Sahabat selamanya?

1091 Kata
Malam ini Hyra tidur dengan senyum yang mengembang begitu lebar. Bahkan dia tidak lepas memandangi cincin pemberian Egi sepanjang perjalanan pulang. Zein yang terkejut awalnya, pasti Andra juga akan sama terkejutnya dengan sang kakak. Kalau pun Andra terkejut saat ini, Hyra jelass tidak ingin tau. Karena baginya, mimpi tertinggi untuk menyanding lelaki terpintar di sekolahnya sudah tercapai. Sebenarnya Egi bukan terpintar, karena masih ada dua saudara kembar ini. Tapi massa iya Hyra akan menikah dengan salah satu dari dua mahkluk itu? Ya tidak lah, kan mereka saudara kandung. Pagi-pagi sekali hyra sudah bangun, dan ini tidak biasa bagi Zein dan keluarga yang lain. Apa hari ini tidak ada drama di mana Zein akan berteriak pada adik bungsunya itu? Ya, hari ini mulut Zein hanya menganga melihat sang adik sudah siap di meja makan sebelum dirinya menyajikan sarapan. “Ma, apa matahari hari ini terbit dari barat? Tumben sekali putri kecil ini sudah bangun jam segini.” kata Zein membawa roti dan s**u untuk adik-adiknya. “Hust, mulutmu, Zein. Terbit dari barat beneran tau rasa kamu. Memangnya amal ibadah kamu sudah banyak?” kata Gia selaku ibunya yang membantu membawakan sarapan yang di buat oleh putranya yang gemar memassak itu kemeja makan. “Ya belum, ma. Tapi ini tumben, saja.” jawab Zein mencium pipi adiknya karena gemas sekali. “Nah itu dia, lagian harusnya kamu bangga. Bukannya malah mengejek begitu.” Kali ini Abim lah yang berkomentar. “Bangga papa, bangga. Zein bangga, tapi ya aku hanya merasa saja kalau Hyra sudah tak memerlukanku lagi sekarang. Apa Egi begitu berpengaruh sama kamu, wahai adikku?” Zein mengatakan apa yang menjadi keluhannya tepat di samping adiknya. “Kakak, kalian bertiga itu memiliki tempat tersendiri di hati aku. Kak Zein di ruang hatiku sisi kiri dan kan Andra sisi kanan dan nilainnya ssama. Kalian tidak terpisahkan.” jawab Hyra memakan roti dengan mencelupkan di s**u hangatnya. “Terus, Egi di mana tempatnya?” tanya Andra yang merasa sedikit aneh dengan pernyataan sang adik. “Di sisi paling dalam bersama dengan matematika, fisika dan kimia.” jawab gadis yang memang tidak bisa di pisahkan dari sains. “Emang dasar cucunya Albert Einstein. Susah!” itulah penutup obrolan sebelum berangkat kerja. Hyra sudah berangan di dalam mobilnya sendiri. Dia berkhayal akan di sambut dengan senyuman Egi yang begitu manis seperti semalam. Jalan berdua menyusuri koridor dengan canda tawa yang membuat dunia terasa milik berdua. Sesampainnya di parkiran ssekolah, apa yang dia khayalkan masih belum terjadi. Hanya ada beberpa siswa yang mengagumi mobil yang cukup mahal terparkir di halaman sekolah. Selain itu, fans yang selalu menunggu Hyra datang saja yang ada di sekitaran parkiran. “Kak Egi kemana sih? Apa iya dia telat datangnya, atau aku yang kepagian?” gumam Hyra yang memang datang di sekolahan sepuluh menit lebih cepat dari biasanya. Mungkin memang dia tak harus melakukan perubahan yang begitu ekstime dalam hidupya. Dengan mempercepat kedatangannya ke sekolah adalah perubahan yang bisa di katakan membuang-buang waktu bagi Hyra. “Dek, mau sampai kapan di dalam mobil?” Zein dan Andra berad di luar mobil adiknya yang masih tertutup rapat. “Tunggu aku, kak. Kakiku gemetar mau ketemu pujaan hati.” kata Hyra jujur. “Kumat.” Andra dan Zein berjalan menggantikan posisi Egi dalam angan Hyra. Kecewa sih, tapi apa itu pengaruh pada hari Hyra? Jelas tidak sama sekali. Apalagi itu hanya seoarang Egi, cowok yang baru semalam meresmikan hubungandengan dirinya semalam. “Kamu jangan macam-macam. Inget, kata kamu itu sudah mau menikah seminggu lagi.” pesan Zein pada adiknya. “Tau! Lagian siapa juga yang bisa menggodaku kalau bukan seorang Egi Elenior Suherman putra bapak Julius Suherman.” dengan keyakinan penuh, Hyra menjawab apa yang menjadi keresahan sang kakak. “Hyra, jangan terlalu percaya diri. Kata orang, godaan calon mempelai itu besar banget. Dan salah satunya adalah penggoyah hati. Entah itu keburukan yang baru kamu tau atau sebuah kenyataan yang mengecewakan.” Andra mengingatkan Hyra tentang apa yang pernah dia dengar sebelumnya. “Itukan kata orang, kak. Belum tentu terjadi padaku, sudah ssana pergi ke kelasmu ssana. Sebentar lagi bel masuk sudah berbunyi.” Hyra masuk ke dalam kelas dengan hati yang masih berbunga-bunga. Kekecewaan terhadap Egi, tidak sama ssekali memperngaruhi kebahagiaan Hyra hari ini. “Widiihh, cerah amat sepertinya. Ada kebahagiaan apa ini? Bisa berbagi sediki?” Lisa teman yang sering mendapat curhatan hati Hyra pun tak mau ketinggalan kebahagiaan yang di tunjukkan itu. “Lihatlah, sudah aku bilang. Aku bisa memenangkan hati kak Egi, tidak memerdekakan dia. Akulah pemilik hati dia sekarang.” kata Hyra bangga dengan menunjukkan sebuah cincin bermata hijau tua yang melingkar di jemari manisnya. “Apa kau yakin? Coba ihat di sana.” Yuna, seorang sahabat yang lain kelass datang dengan membawa sebuah kertas pendaftaran pertukaran pelajar yang di titip padanya oleh guru kelas Hyra. “Astaga, itu kak Egi?” entah sekongkol atau memang kaget akan penampakan sosok yang baru saja di banggakan oleh temannya. Hyra tidak terlihat kaget atau kecewa, tapi dia hanya tersenyum melihat keduanya. Kedua, iya kedua. Egi dengan seorang cewek yang tengah bercanda di sepanjang koridor. Mereka berdua seperti tidak menghargai Hyra yang sudah mengkhayalkan hal itu bersama Egi. “Yang sabar ya Hyra, sebagai penawar kegalauanmu, aku membawakan ini untukmu. Form persetujuan pertukaran pelajar ke Jepang.” Yuna memberikan form yang di titipkan padanya pada Hyra. Melihat apa yang ada di depan matanya. Hyra tampak jauh lebih sumringah dari sebelumnya. Sedangkan keduanya malah saling pandang dengan menunjukkan sebuah raut wajah yang aneh. Kenapa mereka? Yang jelas, keduanya tidak seperti orang bahagia, melainkan wajah puass. Siapakah mereka? Mereka adalah teman-teman yang merupakan pembencii Hyra dalam segala hal. Mulai dari kekayaan, kepintara dan juga bakat. Bahkan Lisa, orang yang begitu dekat dengan Hyra pun memiliki rasa tidak suka padanya karena memiliki perassaan yang sama. Sama-sama menyukai Egi. Sedangkan Yuna, dia tidak suka pada Hyra karena dia selalu mengalahkan dirinya. Mulai dari perhatian, Hyra juga membuat yuna menjadi seorang pecundang di setiap pertandingan. Contohnya adalah lomba renang kemarin. Dengan paras yang dia agung-agungkan itu. Yang seharusnya menjadi primadona sekolah adalah dirinya, bukan Hyra yang bahkan membuat alis saja masih berantakan. Di tambah dengan tadi, Hyra membawa sendiri mobil yang tak bissa di bayangkan oleh dirinya yang hanya menjaddi putri seorang pengusaha kecil yang misterius. Sebab itulah Yuna mau menjadi sahabat Hyra dengan tujuan bissa mencela dengan dalil demi kebaikan atau kritikan semata. Sedangkan Hyra, dia sama sekali tidak pernah melihat apa yang di tunjukkan oleh kedua sahabatnya. Tenang, Hyra bukan orang yang suka berprasangka buruk pada teman. Dia bahkan menganggap mereka teman sejati. Sahabat selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN