Ciuman tanpa menyentuh

1153 Kata
“Egi!” “Apa?” “Tuh!” setelah mendengar dan melihat kode yang di berikan oleh Zein. Seketika dia melihat ke arah sampingnya. Seorang asing yang duduk di sampingnya. Dia mengenakan hoodie miliknya dan merebahkan kepalanya miring ke arah dirinya. “Hai babang Egi yang tampan, Hyra yang cantik datang untuk menjadi bidadarimu.” Wajah songong yang membuat Egi jauh lebih kaget. Inilah kelakuan adik dari kedua sahabatnya. “Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Egi berbisik. “Kangen.” Mendengar jawaban simpel Hyra, ingin sekali Egi menggetok kepala gadis ini dengan pensil yang tengah ia pegang. Namun di urungkan niatnya, mengingat gadis ini selain adik dari sahabatnya, dia juga putri tersayang dari pemilik gedung sekolahan ini. “Babang ganteng, Hyra tau jawaban ini.” kata Hyra membuat Egi kehabissan kata-kata. “Aku juga tau. Mendingan kamu kembali ke kelas kamu saja deh, aku paling tidak suka ada murid pembangkan seperti kamu saat ini.” kata Egi pelan agar tak di dengar oleh guru yang tengah menerangkan di depan. “Baiklah, tapi kakak Egi ku tersayang janji dulu. Traktir aku es krim pulang sekolah.” Hyra memberikan kelingkingnya pada Egi. “Hmm.” hanya itu yang di katakan oleh Egi tanpa menyambut janji kelingking Hyra. Dan itu cukup membuat Hyra tak yakin, jadi dia tidak beranjak dari tempat rebahannya. “Tunggu apalagi?” “Janji kelingking dulu lah…” belum selesai berkata, Egi sudah menyambut kelingking Hyra. “Pak, izin ke toilet.” kata Hyra tak memandang kakaknya yang sudah menutup mukanya karena malu. Adiknya ini memang tak pernah membiarkan kakaknya dalam keadaan tenang. Bahkan dalam kelas belajar pun Hyra masih menghantui dirinya. “Ya, cepat kembali.” beruntung sekali guru pengajar ini memiliki masalah penglihatan. Jadi tidak melihat Hyra dengan jelas. Dan itu membuat Andra maupun Zein merasa sedikit lega. “Eh tunggu.” pada saat Hyra sudah hampir mencapai pintu keluar, guru itu kembali berseru. Dan itu cukup membuat Andra dan Zein terpacu adrenalinnya. “Ada apa lagi pak?” tanya Hyra dengan muka polosnya. “Apa kamu murid pindahan? Atau….” “Ha? Bapak salah kenali mungkin, lihat seragam saya, sama kan dengan yang lainnya? Pindahan dari mana? Tapi pak, kalau mau penasaran, bisa nanti saja nggak? Saya beneran kebelet pipis, bapak mau saya ngompol di sini?” Hyra sama sekali tidak memberi kesempatan pada guru itu untuk mengenali dirinya. “Ya sudah sana, inget balik lagi!” Melihat adiknya sudah keluar dari kelas, Andra dan Zein bernapas lega. “Kelakuan adikmu semakin berani. Mak bapakmu dulu ngidam apa sih? belut? Apa kancil? Banyak banget akalnya biar lolos.” ini pertama kali Egi berkomentar akan kenakkalan Hyra. Padahal, Hyra melakukan ini bukan yang pertama. Mungkin karena ini pula, Egi tidak membeiarkan satu orang pun duduk di sampingnya. Ya, egi sudah menyadarinya sejak awal masuk kelas. Siapa lagi yang berani naik kekelas tanpa katrol dan duduk di sampingnya selain Hyra? Andai saja Andra atau Zein tidak memergoki kali ini. Mungkin Hyra bisa lebih lama duduk di sampingnya. Walau berpura-pura tidak mengetahui sejak awal, Egi cukup senang duduk dan diam di samping gadis berisik ini. “Terima saja sudah, Gi. Lagian, Hyra cantik juga.” kali ini, Thomas berkomentar namun tetap di acuhkan oleh Egi dan kedua temannya. Tak ada jawaban, Egi merasa tak memiliki kewajiban untuk menjawab atau menjelaskan. Kembali fokus, Egi mendengarkan pelajaran. Jam berlalu tanpa terasa, akhirnya jam pulang sekolah pun berdering. Zein dan Andra secepat kilat meninggalkan kelas mencari adiknya. Di susul dengan Egi dan Thomas, mereka berempat memang sudah janjian untuk pergi ke Mall. Zein tak mendapati adiknya di dalam kelas, bukan hanya itu. Lisa orang yang sering dekat dengan Hyra pun menanyakan keberadaan sang teman. “Kak, Hyra masih sakit? Maaf ya, gara-gara aku datang bulan, makanya Hyra menggantikanku.” “Hyra tidak masuk? Lantas, kemana dia? Dia tdai masuk kekelas ku, masa nggak balik ke kelas, sih?” Zein, orang paling parno jika menyangkut adiknya pun terlihat sudah panik. “Tenang dulu, kak. Mungkin Hyra di UKS, tau sendiri dia paling males pelajaran bahasa Jepang.” Andra menenangkan kakaknya yang sudah panik. “Kalian nggak usah nyari lagi. Tu anaknya lagi di bawah tiang bendera, palingan ketahuan masuk kelas kita lagi.” Egi dengan santainya menunjuk gedis berisik yang tengah hormat pada tiang bendera. “Astaga, nggak ada kapok-kapoknya kamu ya!” Zein mengomel walau dia datang dengan botol minum yang baru saja merampok dari Egi. “Nggak usah ngomel, siniin minumannya. Aku haus sekali.” Hyra dan Zein tak berpikir panjang. Bagi Zein, memberikan air untuk Hyra adalah hal paling utama. Begitu pun dengan Hyra, minum adalah surga baginya yang sudah kekeringan sejak tadi. Tapi Egi? Dia berusaha menghalangi Hyra meminum botol yang sudah ia minum sebelumnya. “Tunggu, jangan minum it…. Ah… terserah sudah.” Telat, Hyra sudah meminum botol bekas Egi minum. “Emang, kenapa sih? Ketimbang air mineral doang. Memangnya isi guna-guna?” Andra merasa sahabatnya ini sedikit lebay. “Iya, bukannya itu cuma air mineral? Habis ini aku ganti pakek minuman rasa jeruk deh, atau minuman apa pun terserah kamu.” Zein menimpali. “Bukan masalah minumannya.” “Terus? Masalah Hyra? Egi, kamu itu jangan terlalu fanatik deh. Hyra itu juga bukan cewek culun yang jelek dan kudisan. Jadi biarlah dia minum seteguk dua teguk.” Thomas membenarkan apa yang di katakan oleh Zein dan Andra. “Bukan, astaga. Itu bekasku.” kejujuran Egi membuat Zein dan Andra seketika membelalakkan matanya. “Muntahin Hyra, muntahin. Nggak sudi kakak, kamu ciuman dengan Egi dengan cara seperti itu.” Andra memijat tengkuk Hyra dan memaksanya untuk memuntahkan kembali air yang sudah dia minum. “Kakak! Aku bisa mati kalau begini. Lagian, siapa yang ciuman sama kak Egi?! kalaupun benar aku ciuman, nggak mungkin juga di depan kalian. Aneh!” Hyra merasa kedua kakaknya ikutan lebay seperti Egi. Dan itu tidak masuk akal ssekali. “Sudahlah, biarkan saja. Toh, Hyra sendiri juga enggak mempermasalahkannya.” Thomas menutup masalah yang menjadi perdebatan kecil ini. Benar, yang penting Hyra tidak menganggap itu sebagai ciuman. Ya sudah biarkan saja, cuma bekas bibirsaja, nggak ada pengaruhnya. Pikir semuanya, termasuk Egi. Keempat cowok dengan gadis baik dan cantik bergerak menuju ke mall orang tua si kembar. Mereka berlima ingin memanjakan Hyra seharian ini, terutama Zein dan Andra. Kedua abang ini sangat bangga sekali adiknya mampu meraih juara pertama lomba renang. Meskipun mengalami cedera yang tak di inginkan. Tujuan pertama mereka adalah stand es krim. Di mana yang katanya Egi mau mentraktir Hyra. Dengan senang hati, hyra memilih beberapa rasa es untuk di masukkan ke dalam mangkok es miliknya. Benar-benar seorang pecinta es krim, Hyra ini. Bahkan dia memilih empat varian rasa dalam satu mangkoknya. Keempat kakak cowonya memilih rasa Vanilla dan strawberry sebagai pengisi mangkok mereka. Dengan aneka toping, para cowok itu sepertinya memang memiliki cara sendiri untuk menikmati es miliknya. Sangat berbeda dengan Hyra, bukan? Aneka varian rasa tanpa toping, inilah kesukaan Hyra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN