di kantin.” “Lah, di apain?” kali ini Andra yang selalu semangat mendengar sahabatnya di tindas oleh adiknya. “ya kalian bayangin aja, dia terus memanggilku abang ganteng ku sayang. Sudah gitu minta di suapin dan dia juga nyuapin aku. Dan lebih parahnya semua anak-anak pada ngeliatin aku begitu, apa nggak malu?” “Hahahaha biasanya kan bisa kamu tolak? Kenapa kamu enggak mengeluarkan jurus pamungkas saja?” tanya Thomas yang kalau ngomong tanpa di pikir panjang lagi. “Ya kalau bisa. Kali ini aku tidak bisa menolak lagi, takutnya pembalasan di rumah jauh lebih sadis. Secara aku sudah membuat Hyra gagal ke jepang sama jadi guru.” kata Egi pasra dan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. “Hahahaha suami takut istri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN