Masalah Egi sudah tidak penting lagi bagi Hyra, dia segera berlari dan menerobos dua insan yang tengah bersenda gurau itu. Hyra segera mencari kakaknya yang sudah pasti berada di kelas.
Egi, orang setengah sadar ini malah kaget dan teringat akan cincin yang ia kenakan ssaat ini. Egi segera mengejar Hyra yang malah berlari secepat kilat. Egi ingat akan ancaman kedua sahabatnya semalam. Kalau sampai Hyra mengadukan dia berjalan dengan seorang cewek yang membuat Hyra tak menganggap Egi sebelumnya. Bissa kacau tatanan dunia.
“Hyra…”
“Hyra…” teriakan Egi sama sekali tak di hiraukan oleh Hyra yang semakin kencang berlari.
“Pelan-pelan, ada apa?” melihat Hyra yang di kejar Egi, Andra memberikan tatapan jahat pada sahabatnya.
Ini baru pertama kali seorang Hyra di kejar oleh Egi, dunia sudah terbalik, bagi yang tidak mengeetahui kenyataan semalam. Tapi, bagi Andra dan Zein, pasti Egi kembali membuat kesalahan. Dan benar saja, dari arah belakang ada sseorang gadis yang juga mengejar kedua orang ini.
“Hyra dengarkan aku,”
“Nggak penting, ini yang lebih penting.” dengan napass tersengal-sengal, Hyra menunjukkan selembar kertas yang membuat Egi dan Andra terperangah.
“Form pertukaran pelajar ke jepang? Tapi kita?” Egi kaget dengan apa yang di tunjukkan Hyra.
“Kita kenapa? Memangya aku punya masa depan apa ssama kamu?”
“Hyra! Kalian itu….”
“Kak Egi, kenapa kamu meninggalkan aku? Oh, ada adik kecil ini. Apa kurangku dari dia ssih Gi? Inget, kita itu jodoh masa kecil.” Sheila sekali lagi mengaku sebahai jodoh masa kecil Egi. Yang artinya Hyra hanya jodoh yang ddi pasangkan oleh kedua orang tua tanpa perasaan dari Egi.
“Itu jawabannya. Lagian kita itu masih di bawah umur kalau ngomongin masalah ini sekarang. Kak Egi bisa memilih masa depanmu sendiri, begitu pun dengan ku. Pertukaran pelajar ini salah satu mimpiku di atas segala mimpi. Kalau aku tidak berangkat, buat apa aku belajar selama ini? Tanpa belajar pun aku bisa naik ke kelas kalian dengan mudahnya!”
Dari sekian banyak ocehan dan kemarahan Hyra. Mungkin kali ini kemarahan Hyra yang paling besar. Dia bahkan sampai meneteskan air mata untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Karena kali ini adalah penentangan yang menurut Hyra sangat keras.
Hyra langsung berlari meninggalkan yang lainnya. Kali ini bukan hanya Andra yang panik, tetapi Zein yang melihat pertengkaran di depan pintu kelas pun menjadi kalang kabut.
Sedangkan Thomas, orang yang selama ini tidak pernah terlihat memberi perhatian pada Hyra. Dia tiba-tiba menghampiri dan menonjok Egi begitu kuat.
“Arg!”
“Apa kau gila, Egi? Mimpi Hyra sejak dulu adalah menjadi berguna dalam sains karena itu cintanya. Tapi kamu malah menghancurkan mimpinya! Aku tau, Hyra cinta sama kamu. Tapi, walaupun kamu tidak menyukai dia, tolong jangan pernah mengekang dia! Hidup sana dengan ular ini!” penuh sekali kata penekatan di setiap kata yang Thomas keluarkan.
Thomas meninggalkan Egi dalam keadaan terkapar ddengan bibir sobek mengeluarkan darah segar. Sheila bermaksud membantu Egi, tapi malah di tampik oleh pemuda yang dulu sempat menghabiskan masa kecil bersama dengannya.
“Egi! Sebentar lagi masuk, kamu mau kemana?”
“Egi!” teriakan Sheila sama sekali tidak di hiraukan oleh Egi. Karena dia berusaha mengejar tunanangannya.
Hyra dengan kencang membawa mobilnya yang sudah memiliki kecepatan tertinggi di jalanan ibu kota. Ini semua karena emosi yang begitu besar membuatnya tidak bisa mengontrol tindakannya. Bahkan dia tidak lagi berpikir jika apa yang dia lakukan saat ini bisa membahayakan dirinya.
Hyra mengendarai mobil sport miliknya memberlah jalanan dan sampai di rumah denganwaktu tempuh yang sangat singkat. Sepuluh menit dari tiga puluh menit waktu normal, jelas Hyra mengendarai mobinya ini ugal-ugalan sekali.
Hyra sampai di rumah ssebelum Abim berangkat ke kantor. Kedatangan sang anak perempuan di susul oleh dua putranya yang lain dengan seorang putra sahabatnya.
“Ada apa?” Hyra menahan Zein yang berjalan paling belakang saat mengejar Hyra.
“Egi melarang Hyra ikut pertukaran pelajar ke Jepang, sedangkan itu mimpi Hyra selama ini….”
“Apa yang di lakukan Egi benar, dia kepala keluarga Hyra sekarang. Dia yang memikul tanggung jawab Hyra sekarang.” Abim menunjukkan dua buku berbeda warna dengan gambar garuda.
Zein mengambil dua buku kecil itu dari tangan bapaknya. Membaca dengan seksama, dan benar apa yang dia sangka tadi. Ini adalah buku nikah dan setelah di baca lagi. Ada nama Almahyra Bathari sebagai istri dan Eg Elenior Suherman sebagai suami. Tak lama Zein lemas dan terduduk di kursi makan, Egi datang juga dengan terburu-buru.
“Hyra di kamarnya, sana bujuk dan papa bantu sebisanya.” kata Abim pada Egi.
Zein masih sedikit terguncang, tapi dia masih harus melihat langsung papanya menjelaskan.
Mereka bertiga naik ke lantai dua di mana kamar Hyra berada. Di sana sudah ada Thomi dan Andra yang membujuk adiknya. Kedatangan Egi seakan membuat Thomas ingin kembali menonjok wajah tak bersalah dari sahabatnya itu.
“Mau apalagi kamu!” Thomas sudah mencengkeram kerah baju Egi dan hendak kembali melayangkan bogem mentahnya.
“Thomas, lepaskan. Biar dia bicara dulu sama Hyra.” Kata Zein seakan berada di kubu Egi.
“Hyra, jangan gegabah mengambil keputusan. Inget, sekarang kamu itu tanggung jawabku. Kalau ada apa-apa di sana, ke siapa aku minta pertanggung jawaban?” Egi menunjukkan sisi lembutnya, tapi membuat Thomas yang tak tau apa-apa menjadi semakin bingung.
“Hyra, dengarkan papa. Aku tau ini adalah mimpimu, tapi semalam kamu juga sudah menanda tanganinya kan? Minggu depan juga seharusnya adalah hari perpindahan kamu dari rumah ini. Bukan keberangkatanmu ke Jepang.” Abim memberikan dua buku yang tadi dii pegang Zein.
“Tapi pa, ini impian Hyra.”
“Aku tau, apa tidak bisa di tundah sampai akhir bulan? Aku sendiri yang akan mengantarmu dan mencarikan tempat di sana.” inilah kata-kata Egi yang membuat Hyra merasa adanya angin segar dalam hidupnya.
“Kakak mengiinkan?”
“Ya, tapi bukan minggu depan. Aku yang akan mengantar lansung biar tidak khawatir.”
“Bisa di atur.” kali ini Abim lagsung mengembangkan senyum untuk keputusan menantu pertamanya.
Abim, dia bukan tidak mengizinkan Hyra ke jepang untuk ikut pertukaran pelajar. Tapi dia tidak memiliki hak lagi melarang atau memberi izin pada anak perempuannya. Dengan apa yang sudah di putuskan Egi, jelas itu adalah hal yang paling di harapkan semuanya.
“Kalian?” di tengah kebahagiaan Hyra dan keluarga, tampahnya hanya Thomas yang masih merasa bingung dengan apa yang ada di depannya.
“Iya. Jadi jangan asal pukul lagi.” kata Egi mengelap darah di sudut mulutnya yang sudah mengering.
“Aku kali ini setuju dengan Thomas, jauhi ular betina itu. Jodoh masa kecil apanya? Ini sudah jadi, jangan macem-macem sama adikku.” Andra yang sejak tadi mendengar apa yang di rengekkan perempuan yang tak cantik baginya itu menjadi mual sendiri.