Kelemahan Hyra

1092 Kata
Hari ini, hari pertama Egi bertemu dengan Hyra. Dia sudah menyiapkan kata-kata manis dan indah untuk sang istri. Tapi, kata-kata itu langsung hilang dari kepalanya ketika mendengar kabar dari sang kakak ipar atau sahabatnya itu. “Apa? Jangan lawak, ini jelas tidak lucu sama sekali.” kata Egi kaget. Padahal dia masih belum sempat untuk duduk, sudah mendengar kabar yang tidak sedap saja. “Benar, yang lawak itu siapa? Nih suratnya kalau tidak percaya.” Zein menunjukkan surat itu pada Egi. Ingin rasanya Egi mencari lubang semut saat ini juga. Bagaimana bisa istrinya ini menjadi guru sementara untuk dirinya dan teman yang lain? “Ini semua gara-gara bu Latri tidak terima mendengar komentar dari Hyra. Jadinya beliau mengatakan pada kepala sekolah untuk membuat Hyra menggantikan dirinya mengajar.” jelas Andra. “Lagian, ada uangnya juga kok. Kan lumayan bisa buat tambahan ke Jepang.” “Nggak ada Jepang. Sekarang kamu pilih salah satu, Jepang atau jadi guru.” Egi yakin jika istrinya ini akan memilih ke Jepang dari pada mengajar. Bukankah pertukaran pelajar adalah impiannya? Dan pemikiran Egi ini ternyata juga di pikirkan oleh Zein dan Andra. “Ok, aku putuskan untuk nggak jadi pergi ke Jepang. Jadi tetap mengajar di kelas kakak selama satu minggu penuh.” Pemikiran di luar perkiraan. Hyra memang sulit di tebak. Sepanjang perjalanan, Hyra di diamkan oleh Egi. Sepertinya dia tidak terpengaruh, mungkin karena Egi sudah sering melakukan hal itu pada Hyra. Jadi Hyra sudah terbiasa dengan keadaan seperti saat ini. Sesampainya di rumah baru milik Egi, Hyra terpanah dengan pemandangannya. Hyra pikir, mereka akan tinggal di apartemen kecil yang hanya di huni oleh mereka berdua. Ternyata Egi sudah mempersiapkan rumah mewah berlantai dua untuknya. “Kak Egi, benar ini rumah kita di masa depan?” tanya Hyra dengan mata terbelalak kagum. “Bukan masa depan, Hyra. Tapi rumah kita mulai hari ini.” jawab Egi santai membuka pintu untuk Hyra. “Wah, ini rumah impian banget, Kak Egi. Tapi kakak yakin mau hidup selamanya dengan Hyra? Kalau Hyra sih sangat yakin banget.” kata Hyra seperti dia hanya mengutarakan pendapatnya saja dan tidak peduli dengan jawaban dari Egi. “Iya, Hyra.” jawab Egi yang sangat pelan sekali, entah Hyra mendengarkan atau tidak. Sama tidak pedulinya. Hyra naik ke lantai dua, dia melihat ada satu kamar di lantai atas yang memiliki balkon. Di sana juga merupakan kamar paling luas di antara kamar yang lainnya. Ada tempat tidur yang sangat luass pula di tengah kamar. Ada lemari, tempat rias yang jelas di impikan oleh wanita mana pun, termassuk Hyra yang selalu mementingkan penampilannya. “Kak Egi, kita kan sudah suami istri yang sah. Apa kakak tetap dengan kamar yang terpisah?” tanya Hyra mendekati satu-satunya lelaki yang ada di kamar itu. “Hyra, kita itu suami istri, jadi jangan banyak drama. Sudah jelas aku juga di kamar yang kamu pilih.”ujar Egi yang entah ada angin apa dia memeluk perut Hyra. “Kak Egi, kalau begitu kita pilih kamar ini saja.” dengan antusias yang Hyra miliki, dia juga berusaha melepas pelukan Egi. Bolehlah mengatakan jika Hyra tergila-gila pada Egi, tapi untuk lebih dari duduk bersama….. Sepertinya Hyra masih belum siap untuk itu. Tapi dengan Hyra memberontak seperti itu, sepertinya Egi bisa memanfaatkannya. Ya, Egi langssung mendorong Hyra ke tempat tidur, dia juga berusaha untuk mencium iatri yang satu minggu ia nikai secara tertutup. “Aduh, kak Egi… sepertinya kita masih belum… ah, geli… jangan di leherku, astaga aku kepingin kencing kalau gini.” kata Hyra jujur. “Aku akan melepaskanmu, asal kamu menolak menjadi guru besok pagi. Kalau tidak, malam ini juga aku perawani kamu.” ancam Egi yang sama-sama menguntungkan baginya. “Iya… iya aku akan menolak, tapi jangan dulu ya. Kakak ganteng deh.” Cup Hyra mengecup bibir Egi sekiilas untuk membujuknya. Setelah mendapat kecupan itu, benar saja jika Egi langsung lemas dan jatuh ke samping. Hyra juga merasa tiddak percaya jika dia memiliki keberanian sebegitu besarnya. “Kak Egi….” “Kamu hanya boleh melakukan itu hanya padaku, jangan ke orang lain. Paham?” kata Egi yang menolehkan kepalanya. “Oh, jadi Hyra boleh begitu ke kakak? Kalau tambah, sekarang boleh?” Di kasih hati minta jantung. Itulah pribahasa yang sepertinya cocok untuk di sematkan pada Hyrasaat ini. Tapi Egi tidak menolaknya, dengan membelai pipi Hyra, Egi menganggukkan kepalanya. Egi dan Hyra tertidur sore itu, mereka melewatkan makan malam. Bukan hanya itu, mereka juga lupa kalau ini adalah malam pertama mereka. Malam pertama yang mereka lalui dengan hanya tidur malam bersama. Bahkan mereka juga tidak tidur selayaknya pengantin baru yang identik dengan pegangan tangan atau setidaknya pelukan. Hyra dan Egi malah tidur dengan gaya yang sangat tidak biasa. Kepala Egi ada di bantal, sedangkan kepala Hyra ada di tengah-tengah dengan posisi kepalanya di dekat perut Egi. Pagi, oh bukan. Tapi subuh dini hari, Hyra merasakan ada tangan yang mengenai kepalanya pun terbangun. Dia melihat gelap di sekitar pun langsung berteriak histeris. “Uaaa…. mama… kakak… papa….” semua di panggil oleh Hyra. Namun, tangan besar malah membekap mulut Hyra dan satu tangan lagi memeluknya. “Ssstt… sssttt jangan takut, aku di sini.” Bisik Egi seakan tau jika istrinya atau Hyra ini takut akan kegelapan. “Kak Egi…. kak, lampu… lampunya, aku mau lampu.” suara bergetar, Hyra pasti sangat ketakutan sekali. “Iya… iya kakak nyalain. Kamu tenang, ya.” dengan menggunakan satu tangannya yang bebas setelah melepaskan bekapan mulut Hyra. Untuk menyalakan lampu tidur yang ada di dekatnya. Hyra tenang di dalam pelukan Egi, rasanya hangat dan dia juga kembali tenang. Egi menidurkan lagi adik kecil yang masih harus dia jaga, walau tindakannya kadang di luar nalarnya. Pagi masih beberapa jam lagi, tapi di tengah kegelisahan keduanya. Hyra merasa perutnya sangat lapar sekali. “Kak Egi, apa kita sudah melupakan ssesuatu?” tanya Hyra masih di dalam pelukan Egi. “Memangnya, kita melupakan apa?” Egi juga melupakan untuk memberi makan pada istrinya. “Melupakan makan malam, kak Egi. Kita ganti jadi makan subuh, saja bagaimana?” Hyra sudah tidak peduli lagi jika makan malam itu berubah menjadi makan subuh. Yang terpenting baginya hanya makan untuk saat ini. “Astaga, kamu lapar? Tapi aku tidak bisa masak, kamu bisa?” Egi malah berbalik tanya pada anak manja yang apa-apa sudah di sediakan oleh kakak-kakaknya. “Kak Egi, aku bisa menyelesaikan semua tugasmu dalam keadaan kelaparan. Tapi tolong jangan tanyakan hal yang membuatku sakit hati.” “Maaf, kita makan di luar saja yuk?” “Memangnya ada yang masih buka? Kan sudah mau pagi.” “Ada, ayok.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN