Part 18 : Kesabaran

1182 Kata
Sudah hampir 6 bulan Fauzan dan Nayla menikah. Kehidupan pasangan ini semakin harmonis saja. Bukan berarti mereka tidak pernah ada masalah. Setiap dapur rumah tangga pasti pernah di bumbui perkara kecil. Misalnya Fauzan yang terlalu sibuk sehingga tidak banyak memiliki waktu luang bersama anak-anak. Tapi selalu ada solusi dalam setiap masalah yang mereka hadapi. Jika Fauzan yang sibuk maka Nayla mengingatkannya, begitupun sebaliknya. Salah satu solusinya yaitu komunikasi dan saling terbuka satu sama lain. Meskipun sudah menikah dengan Fauzan. Nayla tetap menempati rumah milik Ridwan. Bukan karena tidak mau pindah dari rumah itu, tapi kasihan anak-anak jika harus berpindah-pindah. Fauzan tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Toh kalaupun Nayla dan anak-anak pindah ke apartemen Fauzan, lalu rumah ini akan kosong. Apartemen Fauzan juga tidak begitu besar jadi ia sangat mempertimbangkan kenyamanan anak-anak. Kecuali kalau ia dan Nayla butuh "privasi" maka mereka kadang kala pergi ke apartemen Fauzan. Agar mendapatkan suasana yang berbeda. Saat ini Fauzan dan Nayla tengah menghadiri undangan acara pertunangan salah satu keluarga Fauzan. Ia bertemu dengan keluarga besar Fauzan yang ada di Jakarta. Ibu dan ayah tidak bisa datang dari Jepara karena mereka juga menghadiri acara pernikahan sanak keluarga di sana. "Dek, ini kenalin pakde Sapto dan budhe Harti orang tua Hana" ucap Fauzan yang memperkenalkan pasangan paruh baya kepada Nayla. Ini adalah pertunangan Hana dan Zain. "Nayla, budhe" ucap Nayla mengulurkan tangan sopan. "Terima kasih ya sudah mau datang ke acara pertunangan anak budhe, maaf kemarin pas nikahan kalian budhe dan pakde tidak bisa datang" kata budhe Harti. "Silahkan ya dinikmati makanannya budhe mau menyapa yang lain" "Iya budhe" jawab Fauzan. "Mas aku mau ke sana dulu, ambilin makan buat kamu" "Oke dek" Nayla segera menuju stan makanan dan minuman. Tiba-tiba ada dua orang wanita setengah baya yang menghampirinya. Kalau tidak salah namanya budhe Sri dan budhe Rukmini. Tadi Nayla sudah dikenalkan keluarga besar Fauzan yang ada di Jakarta. Saat menikah dengan Ridwan, ia mungkin pernah bertemu, tapi Nayla lupa, karena saat acara resepsi ia banyak menyapa dan menyalami banyak orang. "Nayla ya, selamat ya atas pernikahannya, maaf kami tidak datang soalnya tidak diundang" celetuk budhe Rukmini menyindir Nayla. "Maaf budhe, acara pernikahan kami hanya sederhana saja, jadi tidak mengundang banyak orang" jawab Nayla berusaha untuk tenang. "Ya masak sama saudaranya gak diundang, apa jangan-jangan Fauzan malu punya istri kamu makanya gak ngundang-ngundang" ucap budhe Sri terang-terangan. "Budhe kasian sama Fauzan, mau-maunya punya istri bekas kakaknya, kalau saya jadi orang tuanya Fauzan tentu saja akan saya nikahkan dengan gadis yang masih perawan" hati Nayla sangat sakit mendengar perkataan budhe Sri. Bahkan Nayla air mata Nayla hampir saja turun. Tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya. "Maaf budhe, tapi memang mas Fauzan memilih saya menjadi pendamping hidupnya, berulang kali saya menyuruh mas Fauzan memilih wanita lain, tapi dia tidak mau dan lebih memilih saya" balas Nayla tajam. Budhe Sri dan budhe Rukmini merasa jengkel dengan ucapan Nayla. "Kamu jangan sombong dulu, kamu udah nikah 6 bulan tapi belum hamil juga, jangan-jangan kamu mandul" sindir budhe Rukmini. "Janda aja tapi lagaknya udah kayak ratu" Nayla sudah tidak sanggup lagi mendengarkan kata-kata dua orang didepannya. Kalau saja ia tidak diajari sopan santun oleh Abah dan uminya tentu ia akan menyiram kedua manusia didepannya dengan air kobokan. Tapi ia lebih memilih diam atau pergi kemana saja. Ia terima segala makian dan cacian dari keluarga besar Fauzan. Karena memang statusnya janda dari almarhum kakak Fauzan. Apa salahnya Fauzan menikahi janda? Toh ia bahagia saja bersama Nayla? Fauzan tidak pernah mempermasalahkan status Nayla. Kenapa mereka yang repot dan selalu menjadi komentator hidupnya. Baru saja ia hendak pergi Fauzan mencekal tangan Nayla. Ia tersenyum miris melihat Nayla yang sudah menitikan air mata. Sebenarnya Fauzan dari jauh sudah mengamati interaksi Nayla dengan budhe-budhenya. *** "Eh bro, selamat ya atas pernikahan Lo, maaf gue gak bisa dateng, kebetulan ada acara di Blitar, di rumah mertua gue" kata Budi sepupu jauh Fauzan. Budi cukup dekat dengan Fauzan. Umur mereka tidak terpaut jauh. Mereka sering bertemu saat ada acara keluarga besar seperti saat ini. "Santai aja bang, yang penting doanya" ucap Fauzan. "Gimana rasanya nikah? Asyik gak?" Tanya Budi. Budi memang termasuk orang yang blak-blakan. "Alhamdulillah Asyik mas" aku Fauzan jujur sambil tersenyum. "Dari roman-romannya, hampir tiap hari kejar setoran mulu nih" sindir Budi. "Hehe kan udah halal bang, jadi bebas dong" balas Fauzan. "Iyelah, bini cakep gitu gak boleh di anggurin sayang-sayang" Fauzan hanya terkekeh mendengar ucapan Budi yang teramat jujur. "Eh bini Lo kayaknya gak nyaman banget sama budhe Sri dan budhe Rukmini, samperin gih, Lo kan tau dua orang itu demen banget usilin orang lain" Fauzan mencari keberadaan Nayla. Ia mengikuti arah yang ditunjukkan Budi padanya. Nayla sedang berada di stan makanan bersama kedua budhenya. Dari ekspresi wajah Nayla menunjukkan ketidaknyamanan. Fauzan segera pamit "Kesana dulu ya bang". Fauzan mendengarkan setiap pembicaraan Nayla dan budhenya. Ini sudah sangat keterlaluan. Fauzan langsung menghampiri Nayla yang baru akan pergi, ia mencekal tangan Nayla dan membawanya ke kedua budhenya masih setiap menatap mereka. "Maaf budhe, saya sangat mencintai istri saya meskipun status istri saya janda atau apapun itu. Kalaupun kami belum dikaruniai anak hingga saat ini, mungkin Allah masih ingin kami menikmati waktu berdua. Lagipula kami sudah memiliki dua anak. Jadi budhe-budhe tidak perlu cemas dan khawatir pada kehidupan kami. Kami selalu bahagia dan akan tetap bahagia apapun yang terjadi" ucap Fauzan tenang. Kedua budhe Fauzan terkejut mendengar ucapan Fauzan. Mereka merasa dipermalukan oleh Fauzan didepan umum. Bahkan banyak orang yang mulai berbisik-bisik melihat mereka berempat. "Mas aku mau pulang" ucap Nayla setelah sekian lama diam. "Ayo kita pulang, pamit dulu ya budhe" kata Fauzan seraya pergi meninggalkan kedua orang yang masih diam. *** "Maaf ya dek, harusnya kita gak usah dateng ke acara itu, harusnya kita dirumah aja sama anak-anak" ucap Fauzan saat sudah didalam mobil. Fauzan merasa sangat bersalah melihat Nayla yang terlihat sedih. "Bukan salah mas kok" balas Nayla. "Aku gak tau kalau kejadiannya bakal gini" "Udah lah mas, aku beneran gak apa-apa" "Kamu mau makan ice cream ?" Tawar Fauzan. "Kenapa ice cream?" Tanya Nayla. "Biasanya kalau perempuan lagi sedih atau marah mereka suka makan yang manis-manis supaya moodnya ceria lagi" kata Fauzan. Nayla hanya tertawa kecil. Nayla tau Fauzan mengkhawatirkan dirinya. Ia bermaksud menghibur Nayla dengan mengajaknya makan ice cream. "Boleh, aku lagi mau kepengen ice cream matcha" jawab Nayla. "Dek, kamu gak usah dengerin omongan orang-orang tentang kita yang belum diberikan anak sampai saat ini, aku pun gak begitu memusingkan tentang masalah anak toh kita udah punya Danar dan Mira, kamu jangan sedih" "Bohong kalau aku gak sedih mas, aku juga kepikiran kenapa aku belum hamil juga" aku Nayla jujur. "Itu tandanya kita masih disuruh berusaha terus dek, jadi nanti malam mau kan?" "Mau apa?" Pancing Nayla. Fauzan mengerlingkan matanya dan berkata " Mau usaha lagi dong biar cepet jadi hehe" jawab Fauzan tertawa geli. Nayla mencubit perut sang suami. Bisa-bisanya Fauzan menggoda Nayla. "Pipi kamu merah banget dek, gemes banget aku" kata Fauzan membelai pipi Nayla. Jujur saja pipi Nayla sudah seperti udang rebus."Kita mampir dulu ke apartemen ya dek, udah gak tahan mau nunggu nanti malam" ucap Fauzan semakin membuat Nayla salah tingkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN