Sedih dan bahagia

1109 Kata
Di tengah menikmati es krim di salah satu bangku, datang seorang cewek cantik dan imut.. mungkin jika di bandingkan dengan Hyra, gadis itu tidak ada apa-apanya. Hanya saja, gadis itu terlihat lebih lemah lembut dan sangat lemah. Berbanding terbalik dengan Hyra yang bar-bar dan kuat. Inilah poin kekalahan bagi Hyr dari cewek lain yang identik dengan kata feminim. “Kak Egi, nggak nyangka bisa ketemu di sini.” sapaan pertama sudah membuat Hyr mual dan mau muntah. Manja sekali. “Iya, ini lagi jalan sama teman-teman yang lain.” jawab Egi dengan ramah dan senyum manisnya. Hyra merasa sedikit terganggu dengan itu. Karena selama ini dia berusaha untuk menggoda Egi, seulas senyum pun tak pernah ia dapatkan. Apalagi sapaan ramah seperti yang barusan ia lihat pada cewek lain. Sungguh miris sekali nasib percintaan Hyra. “Ah, apa adik lucu ini juga satu sekolahan dengan kakak? Aku jadi cemburu kalau memang iya. Kakak tidak lupa janji masa kecil, kita kan?” nada yang begitu manja dan imut, siapa saja juga pasti akan langsung tau. Kalau Egi memiliki hubungan khusus dengan gadis cantik yang baru saja datang itu. ‘Apa kamu tidak melihat kalau seragamku ssama dengan mereka? Matamu buta apa rabun?’ itulah kata yang sudah ada di bayangan Zein dan Andra. Karena mereka berdua tau perasaan Hyra pada sahabatnya. Tapi kenyataannya, Hyra hanya duduk diam dan memakan es nya tanpa bersuara. Berbanding terbalik dengan Egi yang sudah terlihat pucat saat ini. Kira-kira, apa yang ada ddi pikiran Egi sampai membuatnya tidak nyaman seperti dia melakukan kesalahan saja. Zein melihat raut wajah Hyra seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup. Dengan kepekaannya, dia menyuruh Egi untuk pulang saja. “Egi, kamu ada janji? Kamu boleh pulang dulu kok.” “Enggak kok, aku sudah janji….” “Aku bisa beli sendiri kak, kakak kalau mau pulang, silakan saja. Masih ada kedua kakak kandungku juga di sini.” jawab Hyra yang seakan tidak membutuhkan Egi sama sekali. Dengan senyum yang begitu manis, Hyra seakan mengusirEgi dari sekitarnya. Egi ssadar dengan apa yang di lakukan Hyra. Dia mendorongnya menjauh, dia tidak bisa sebenarnya. Namun gadis yang belakangan di kenal sebagai Sheila Sahin, putri tersayang dari Jordi Sahin. Menggandeng lengan Egi mesra. Hyra melihat sekilass, dia tidak berata-kata. Dia juga tidak banyak berubah, lebih tidak menunjukkan apa-apa. Zein sedikit sakit hati, Andra merasa patah hati melihat adiknya yang seperti ini. Apa adiknya akan merasakan patah hati untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama? Zein tak memberi adiknya kesempatan untuk memikirkan Egi sekali lagi. Dia menghujani Hyra dengan kasih sayangnya, bahkan Zein memperlakukan Hyra selayaknya kekasih saat di tempat umum. Perhatian, kasih sayang dan juga memanjakan Hyra. “Kak, Hyra tidak apa-apa, kan?” tanya Andra berbisaik. “Selama kita tidak membiarkan dia mengingat Egi, Hyra tidak akan kenapa-kenapa.” Jawaban yang sangat cerdas sekali bagi seorang kakak yang mengidap brother kompleks sindrom. Seharian penuh Hyra di senangkan oleh tiga cowok yang sejak pagi sudah mengelilingi dirinya. Bahkan, kepergian Egi pun tak memberikan efek apa-apa. Gia dan Abim sudah menunggu kepulangan ketiga buah hatinya. Mereka berdua sudah menerima izin ketiganya untuk main ke Mall milik keluarganta. Jadi, Gia dan Abim bisa menyiapkan kejutan untuk putri tersayang mereka. “Ah, itu mereka, bang.” Gia tampak sangat antusias dengan kedatangan ketiga buah hatinya. “Iya, ayo kita sambut.” Gia dan Abim keluar rumah dan menyambut ketiganya. Zein memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk. Zein sudah di kassih tau jika Abim sudah menyiapkan hadiah yang sangat besar untuk sang adik. “Hyra, sini masuk. Mama sama papa menyiapkan hadian untuk kamu.” Abim tidak sabar lagi untuk membawa putri tercintanya ke garasi. Sebuah kotak besar sekali di ikat dengan pita merah yang juga sangat besar. Hyra cukup penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak tersebut. Tak menunggu lama lagi, Hyra segera menarik pita merah dan terbukalah hadiah itu. Sebuah mobil berwarna merah dengan logo huruf B bersayap tak simetris mengisi kotak besar itu. Mobil yang di idamkan Hyra telah ia dapatkan, ssebelum membuktikan diri menjadi juara umum di musim tahun depan. Hyra jelass sangat bahagia dengan hadiah yang ia dapat dari kedua orang tuanya. Di tambah dengan netranya yang menemukan dua benda yang sudah lama ia impikan. Mikroskop dan teleskop bintang. Ini impian yang tidak berani di bayangkan oleh Hyra sebelumnya. “Kenapa curang begini sih? Andra di belikan motor mahal hampir semiliar. Hyra dapat mobil yang harganya milyaran rupiah. Astaga papa, aku masih pakai Ayla. Kenapa ada kesenjangan begini sih? Nggak adil.” Zein menggerutu karena iri dengan kedua adiknya. “Zein, kamu harus bersyukur dong. Bahkan, banyak yang masih jalan kaki untuk ke sekolah. Kamu sudah memakai mobil mewah, bersyukur dong.” Abim mengelus punggung putra bungsunya dan menguatkan ddirinya sebagai putra tertua. “Ma, ini tidak adil sekali.” Adu Zein pada mamanya. “Papa, sudah jangan di godain lagi. Zein, masuk sana.” Gia tidak tega melihat putra tertuanya merajuk tak mendapat hadiah dan harus mengalah dengan kedua adiknya sejak dulu. Zein masuk ke dalam garsi lebih dalam. Dia melihat sebuah mobil yang paling di inginkan olehnya. Sebuah mobil yang berlogo banteng warna silver terlihat sangat elegan berada di garasi rumahnya. “Mama, Papa. Ini buat Zein?” masih tidak percaya, Zein menanyakan pertanyaan konyol pada kedua orang tuanya. “Iya, ini hadiah untuk kamu sudah menggantikan mama dan papa menjaga kedua adikmu yang nakal-nakal ini.” Abim memeluk kedua adik Zein, dan sang kakak memeluk ibunya. Ini adalah kebahagiaan sejati yang membuat Gia menangis di dalam hati. Sebenarnya, di samping mobil Zein ada sebuah mobil yang serupa. Namun di tutup oleh kain hitam sepenuhnya. Mobil itu milik Satya, Abhisatya Husain. Anak tengah dari saudara kembar tiga yang hilang entah kemana. Gia selalu berdoa, agar ada seorang baik hati yang mau menjaga Satya untuknya. Hati ibu yang tidak pernah di ceritakan pada putra putrinya yang lain. Dan perasaan cinta yang hanya bisa di rasakan oleh Abim. “Dia bahagia di sana dengan caranya. Jangan tangisi dia, jangan buat jantungnya nyeri. Sayang, semua sayang pada dia yang jauh di mana. Yakinlah, suatu saat kita akan dapat menemukan anak nakal kita satunya.” bisik Abim yang melihat kaca di dalam bola mata indah milik Gia. “Ya, dia bahagia dengan caranya, bang. Aku menyayangi dia dari jauh, aku mencintai dia dari jauh. Kasih sayangku tidak akan pernah berbeda dengan ketiga anak nakal kita.” Gia meneteskan air mata sedihnya memikirkan Satya. “Mama, Kami akan tetap menjadi anak nakal kalian. Jangan pernah berpikir untuk memisahkan kami.” Kata Hyra yang menyadari jika orng tuanya sangat sedih. “Ya kalian anak nakal kami selamanya. Tapi kamu harus menerima perjodohan besok malam!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN