Bab 3: Meminta Bantuan

819 Kata
Ridwan POV Nayla Persada Utami Nama gadis yang membuat hatiku berdebar. Selama dua tahun ini aku hanya mampu mengagumi dari jauh. Pertama kali melihatnya saja sudah membuatku jatuh cinta. Mungkin kalian berpikir kenapa aku tidak berani mengutarakan perasaanku dan hanya memendamnya selama ini, jawabannya karena ingin menunggu waktu yang tepat. Bukan karena trauma masa laluku dengan mantan istriku. Aku sudah melupakan dan mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi. Salsa yang merupakan sahabat dan saudara jauhku berulang kali mengatakan kepadaku untuk segera menyatakan perasaan yang sejujurnya kepada Nayla. Salsa tau kalau aku jatuh cinta pada Nayla. Bahkan dia berusaha untuk mempertemukan aku dengan Nayla. Contohnya seperti kemarin, saat Salsa pamit makan siang dan sholat, dia selalu memberi ruang untukku dan Nayla agar hubungan kami semakin dekat. Tentu saja Nayla tidak tahu. Awal mula kami bertemu saat dia berkunjung di yayasan ini dua tahun silam. Saat itu aku hendak masuk untuk menjemput Danar pulang. Saat akan masuk ke kelas terapi aku melihat seorang gadis cantik berjilbab yang sedang membantu merapikan ruangan. Sesekali dia menengok ke arah Danar yang saat itu mulai belajar berjalan. Ketika Danar hampir kehilangan keseimbangan Nayla langsung berlari memeluk tubuh mungil Danar. Aku yang melihat hal tersebut terharu karena gadis itu tampak menyayangi putraku dengan tulus. Semenjak saat itu aku mulai mencari tahu tentang gadis yang sering kali berkunjung di yayasan ini. Saat itu,dia baru saja lulus dari fakultas kedokteran dan baru bekerja di sebuah klinik milik sahabatnya- Adrian. Aku sangat kenal Adrian karena dia tunangan Salsa dan juga sering mampir kesini. Sebenarnya aku ingin menghampiri atau sekedar berobat di klinik tempat Nayla kerja tapi aku tidak cukup berani. Aku hanya mampu mengamati dari jauh. "Mas,kapan sih kamu berani mengatakan sejujurnya sama Nayla? Jangan besok-besok aja, tau-tau nanti dia dilamar orang lain gimana?" Ucap Salsa. Aku tidak sanggup membayangkan Nayla dilamar dan bersanding dengan orang lain. Aku bisa patah hati maksimal jika itu terjadi. "Aku mesti gimana Sal? Apa aku langsung ketemu sama abahnya aja ya Sal?" Ujarku "Ya kalau mas Ridwan udah yakin ya Monggo,langsung ketemu Abah aja, tapi takutnya Nayla kaget karena tiba-tiba di lamar gimana?" Benar juga kata Salsa. Kalau tiba-tiba aku datang terus melamar Nayla tanpa tau apa-apa, bisa-bisa ia kena shock therapy. Aku sudah bukan abege, umurku sekarang 32 tahun. Statusku juga duda dan memiliki buntut. Saat ini aku mencari istri bukan mencari pacar hanya untuk bersenang-senang. Apalagi Nayla bukan termasuk orang yang ingin berpacaran. Jika dengan mantan istriku dulu, kami sempat pacaran 1 tahun baru memutuskan menikah. Aku ingin Nayla langsung jadi istriku saja, baru kita mau pacaran atau apapun bisa dilakukan setelah menikah. "Lagi pula nunggu apa lagi sih mas?" Ada nada kesal dalam ucapan Salsa " Nunggu waktu yang tepat" jawabku "Dan kapan waktu yang tepat itu,Ini udah dua tahun ya mas. Masak gak ada peningkatan sih. Aku gak mau kalau nanti mas menyesal terus curhat galau sama aku ya" kata Salsa. Ya, aku memang sering curhat dengan Salsa perihal Nayla dan aku tau tentang cerita masa lalu Nayla dengan sahabatnya Rayhan. Rayhan Setyo Aji anak om Aji Dharma pengusaha sukses. Aku kenal dengan om Aji karena beberapa kali kami pernah menjalin kerjasama. Beliau juga teman ayahku. Kalau Rayhan sendiri aku pernah bertemu sekali saat dia baru lulus SMA. Sampai saat ini aku belum pernah bertemu lagi. "Mungkin setelah acara pekan autisme aku akan ke rumah Abah Nayla untuk bicara terlebih dahulu perihal niatku, kalau Abah dan Nayla oke, lanjut lamaran" jawabku. Beberapa hari lagi akan ada pekan autisme seluruh Indonesia yang akan diselenggarakan di yayasan ini. Yayasan yang sudah aku bangun selama 5 tahun. Saat aku tahu putraku spesial aku bertekad untuk mendirikan yayasan ini. Lagipula banyak juga anak-anak yang mengalami hal yang sama seperti Danar tapi tidak seberuntung putraku. Makanya aku mendirikan yayasan Non-profit untuk membantu anak-anak yang orang tuanya kurang mampu mengobati anak autis seperti Danar. Sekali terapi untuk anak autis tidaklah murah karena itu dengan adanya yayasan ini aku ingin semua anak diberikan kesempatan dan belajar bersama. Danar juga akan memiliki banyak teman yang sama seperti dirinya sehingga dia tidak merasa sedih. "Aku undang Nayla boleh ya mas?" Kata Salsa "Boleh,memang Nayla mau ikut acara ini" "Ya mau lah mas, dia malah menawarkan bantuan untuk acara besok. Apa Nayla aku suruh jadi pembawa acara aja ya mas" ya aku tau Nayla gadis baik dan tulus dia selalu membantu kalau ada acara di yayasan ini. "Kalau Nayla gak keberatan sih gak apa-apa Sal" jawabku. "Oke mas,.kamu gak coba untuk menghubungi Nayla" kata Salsa "Kamu aja ya Sal" ujarku. aku bukan tipe orang yang akan berbasa basi mengirim pesan "hai" atau "assalamualaikum" seperti remaja labil jadi akan sangat akward kalau tiba-tiba mengirim pesan seperti itu kepada Nayla. Kecuali jika status Nayla sudah berubah menjadi istriku. Padahal hampir setiap hari aku akan berusaha menghubungi Nayla. tapi selalu aku urungkan. Tentu saja aku sudah tau nomor pribadinya dari Salsa. Semua informasi tentang Nayla aku tau dari Salsa- yang merupakan Sumber PA1.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN