Bucin, kok nawar

1148 Kata
Hari Hyra seketika menjadi suram, setelah mendengar kabar dari sang ibunda tercinta. Tapi Hyra harus belajar ra po po, ini semua demi kewarasan kedua kakaknya. Karena hal ini memang sudah pasti terjadi di kalangan keluarga kaya. Dan Hyra sebagai anak emas di keluarga Husain, sudah pasti akan datang hal ini. Tapi kenapa malam begitu cepat datang? Bahkan Hyra masih ingin menikmati rasa malasnya di tempat tidur. Mamanya sudah sejak setengah jam tadi terus menghubungi dirinya. Memang sih, dia sudah sedikit terlambat sekarang, itu membuat Zein sedikit mengebut untuk membelah keramaian jalanan ibu kota. Demi adik tercinta, apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh Zein? Nyawa pun ia pertaruhkan. Tepat jam tujuh malam, Hyra dan Zein tiba di restoran. Di sana, mamanya sudah mondar-mandir menunggu Hyra yang tak kunjung tiba. Janjian jam tujuh itu bagi Gia adalah setengah jam sudah maju. Jadi dia sebisa mungkin harus bisa datang sebelum jam tujuh tepat. Bukan malah lebih dari jam tujuh. “Kenapa lambat banget sih?” Gia sudah dalam mode induk singa. “Maaf ma, jalanan macet. Lagian cuma telat tiga menit kalau mama tidak mengomel lagi.” apa yang di ucapkan Zein memang benar. Gia segera membawa Hyra masuk ke dalam restoran. Di sana sudah ada dua orang tua yang menunggu Hyra selain papanya. Kemungkinan besar, mereka adalah calon mertua dari Hyra. “Maaf, telat. Loh, mana ini yang cowok?” tanya Gia yang tadinya sudah melihat cowok yang menurutnya sangattampan dan cocok untuk putrinya. “Masih ke toilet, tunggu sebentar.” Kata seorang wanita yang tak beda jauh dengan Gia, mungkin itu ibu dari cowok yang akan di jodohkan dengan Hyra. Hyra duduk di tengah-tengah orang tuanya. Dia sedikit malu, biar bagaimana pun dia bertemu dengan calon mertua. Di antara mereka berempat, keluarga calon mertua Hyra tak henti memuji kecantikan dan kesopanan sang calon menantu. Di tengah keseruan memuji Hyra yang juga memiliki IQ di atass kedua kakaknya. Sesosok pemuda datang dengan satu piring es krim yang langsung di sajikan di depan Hyra. Terkejut, siapa orang yang sok kenal dengan memberikan es krim vanilla padanya. Hyra tanpa di komando pun langsung menoleh ke arah orang tersebut. “Kak Egi?” takut dan juga tak tau harus berkata apa. Hyra jelas takut jika kedua orang tuanya mengetahui persaannya pada lelaki ini. Tapi, bagaimana kakak kelasnya ini tau? “Ya, ini yang aku bilang traktir kamu es krim. Kemarin kan kamu menyuruhku pulang duluan.” Kata Egi. “Tapi….” Hyra masih kebingungan namun melihat para orang tua senyum-senyum gemas. “Kalian sudah saling kenal, rupanya. Pantas saja Egi tidak menolak pas di jodohkan dengan anak kamu, jeng.” wanita yang bisa di artikan sebagai ibu Egi itu seakan membuka tabir kebingungan Hyra. Mendengar apa yang di katakan oleh ibu itu, sebenarnya Hyra sangat bahagia. Hatinya berbunga-bunga, ingin rasanya dia terbang saat ini juga. Tapi dia harus menahannya lagi ssesaat. Bukan apa-apa, itu semua karena tingkah Hyra tadi pagi juga. Dia sudah sok-sokan menampik rassa cemburunya pada sosok di depan Hyra yang sejak tadi terus menatapnya. Senyum lelaki pemikat hati Hyra sungguh manis sekali. Dan yang lebih membuat Hyra tak bisa berbuat apa-apa adalah senyuman ini teruntuk dirinya. Oh Tuhan, seandainya ini hanya sebuah mimpi di siang bolong. Hyra tidak ingin segera terbangun dengan kenyataan yang berbanding terbalik. Dari sudut pandang Egi, Hyra sungguh sangat lucu dan semakin imut. Bagaimana tidak, dia terus menundukkan kepala. Mengulum senyum yang biasanya akan tertuju padanya secara terang-terangan di sekolah. Percayalah, kecentilan dan keberanian Hyra menggoda dirinya. Hanya ada di sekolah, dan gadis ini cukup punya sisi tergemas bagi Egi. Sisi yang ingin di lihat ada di diri Hyra sejak awal dia menyadari jika dia juga memiliki rasa yang sama dengannya. “Senyum saja terus, sampai gigi kamu kering!” dari sisi belakang, Zein, orang yang mengantar Hyra melihat tingkah keduanya pun menjadi jijik sendiri. “Egi, kamu memang sahabat aku. Tapi, kalau sampai adikku tergores sedikit saja dan mengeluarkan air mata setetes saja. Ingat, bukan hanya kamu yang akan aku hancurkan. Keluargamu juga akan ikut menanggungnya.” Terdengar mengerikan sekali, bukan? Tapi memang seperti itu kerasnya keluarga Husain. Apa yang di katakan Zein sudah mewakili Abim, jadi dia tidak menghentikan putranya. Ini semua bentuk penjagaan darinya yang menurun langsung pada adiknya. Ya, bisa kita lihat dulu yang dia lakukan pada adik iparnya. Menjaganya hingga sang adik ipar berakhir dalam bahtera rumah tangga dengan dirinya. “Iya, janji.” kata Egi menyalami Zein sebagai bentuk perjanjian mereka. “Panggil aku abang, dia adikku.” kata Zein mulai mendominasi. “Hmmm, ya kakak ipar.” Kata Egi sembari menghembuskan napas besarnya. Semua yang menyaksikan perjanjian itu pun merassa gemas dengan cara Zein melindungi Hyra. Gadis cantik kesayangan keluarga Husain, tidak berlebihan juga kalau semua mengatakan jika Hyra adalah putri emas. Karena keluarga memang memperlakukan Hyra sselayaknya berlian yang sangat berharga. Dan, untuk mendapatkan Hyra sebagai menantu juga tidaklah mudah. Hyra dan Egi di jodohkan, mungkin orang akan mengatakan ini pernikahan bisnis. Tapi kenyataannya, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Perjodohan ini murni permintaan Egi, bisa di katakan ini lamaran kejutan. Ketimbang perjodohan, karena selain permintaan sang cowok, mereka berdua juga memiliki perasaan yang sama. Malam ini berjalan lancar, makan malam dan juga tukar cincinnya. Ini part yang tak di inginkan oleh Hyra. Kenapa? Karena Hyra memiliki ekpektasi yang lsama dengan para gadis lainnya. Seperti sosok Egi yang melamarnya di tengah lapangan dengan seikat bunga di depan teman-temannya. Atau yang lebih romantis, mengajaknya makan malam dan meletakkan cincin di cake atau dessert di piring Hyra. Seperti memberi kejutan yang sangat luar biasa di makan malam itu. Bukan seperti ini, tukar cincin di hadapan kedua orang tua. Yang bahkan, cincin itu tidak di tunjukkan atau tidak yang Hyra impikan sebelumnya. Cincin yang Egi berikan ini adalah cincin bertahtakan berlian hijau warisan leluhurnya. Jika sudah berkata warisan leluhur, seharusnya itu cincin jadul. Tapi ini tidak, cincinnya cantik. Cincin simpel bermata satu yang cukup besar. Yang tidak di sukai Hyra hanya cara Egi melamarnya. Itu tidak memenuhi keinginan Hyra saja yang sudah berekpektasi sangat tinggi sebagai seorang gadis belia yang menyukai hal romantis. “Sepertinya gadis cantik ini masih kurang suka, apa cincinnya tidak bagus?” tanya ibu yang sudah di kenal Hyra sebagai Gita Elenior. “Tidak, tante. Tapi Hyra mau di lamar kak Egi yang romantis, minimal cincinnya di letakkan di es krim ini kek. Atau apa…” sungut Hyra yang malah membuat keluarga itu tertawa. Keinginan Hyra ini membuat orang-orang sadar. Orang pintar dan mencintai sains itu juga mengharapkan keromantisan. Bukan yang simpel dan dadakan begini. Ini pelajaran baru untuk memahami Hyra bagi Egi kedepannya. “Hais, gitu saja di permasalahkan. Apa kamu mau di gagalkan perjodohan ini….” “Mulutmu kak, ya janganlah. Asal sama kak Egi mah aku oke kok, sini cincinmu kak Egi aku pasang.” Hyra buru-buru memasang cincin turunan juga di tangan Egi. “Bucin aja, kok nawar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN