Hari ini mereka libur sekolah. Hari ini pula mereka bertiga di tinggal oleh orang tuanya perjalanan bisnis. Hyra baru tau saat dia baru bangun tadi. Dan dia tak melihat makanan yang di sukai ada di meja makan. Zein lagi merapikan pekerjaan yang di tinggalkan oleh ayahnya.
Zeinlah orang yang selalu menggantikan Abim jika dalam perjalanan bisnis seperti saat ini. Sedangkan Andra, dia ddi tugaskan untuk menyiapkan keperluan Hyra dan yang lainnya. Seperti sekarang, dia tengah ke passar untuk belanja.
“Kakak, aku laper banget.” Kata Hyra sambil memegangi perutnya. Persis seperti dia saat masih kecil.
“Sabar, lagian ini ada makanan. Kamunya yang enggak mau .” Zein masih fokus pada layar laptopnya.
“Ih, kok enggak tanggung jawab sekali sih. Kakak itu kakak pertama lo, lihat ini adik kecilmu kelaparan. Masa masih pentingin kerjaan sih.” Hyra menutup laptop kakaknya dengan paksa.
“Nih, makan!” Andra dengan sengaja melempar sayuran hijau pada adiknya.
“Iyuh, ini jorok. Banyak kumannya.” Hyra langsung terlonjak menjauhi sayuran hijau itu.
Baginya, sayur hujau dar passar adalah sarang dari bakteri dan virus. Padahal dia sangat menyukai makanan berdaun hijau ini. Katanya sehat, namun tetap memiliki dua sisi yang saling berlawanan jika sudah matang dengan masih mentah.
Andra dan Zein hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya. Dia ssangat lucu, takut pada sayur hijau hanya karena bakteri. Tapi dia bahkan ssangat menyukai saat menganatomi kodok.
Di tengah kekacauan dapur karena Hyra dan kedua kakaknya yang bercanda. Tiba-tiba da seorang lelaki dingin masuk tanpa permisi ke dalam rumah dan menyaksikan betapa konyol Hyra yang ketakutan akan sayur hijau.
Hyra naik ke atas meja kayu di dapur, dia masih mengenakan kaos milik Andradan celana pendek. Sedangkan Zein sudah mengenakan baju formalnya karena memang dia tengah bekerja awalnya. Tapi di kacaukan oleh Hyra yang terus merengek kelaparan. Kalau Andra sendiri jangan di tanya. Dia sudah rapi dan tampan, karena dia habis menggoda dagang sayurdi pasar.
“Kalian sedang apa?” tanya Egi dengan tatapan bingungnya.
Hyra, dia yang memegang sutil kayu untuk melawan kedua kakaknya, turun perlahan. Dia juga terlihat sepert seekor tikus yang tertangkap basah mencuri keju.
“Oh, kami sedang berwisata masa kecil. Kamu sendiri ada apa datang ke sini?” pertanyaan Zein berakhir tepat saat Hyra hendak melewati Egi.
“Aku ada urusan dengan Hyra.” Egi mencekal lengan Hyra dengan kuat dan erat.
“Aku? Ada apa?” Hyra menunjuk pada hidungnya sendiri. Ini sangat aneh, bahkan bisa di katakan jika ini adalah kejadian langka. Perlukah di abadikan? Sudah pasti dan jelas di abadikan oleh kedua kakak laknatnya.
Diam-diam dan transparan Zein juga Andra memvideokan kejadian langka ini. Di abadikan ssebagai momentum paling langka di dunia. Di mana Egi yang mencari Hyra lebih dulu, bukan sebaliknya.
“Apa kamu tidak merasa cemburu, kemarin? Kenapa malah menyuruhku pulang sama Sheila?” pertanyaan yang tak pernah di sangka-sangka sebelumnya.
Zein dan Andra malah melongo mendengar pertanyaan sahabatnya.
Tapi, ada satu yang membuat mereka berdua merassa hal ini memang wajib di abadikan.
“Memang, kamu siapaku? Apa hakku cemburu?”
“Apa? Kamu bahkan tanya apa hakmu? Permainan hati yang cukup hebat, Hyra!” tak ada yang tau apa maksud dari Egi datang dan mengatakan hal itu lalu bergi begitu saja.
Apa salah Hyra di posisi ini? Dia bahkan tidak ingin lagi mengejar cowok dingin yang selalu mengacuhkan dia selama ini. Apa Hyra salah? Seharusnya sih tidak ssalah. Dan Egi bahagia karena Hyra tak bereaksi seperti biasa yang membuatnya tak menyukainya.
Tapi, kenapa dia malah seperti orang kesurupan dan menanyakan soal kecemburan pada Hyra?
“Temenmu kenapa kak? Kehabissan obat?” Hyra terlihat bingung dan biasa saja.
“Yang kenapa itu kamu. Kamu….?”
“Yang jelas aku lapar sekali sekarang. Cepet masak sana.” kata Hyra memotong ucapan kakaknya yang juga melihatnya dengan tatapan aneh.
“Ya, aku masak sekarang. Sekarang kamu mandi dulu sana.”
Hyra sama seperti biasa, dia bahkan tidak terlihat seperti orang yang tengah patah hati. Jika dia gadis normal, dia akan menjadi seorang pujangga cinta dadakan karena Egi kemarin. Tapi lihatlah Hyra, jangankan menjadi pujangga. Membaca buku bahasa indonesia aja dia seperti alergi.
“Kakak kenapa sih? Aku lagi meneliti daun jambu ini. Coba lihat, bakterinya banyak banget.”
“Galaunya orang pintar itu keren ya, meneliti.” kata Andra mengejek adiknya.
“Tapi kamu keren, dek. Membuat seorang Egi tidak bisa tidur semalaman. Menggalau dan menjadi pujangga cinta tersakiti dalam satu kalimat.” Zein menunjukkan status yang di buat oleh Egi ke sosial media.
“Bukankah dia aneh kalau berbuat seperti itu karena aku? Dia sendiri yang mengacuhkan aku. Apa aku cukup murah dengan cemburu pada orang yang tak memiliki perasaan padaku? Cemburuku itu mahal, kakak-kakakku tersayang. Biar dia sendiri yang begitu, terserah. Yang penting aku happy, lagian, siapa dia?”
Benar apa yang di katakan Hyra. Siapa dia?
“Memang turunan langsung dari mama Gia Andaresta, tanjakan langsung dari seorang Abimana Husain. Salut aku sama kamu suhu.” Zein dan Andra bersujut seolah memberi penghormatan pada Hyra.
“Bangunlah wahai kau kakak terlaknat dan bawa ke sini video tadi.” Hyra menyadari apa yang di lakukan oleh kakaknya. Dan dia ingin mengambilnya.
“Ya… sudah jatuh ke tangan nyonya Abimana Husain. Bagaiman dong.” Andra mengatakan dengan nada menyesal namun juga mengejek.
“Tamat riwayatku kakak.” Hyra langsung mencari ponselnya di kamar dan benar saja.
Satu nomor dengan nama pengenal mama cantik sudah menghubunginya sebanyak dua puluh kali selama beberapa jam belakangan.
“Bismillah.” itulah kata yang Hyra katakan sebelum mengangkat telephon dari ibunya.
“Mama cantinya Hyra. Ada apa?” Hyra berlagak tak terjadi apa-apa. Padahal jantungnya seakan sudah hampir jatuh saat mamanya menanyakan kabar dirinya.
“Baik kok ma. Mama, kapan pulang? Masakan kak Zein kualitassnya menurun. Nggak seenak masakan mama.” puji Hyra mencoba mengalihkan pembicaraan dari masalah video jika saja di tanyakan.
“Nanti malam mama dan papa sudah ada di kota. Kamu, jam tujuh malam, mama tunggu di restoran biasa. Suruh kakak mengantarkanmu. Pakai dress hitam yang mama belikan itu.”
Selamat, mamanya tidak menyinggung masalah video.
Tunggu, di restorn? Malam? Apa ini ada hubungannya dengan perjodohan yang di katakan mamanya semalam? Matilah.
Keluar dari mulut buaya masuk mulut singa ini namanya, mah. Beberapa kali bernapas lega, Hyra malah tak menjadi tenang seperti harapannya. Hyra menangis sebisa ia. Bahkan dia juga menjerit-jerit histeris.
“Kamu kenapa?” tanya Zein yang selalu protektif pada Hyra.
“Mama jodohin aku, nanti malam, kak. Huuuuaaaaa.”