Bab 4 : Pertemuan Kedua

1178 Kata
Nayla POV Beberapa hari yang lalu Salsa menghubungiku agar aku bisa menjadi pembawa acara di yayasan tempatnya bekerja. Aku memang sudah menawarkan bantuan jika memang dia membutuhkan bantuanku. Acara dihadiri dari berbagai kalangan dari orang tua dengan anak-anak autisme, sampai orang umum pun dapat ikut. Acara digelar meriah banyak fun games dengan berbagai hadiah serta berbagai lomba lainnya. Ada beberapa media yang meliput acara tersebut. Aku yang notabene sebagai pembawa acara sebelumnya sudah di briefing oleh Salsa. Untungnya saat kuliah aku ikut ekskul public speaking jadi aku sudah terbiasa bicara dihadapan umum dan gak kaku saat banyak media dan kamera yang meliput. Ditambah lagi,sejak bergabung di klinik Permata Hati aku yang selalu mewakili seminar. "Acara selanjutnya adalah sambutan dari ketua Yayasan Autisme Al Ghifari kepada Bapak Ridwan Ghani Al Ghifari dipersilahkan" Aku menunggu pak Ridwan maju ke depan panggung. Tak lama seorang laki-laki yang sudah aku kenal seminggu yang lalu melangkah ke depan. Dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas warna navy dengan kemeja putih. Senyumnya tak pernah pudar saat acara dimulai hingga saat ini. Untuk beberapa saat kami saling memandang dengan melempar senyum dan aku segera memberikan microphone untuknya. Pembawaan yang hangat dan penyampaian sambutan yang santai membuat semua orang memandang kagum sosok laki-laki di sampingku. Aku akui beberapa hari ini aku memikirkan pak Ridwan. Aku kagum dengan sosoknya. Menjadi ayah yang baik dan bertanggungjawab untuk putranya. Salsa pernah bilang kalau pak Ridwan sudah lama bercerai dengan istrinya. Alasannya, sang istri tidak mau menerima kenyataan bahwa Danar berbeda dengan anak pada umumnya. Aku tidak berani men-judge seseorang karena memang aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang aku tau sosok mas Ridwan adalah ayah yang bertanggungjawab dan sangat sayang pada anaknya. Acara yang digelar dari pagi hari akhirnya selesai hampir pukul 5 sore. Aku segera membantu Salsa membereskan beberapa kursi untuk diletakkan kembali ke dalam ruangan. "Terima kasih ya Nayla" aku menoleh pak Ridwan sudah berasa di sampingku. Dia tersenyum simpul. "Sama-sama pak Ridwan" balasku "Jangan panggil pak kesannya saya sudah tua. Saya baru 32 tahun, panggil mas aja" "Iya pak.. eh mas Ridwan" kataku gugup. Dia tersenyum geli. "Mau pulang?" Tanyanya. "Iya mau nunggu Salsa dulu, tapi dari tadi kok Salsa belum kelihatan lagi ya" kataku menengok ke kanan kiri sambil mencari keberadaan Salsa. Hari ini aku dijemput Salsa jadi tidak membawa mobil. "Lho Salsa baru aja pergi, habis terima telpon dia kayak buru-buru gitu, sepertinya ada urusan mendadak, mungkin dia lupa ngabari kamu" kata mas Ridwan. Aku yang merasa sedikit kecewa karena ditinggal akhirnya hanya tersenyum pasrah. Tak lama masuklah pesan singkat dari Salsa yang mengatakan kalau adiknya masuk rumah sakit makannya buru-buru pergi tanpa memberi kabar. Aku tau dia pasti panik, Salsa juga sudah minta maaf karena tidak bermaksud meninggalkan aku. "Ternyata dek Aska masuk rumah sakit karena tifus makanya langsung pergi tadi" aku menjelaskan pada mas Ridwan. "Mau saya antar pulang?" Tawar mas Ridwan. Sebenarnya aku ingin menolak tapi nanti dianggap tidak sopan. Tetapi aku juga ingin segera pulang ke rumah takut Abah butuh sesuatu. "Kalau mas Ridwan gak repot" balasku. "Ayo nanti kesorean" ajaknya. Aku segera mengikuti mas Ridwan di belakang. Mas Ridwan membukakan pintu mobil untukku. Hari ini aku baru tau kalau mas Ridwan lah pemilik yayasan ini. Dia juga merupakan pengusaha di bidang furniture. Ternyata Ayah mas Ridwan berasal dari Jepara,Jawa Tengah kalau ibunya dari Turki. Makanya wajah mas Ridwan seperti bule. Sangat rupawan dan sedap dipandang. Apalagi badannya yang bagus dengan otot-otot biseps yang tersembunyi dibalik kemeja putihnya. Astaghfirullah mikir apa sih kamu Nayla. Selain meneruskan usaha furniture milik ayahnya, Mas Ridwan juga punya usaha di bidang properti. Banyak gedung-gedung apartemen di Jakarta milik beliau. Mas Ridwan juga memiliki usaha pembangunan perumahan. Usaha furniture-nya juga bukan main-main karena sudah diekspor ke luar negeri. Kualitas furniture dari Jepara tidak diragukan lagi. Kayu jati merupakan bahan utama terbaik dalam pembuatan furniture. Karena jenis kayu jati yang tahan lama dari berbagai kondisi dan cuaca. Jadi bisa dikatakan mas Ridwan termasuk salah satu kategori sultan-isme di Jakarta. "Mau mampir dulu Nay?" Tanya mas Ridwan yang memecah kesunyian diantara kami berdua. "Mampir kemana mas?" Balasku bingung. "Kamu gak laper? kita makan diluar mau gak? Soalnya tadi siang belum sempat makan, karena tadi bawa pulang Danar dulu, terus balik lagi ke venue" kata mas Ridwan. Memang hari ini kulihat mas Danar sibuk ke sana sini menerima banyak tamu. Memantau dan mengecek satu persatu. Saking sibuknya sampai lupa makan. "Aku tau mas sibuk tapi jangan sampai lupa makan" Selepas mengatakan hal itu ia menoleh ke arahku seperti kaget atas ucapan ku. aku juga tidak sadar telah mengatakan hal itu. Takut mas Ridwan salah paham. "Maaf mas" aku menunduk malu "Gak apa-apa Nay. Aku juga yang salah melewatkan makan. Makasih ya kamu udah ngingetin aku" balas mas Ridwan sambil tersenyum tulus. Akhirnya kami berdua makan disoto langganan mas Ridwan. Jadi meskipun wajah bule tapi selera makanan indonesia. Akhirnya mobil mas Ridwan sampai di depan rumahku. "Terima kasih ya mas udah nganterin aku. terima kasih juga traktirannya. Mas Ridwan mau mampir?" Tanyaku "Boleh saya mampir sebentar ketemu Abah?" "Boleh,mari mas" akhirnya aku mempersilahkan mas Ridwan untuk masuk ke rumah. Abah yang ternyata sedang duduk diruang tamu kaget karena kedatangan tamu seorang laki-laki. Pasalnya Nayla memang tidak pernah membawa teman laki-lakinya kecuali Adrian. "Assalamualaikum Abah perkenalkan nama saya Ridwan,mohon maaf tadi mampir makan dulu jadi Nayla pulang agak terlambat" Abah yang mendengar perkataan mas Ridwan tersenyum. "Gak apa-apa nak Ridwan" jawab Abah. Aku yang dari belakang membawa dua cangkir teh manis hangat dan kue lapis mendekat ke mas Ridwan dan Abah. "Silahkan diminum dulu mas" tawarku ke mas Ridwan. "Terima kasih " jawab mas Ridwan. "Abah kalau boleh insyallah hari Sabtu depan saya akan kemari bersama keluarga untuk melamar Nayla" pernyataan mas Ridwan sontak membuatku kaget dan langsung melihat kearahnya. "Saya ingin menikahi Nayla tapi saya mau jujur sama Abah, kalau saya ini pernah menikah dan status saya duda beranak satu dan anak saya berbeda dengan anak yang lainnya" ada jeda dari kata-kata mas Ridwan "Mungkin Abah ragu terhadap saya tapi saya berjanji untuk membahagiakan dan membimbing Nayla" ujar mas Ridwan. Abah serius mendengar perkataan laki-laki didepannya. Setelah itu Abah tersenyum "Abah setuju saja asal Nayla juga setuju, Abah tidak masalah dengan status kamu, bagi Abah asal kamu bisa membimbing Nayla dan menyayangi Nayla Abah akan selalu mendukung" jawab Abah. "Sekarang jawaban kamu apa nduk?" Tanya Abah. Aku yang bingung sontak melihat ke arah mas Ridwan dan Abah masing-masing. Mas Ridwan yang paham akan kegelisahanku akhirnya angkat bicara. "Tidak perlu terburu-buru Nay. saya akan tunggu apapun jawaban dari kamu. Mungkin kamu perlu waktu untuk memikirkannya" "Terima kasih mas" aku yang masih bimbang akhirnya memilih masuk ke dalam kamar. Aku perlu mencerna semua ini. Mas Ridwan baru pulang selepas sholat isya bersama Abah di masjid. Sepertinya banyak hal yang diperbincangkan keduanya. Aku hanya melihat kepergian mas Ridwan dari lantai 2 kamar tidurku. Jam menunjukkan pukul 10 malam tapi aku masih belum bisa tidur. Mataku seakan tidak bisa terpejam. Pikiranku berkecamuk. Aku segera mengirim pesan kepada Salsa perihal masalah tadi sore. Besok ia menyuruhku menemuinya dirumah sakit sekalian menjenguk Aska.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN