Satu minggu itu sangatlah lama, apalagi bagi Hyra yang sudah menunggu hari perpindahannya ke rumah barrunya. Dengan pindah ke rumah baru, itu artinya dengan dengan keberangkatannya ke negri di mana gunung Fuji berdiri dengan gagahnya.
Dan selama satu minggu ini, Egi dan Hyra benar-benar tidak di izinkan untuk bertemu. Di sekolah pun, Egi di jaga dan Hyra juga di awassi penuh oleh kedua kakaknya. Katanya ssih, biar mereka merasa rindu di hari pertemuan. Dengan rasa rindu yang berat itulah yang membuat melihat satu sama lain menjadi orang yang paling menarik.
Jika Egi bakalan jadi orang yang paling menurut, berbeda dengan Hyra. Selama ini, dia yang paling terlihat gila pada seorang Egi. Siapa yang sangka, jika prediksi mereka akan salah.
Karena kedua kakak selalu menjauhkan Hyra dari Egi. Malah Egi yang secara diam-diam melihat Hyra dari jauh. Bahkan, Egi juga tidak jarang mencari cara untuk bisa meihat sosok pencuri hatinya.
Tapi, jika itu di katakan oleh Hyra. Siapa yang akan percaya dengan omongan seorang yang tergila-gila? Yang ada, bukannya sebaliknya? Hyra-lah yang mencuri-curi kesempatan untuk melihat Egi?
Padahal, Hyra selalu di girng oleh kakak-kakaknya ke perpustakaan. Hyra di ajak oleh mereka untuk mengerjakan tugas milinya. Zein dan Andra merasa ternodai harga dirinya saat di katai oleh Hyra gurunya tidak bisa memberi pelajaran yang benar pada kakaknya.
“Kak, gurumu itu suruh berguru padaku. Soal ssampah ini kalian suguhkan padaku? Astaga kakak ku berdua, apa kalian ini memang sengaja bertukar otak dengan udang?” satu penghinaan lagi harus mereka terima dari adik laknat mereka.
Soal yang membuat pusing satu kelas dalam dua jam pelajaran, ternyata bissa di kerjakan oleh Hyra handa dalam kurun waktu lima belas menit ssaja. Benar-benar di atas nalar anak SMA.
“Astaga mulut, kondisikan adikku sayang. Karena suami kamu juga salah ssatu manusia yang bertukar otak dengan udang.” kali ini Andra bisa dengan senang hati mengejek adik ipar yang menjadi titik lemah adiknya.
“Memang perlu di kasih pelajaran. Sini aku ajari dia, bikin malu.” Hyra mendengar kata dari kakaknya pun langsung gatal ingin segera memberi pengarahan pada suaminya yang tampan dan baik hati itu.
“Eit, tidak boleh. Mau dunia runtuh pun, kamu tidak boleh ketemu sama Egi, paham Hyra!” Zein segera menghentikan adik bungsunya untuk bertemu dengan Egi. “Kamu juga Ndra, diem aja mulutmu. Egi akan mendapat pelajarannya sendiri nanti.”
Di luar perpustakaan, ternyata ada sseorang guru Fisika yang harga dirinya juga terluka. Guru tersebut ternyata mengadu kepada kepala sekolah. Dia meminta perlindungan dan malah membuat kepala sekolah tertawa terbahak-bahak.
“Puncak komedi sekali pengaduan ibu ini. Siapa yang tidak tau kepintaran Hyra yang memang melampaui rata-rata anak dirik sekolah kita. Tadi ibu bilang apa? Hyra mengatai itu pada kedua kakaknya? Kakaknya aja di hina begitu, bagaimana dengan kita?” apa yang di katakan kepala sekolah memang benar.
Jika kakaknya yang menjadi muridnya saja di katai otak udang oleh Hyra. Ssudah pasti gadis itu bisa menindas siapa saja yang IQ nya di bawangnya.
“Bagaimana kalau aku mengusulkan Hyra mengajar di kelasku selama seminggu ini? Dan aku menjadi muridnya.” usul dari guru yang merasa harga ddirinya sudah di injak-injak oleh Hyra.
“Ide bagus. Tapi gaji ibu selama satu minggu saya berikan pada Hyra, bagaimana?”
Usul yang konyol dan tanggapan yang tak kalah konyol di lontarkan oleh kepala sekolah. Tapi lihatlah guru itu, dia bahkan tidak menentang sekali pun. Pada dasarnya, dia memang ingin mengetes Hyra, seberapa besar kemampuannya dalam menangani anak-anak didiknya.
Kepala sekolah mengatakan usulan itu pada Hyra yang di panggil secara khusus ke ruangannya. Dan apa jawaban Hyra akan hal ini? Hyra sangat bersemangat dan dia melupakan pertukaran pelajar ke Jepang dalam satu waktu.
“Ah, bapak bisa saja menghiburnya. Bapak yakin menyerahkan anak-anak didik itu menjadi anak didik saya dalam satu minggu? Wah, pasti banyak yang bersemangat dalam belajar kalau sama aku.” Jawaban lebih konyol ternyata di terima kepala sekolah.
Mendengar apa yang Hyra katakan, pak kepala sekolah menjadi sedikit sakit kepala. Fisika memang bukan pelajaran yang bisa di anggap remeh. Karena itu adalah salah satu pelajaran utama kelass IPA.
Hyra yang sore ini harus pindah ke rumah yang sudah di tempati Egi selama satu minggu ini pun menjadi lupa. Hyra melupakan hal itu karena dia sangat senang bisa mengajar selama seminggu di kelas kakaknya dan yang lainnya.
Hyra pulang ddengan membawa kabar yang begitu mengejutkan bagi keluarga namun tidak dengan kedua kakaknya. Hyra bissa menjadi titik lemah bagi keduanya, apalagi dia harus menjadi guru bagi kedua kakak kandungnya.
“Aku tidak setuju, mau di taro mana muka kami, Ma?” tolak Zein yang baru kali ini dia bersuara menentang adik tersayangnya.
“Aduh cucu Oma tersayang, kenapa kamu marah-marah begitu. Kan kamu tinggal izin saja kalau tidak mau di ajar oleh adikmu yang cantik ini.” Maria memberi ssatu tanggapan yang semakin melukai ego dan harga diri mereka.
“Nenek, sebenarnya memihak pada siapa?” Andra pun menjadi gemas sendiri.
“Oma, Oma, bukan nenek. Kalian ini ya…. sudahlah.” Maria pun menyerah dengan apa yang di katakan oleh kedua cucunya. Yang terpenting adalah Hyra, cucu perempuan yang membuat mereka semua bangga.
Di aat semua berkumpul, Egi datang untuk menjemput Hyra. Ini adalah hari terakhir Hyra bersama ddengan keluarga besarnya. Mulai hari ini, Hyra yang semula berstatus putri tersayang Husain. Seketika menjadi menantu di keluarga Suherman.
Massih jadi misteri, apakah Hyra menjadi seorang ratu yang mulia di keluarga suaminya. Atau dia menjadi babu terkutuk di rumah seorang Egi Elenior Suherman. Mengingat pernikahan tersembunyi mereka adalah perjodohan yang kemungkinan besar tidak di inginkan oleh Egi.
Egi yang dengan terang-terangan menolak Hyra di sekolah, sangat di pertanyakan perlakuannya kala di rumah. Di hadapan kedua kakaknya saja, Egi bisa begitu dingin dan cuek. Bagaimana jika mereka berdua di rumah yang katanya minimalis dan kecil? Bisakah Hyra bertahan?
Hyra yang tadinya lupa, kenapa bahkan Oma dan Opanya datang berkumpul bersama. Kini sudah ingat, jika mereka ssekeluarga bersekongkol mengusir Hyra dari rumah megah yang menjadi tempatnya bertumbuh besar.
“Kamu sudah siap, belum?” tanya Egi kala melihat Hyra yang sudah duduk bersama ddengan para keluarga.
“Sudah kok, Hyra tidak membawa apa-apa dari rumah ini. Jadi silakan membawa anak ini keluar cepat-cepat dari rumah ini. Dan jangan lupa, belajar.” Zein melihat sahabatnya menjemput adiknya pun terlihat paling bersemangat.
Tidak dengan Egi yang merasa sedikit aneh, bukankah Zein adalah orang yang paling menentang hubungan dirinya dengan Hyra? Tapi kenapa dia sseakan membuat Hyra seperti tidak di harapkan?
“We, tunggu. Ada apa ini sebenarnya? Anda sangat aneh sekali, kakak ipar?” godaan yang menjijikan Egi membuat Zein mual seketika.
“Hidup kami berdua tertekan karena istri cantikmu.” Hyra mendengar kata Istri yang tertuju pada Egi. Seketika membuatnya berbunga-bunga, lebih bahagia dari pada dia menjadi guru dadakan elama satu minggu sebelum menjadi pelajar yang di tukar ke Jepang.
“Istrimu menggantikan Bu Latri selama seminggu mengajar Fisika di kelas tiga. Mari kita menutup muka rapat-rapat menjadi murid anak kecil ini!”